Kamis 30 Januari 2020, 03:00 WIB

Sarita Ibnoe Melestarikan Tenun dengan Tampilan lebih Modern

Ardi Teristi | Humaniora
Sarita Ibnoe Melestarikan Tenun dengan Tampilan lebih Modern

MI/Ardi Teristi Hardi
Sarita Ibnoe Melestarikan Tenun dengan Tampilan lebih Modern

 

Perempuan ini fokus di bidang tenun dan menghidupi merek tenunnya sendiri yang diberi nama Petang Hari dan sebagai seorang perupa.

MATAHARI sudah sedikit bergulir ke barat ketika Media Indonesia tiba sebuah rumah di Dusun Keloran, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Selasa (28/1). Di depan rumah tampak si penghuni tengah menyampu teras. Sarita Ibnoe namanya. Baginya, rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga tempat berkreativitas, baik sebagai seniman, penenun, maupun wirausaha.

Ketika masuk ke rumah tersebut, tampak sebuah alat tenun dan gulungan-gulungan benang tenun. "Sudah empat tahun saya tinggal di sini," kata Sarita membuka percakapan kami petang itu.

Sebelumnya, Sarita banyak menghabiskan waktunya di Jakarta sebagai seorang desainer grafis. Namun, sekitar empat tahun belakangan ia menetapkan hati untuk fokus di bidang tenun dan menghidupi merek tenunnya sendiri yang diberi nama Petang Hari dan sebagai seorang perupa.

"Sehari bisa menenun sampai 6 meter," kata Sarita. Satu kain tenun yang dijual biasanya dengan panjang 2meter.

Di ruangan itu, ia banyak menghabiskan waktu untuk menenun dan menikmati setiap proses yang dikerjakannya.

"Aku suka menenun, yang segala sesuatu dikerjakan langsung secara manual, dari memegang bahan material hingga mengerjakannya sendiri dengan tangan," kata dia. Menenun, bagi Sarita, merupakan kegiatan repetitif yang memberi efek menenangkan (calming effect).

Dia bercerita, mulai mengenal dan tertarik dengan tenun dari seniman tenun asal Australia dan membeli alat tenun sekitar enam tahun yang lalu atau 2013. Ia lalu menggali lebih dalam tentang tenun lewat internet dan menemukan aneka ragam tenun dengan pola-pola modern.

Dari situ, Sarita kemudian mencoba bereksperimen dan dengan pola sendiri. "Dengan Petang Hari, aku ingin tetap melestarikan tenun dengan looks (tampilan) yang terlihat modern. Ini juga cara untuk memperkenalkan tenun kepada generasi muda," kata dia.

Saat itu, ia berpikir, jika hanya menjual kain tenun ke anak muda, ia akan kesusahan. Ia kemudian mengeksplorasi kain tenun buatannya dengan mengombinasikan tenun dengan bahan polos sehingga lebih kasual. Misalnya, tenun hanya menjadi aksen untuk model baju, misalnya hanya dipasang di bagian kantung. Petang Hari juga membuat beragam produk, mulai dari tas (tote bag), topi, sarung bantal, hingga sepatu yang menggunakan ormanen tenun.

Walau mempunyai misi memperkenalkan tenun kepada anak muda, Petang Hari tidak memfokuskan diri hanya pada segmen anak muda, tetapi dari anak-anak hingga orang tua. Pasalnya, banyak pula para ibu yang memakai tenun buatannya.

Masalah pemasaran

Hampir empat tahun berjalan, Sarita mengaku tantangan yang dihadapinya adalah pada bagian penjualan. Pasalnya, hampir semuanya masih dikerjakan sendiri, mulai dari menenun hingga penjualan. Ia hanya mempekerjakan penjahit untuk untuk membuat beberapa jenis produk, seperti baju dan tote bag.

Untuk memasukkan produknya ke online pun tidak mudah karena dia mempunyai pola produk tenunan yang dibuatnya berbeda-beda, tidak ada yang sama. Selalu ada yang baru yang dihasilkan dan modelnya hanya satu. Kalau harus diunggah di online, banyak yang harus diunggah.

