Kamis 30 Januari 2020, 07:30 WIB

BRG Bangun 19 Ribu Infrastruktur Pembasahan Gambut

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
BRG Bangun 19 Ribu Infrastruktur Pembasahan Gambut

ANTARA/Rony Muharrman
Pertugas Manggala Agni Daops Pekanbaru menyemprotkan air ke lahan gambut yang terbakar.

 

BADAN Restorasi Gambut (BRG) masih memiliki pekerjaan rumah merestorasi sekitar 120.000 hektare hutan dan lahan gambut pada 2020. Termasuk menyiapkan sejumlah mekanisme untuk mengantisipasi kebakaran gambut di 2020. Salah satunya, dengan membangun 19 ribu unit infrastruktur untuk merekayasa pembasahan dan penanganan kebakaran di lahan gambut.

"Masih tetap, total kita sudah bangun 19 ribu unit. Semuanya termasuk yang kanal ditutup. Jadi total tuh ada 19 ribu sekian hingga akhir 2019 walaupun jumlahnya tidak bisa terlalu banyak tetapi alhamdulillah dibantu PUPR menganggarkan anggaran lumayan," kata Kepala BRG Nazir Foead dalam diskusi publik Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan 2020 di Jakarta, Rabu (29/1)

Menurutnya, infrastruktur untuk pembasahan gambut itu terdiri dari sumur bor dan sekat kanal yang dimulai sejak 2019 lalu.

Baca juga: BRG Masih Punya PR Restorasi 120 Ribu HA Lahan Gambut

Oleh karena itu, pembasahan lahan gambut juga bukan semata tanggung jawab BRG dan pemerintah.

"Jadi nanti pembasahannya tidak lagi parsial tentunya pemangku kepentingan dan pengusaha harus ikut di dalamnya dan ikut pembasahan bersama," sebutnya.

"Ini sedang dirancang, terutama untuk Riau karena Riau wilayah rawan. Jadi sedang dirancang dan tim sedang cek sekat-sekat mana saja yang harus dibangun," lanjutnya.

Upaya pembasahan gambut ini, kata Nazir, juga harus melibatkan pihak swasta. Makanya ia berharap pengusaha membuat rencana pemulihan di lahan masing-masing.

"Mereka kan membuat rencana pemulihan diserahkan ke KLHK, nanti ketika per ekosistem keluarnya Permen kemarin itu kemungkinan saja saya melihat harus ada penyesuaian pemulihan perusahaan," paparnya.

Dia menambahkan, selain rekayasa pembasahan lahan gambut, mekanisme antisipasi kebakaran gambut bisa dilakukan dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) melalui operasi rekayasa hujan buatan yang disesuaikan saat musim kemarau.

"Itu kan tergantung musim kemarau, kalau Februari-Maret ini kemarau sudah ada ya. Tapi sih saya perkirakan yang banyak (kemarau) pada Juli," ujarnya.

Selanjutnya, BRG akan memantau lahan gambut melalui sistem Peatlans Restoration Information Monitoring System (PRIMS) yang terhubung dengan satelit Lapan.

"Tadi kita harus memantau betul-betul dari Lapan setiap minggu ada citra satelit. Kita harus melihat mana saja indikasi ada pembukaan baru, karena bukaan (lahan) baru ini biasanya akan dibakar saat kemarau. Nah ini jangan sampai dibakar, sambil melihat perkiraan BMKG perkiraan hujan," pungkas Nazir.

Dia tidak memungkiri adanya kendala, yakni banyaknya lahan-lahan gambut yang sudah terlanjur berizin dan tak boleh dikelola untuk urusan konservasi, sehingga upaya restorasinya harus terkoneksi karena tata airnya harus dioptimalkan.

Sebelumnya, BRG menyebut luas kawasan hutan dan lahan gambut budi daya dan konservasi yang sudah dibasahkan sudah mencapai 780.000 ha lebih, dari target 900.000 sekian.

"Jadi masih ada sekitar 120.000 hektare PR tahun 2020," kata Nazir.

Selain itu, BRG berkoordinasi dan bekerja sama dengan perusahaan yang mendapat izin sah di lahan gambut dan Kementerian Pertanian untuk melakukan supervisi restorasi di lahan mereka. Dari sekitar 555.000 ha lahan perkebunan kelapa sawit yang menjadi target supervisi, kini sudah terlaksana sekitar 408.000 ha.

"Ini proses yang sedang berjalan. Ibaratnya kuliah ini masih semester dua atau tiga," ujar dia.

BRG melakukan supervisi untuk membantu perusahaan perkebunan kelapa sawit melakukan tata kelola kebun dan tata kelola air di lahan gambut konsesi.

Ahli forensik karhutla Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Bambang Hero mengatakan keberadaan lahan gambut menjadi perhatian dunia, mengingat area ini dapat menyumbang emisi karbon terbesar jika terbakar. Karenanya sangat penting memastikan lahan-lahan gambut itu tidak terbakar.

Menurut dia, gambut tidak akan bisa terbakar dengan sendirinya. Lahan jenis ini bisa terbakar hanya jika dibakar.

"Persoalannya siapa yang membakar? Kalau penyebabnya alam, ya, berarti karena lava dan petir. Dengan demikian siapa yang sebenarnya yang membakar? Ya, yang berkepala hitam atau kepala putih," ujarnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More