Kamis 30 Januari 2020, 04:40 WIB

Audit Investigasi TVRI Diharap Beri Titik Terang

(Fer/Ind/H-2) | Humaniora
Audit Investigasi TVRI Diharap Beri Titik Terang

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Mantan Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Helmy Yahya (kiri) menyampaikan paparan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU)

 

POLEMIK yang terjadi di tubuh Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI diharapkan segera tuntas dan tidak berlarut-larut. Wakil Presiden (Wapres) RI Ma'ruf Amin menegaskan hal itu saat menanggapi kisruh TVRI yang berujung pemecatan Direktur Utama TVRI Helmy Yahya oleh Dewan Pengawas (Dewas) TVRI.

"Kita sudah menyerahkan pada Menkominfo untuk diselesaikan," ucap Ma'ruf saat ditemui di Kantor Wapres, Jakarta Pusat, kemarin.

Wapres meminta agar Menkominfo mencari sumber masalah dan menyelesaikannya secara tuntas. "Harus tuntas apa sebabnya konflik itu. Apa ada aturan yang bisa menyebabkan terjadinya konflik atau semata-mata karena persoalan pribadi, sikap masing-masing orang?" ujar Ma'ruf.

Komisi I DPR menginginkan agar konflik di TVRI menjadi terang benderang dengan mengacu data, bukan opini. Untuk itulah, Komisi I DPR berencana melakukan audit investigasi pada TVRI.

"Komisi I DPR RI akan melaksanakan rapat internal untuk membahas terkait usulan rencana audit investigasi oleh BPK dengan tujuan tertentu terhadap LPP TVRI," ucap Pimpinan Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari saat RDP dengan Helmy Yahya, Selasa (28/1) malam.

Anggota Komisi I DPR Sugiono menilai, inovasi yang dilakukan Helmy selama dua tahun memimpin TVRI hingga dapat bersaing dengan televisi swasta, perlu diapresiasi.

Diketahui, salah satu alasan Dewas TVRI memecat Helmy Yahya karena pembelian hak siar Liga Inggris. Helmy mengatakan, dari hasil risetnya, empat teratas hiburan yang digemari masyarakat di Indonesia ialah sepak bola, bulutangkis, drama, dan dangdut.

Helmy pun menjatuhkan pilihan untuk menyiarkan Liga Inggris ketimbang Liga Indonesia karena harga yang ditawarkan untuk menyiarkan Liga Indonesia lebih mahal.

"Untuk Liga Inggris, kami cuma bayar US$2 juta. Itu kami hitung per jam hanya Rp130 juta. Hanya karena Liga Inggris, publik nonton TVRI. Kenapa tidak tayangkan Liga Indonesia? Liga Indonesia harganya 4-5 kali lipat dari Liga Inggris," cetusnya.

Manfaat yang diperoleh TVRI ialah mendapat tayangan 76 pertandingan, preview highlights pertandingan berdurasi 1 jam selama 38 minggu, dan after match.

Tak ingin berlarut-larut, Helmy Yahya mengaku akan menyeret kasus pemecatannya ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Langkah tersebut diambil setelah Dewas TVRI menutup diri untuk berkomunikasi. (Fer/Ind/H-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More