Alhasil, Sarita lebih mengandalkan pemeran pop up offline untuk memasarkan produknya. Ia baru mengunggah beberapa produk tersisa setelah pameran.

Petang Hari lebih mengandalkan penjualan offline karena memiliki beberapa keuntungan. "Kauntungan ikut event adalah bertemu langsung dengan calon pembeli sehingga lebih dekat dengan mereka dan dapat menceritakan proses pembuatannya secara detail," kata dia.

Masyarakat pun semakin teredukasi tentang tenun dan produk-produk buatan tangan (handmade). Mereka tidak hanya suka dengan produk akhirnya, tetapi juga tertarik dan menghargai proses pembuatannya.

Dari event pameran semacam itu pula, ia dapat bertemu dengan wirausaha yang lain yang memiliki semangat sama sehingga bisa berkolaborasi dengan merek lain. Misalnya, ia dapat berkolaborasi dengan pembuat sepatu ataupun pakaian.

Berjalan sekitar empat tahun ini, Petang Hari sudah dikenal masyarakat. Sarita menggunakan pilihan warna yang khas sehingga menghasilkan corak berkarakter dan mudah diidentifikasi sebagai produksi Petang hari. Bahkan, ia mengaku belum mampu memenuhi semua permintaan, terutama untuk produk fesyen.

Sebagai seniman

Jauh sebelum melahirkan Petang Hari, Sarita lebih dulu juga dikenal sebagai seniman seni rupa. Karya seni rupa yang dihasilkan kebanyakan dalam bentuk gambar dan mix media. Pada 2019 ini, ia mendapat kesempatan mengikuti residensi di Penang, Malaysia, dan pameran di Jepang.

"Basic saya desain grafis. Setelah lulus (2009), aku juga suka ikut pameran juga seni rupa juga," kata perempuan yang sudah suka dunia gambar dan warga sejak kecil ini. Setahun belakangan ini, kata Sarita, ia bereksplorasi membuat karya seni dengan medium tenun.

Menurut dia, menjadi seniman yang membuat karya seni rupa dan menjadi penenun yang membuat kain tenun untuk dijual memiliki kesamaan. Menurut dia, keduanya merupakan proses berkesenian.

Selain itu, baik seniman maupun penenun juga harus tahu sisi bisnis. Seniman pun harus bekerja sama dengan galeri dan kurator agar dapat memajang dan menjual karyanya.

Dengan kesamaan tersebut, Sarita mengaku tidak masalah dengan kedua profesi tersebut. Dia hanya perlu memilah waktu agar keduanya dapat berjalan dengan baik. (M-4)

Biodata

Nama: Sarita Ibnoe

Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 3 April 1989

Pendidikan

Level: BA (Hons) Illustration Graphic Design (Diploma Level)

Major: Graphic Design, Illustration

Lokasi: Malaysia and London

Tahun Lulus: 2009

Nama Institusi: Middlesex University, London (2008-2009)

Lim Kok Wing University, Cyberjaya (2005-2008)

Program Residensi dan Inkubasi

Exi(s)t #2. A program from Dia.lo.gue Artspace Created in Search of Jakarta Based Artists, tutored by FX Harsono, Hermawan Tanzil and curated by Mitha Budhyarto. (2013)

Textile Residency - Kain Ikat & Natural Dye in Desa Watublapi, Maumere with Watubo Weaving Community. (November 2016)

Coastar Art Project Residency - Desa Sendang Sikucing, Kendal (November 2017)

Hin Art Residency - Hin Bus Depot, Georgetown, Penang, Malaysia (April - June 2019)

Lima Pameran Terakhir

Smart Illumination Yokohama at Zounohana Park, Yokohama | November 2019

Wearable Art - part of Melbourne Design Week at Brunswick Street Gallery, Melbourne, Australia | March 2018

ART x FASHION - an art exhibition with Bazaar Indonesia at Plaza Indonesia, Indonesia | November 2017

Bandung Contemporary Art Awards #5 Finalists at Lawangwangi Artspace, Indonesia | October 2017

EXI(S)T 2017: Tomorrow as we Know it Curated by Evelyn Huang & Shila Ghaisani at Galeri Nasional Indonesia | May 2017

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More