Rabu 29 Januari 2020, 20:17 WIB

Pertemuan NasDem dan PKS Wujud Silaturahmi Politik

M. Ilham Ramadhan Avisena | Politik dan Hukum
Pertemuan NasDem dan PKS Wujud Silaturahmi Politik

Antara
Kunjungan Presiden PKS Sohibul Iman ke DPP Partai NasDem

 

KETUA DPP Partai NasDem Teuku Taufiqulhadi mengungkapkan, pertemuan antara Ketua Umum NasDem Surya Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Iman merupakan wujud silaturahmi kedua partai.

Menurutnya, pertemuan tersebut sebagai silaturahmi balasan yang dilakukan NasDem kepada PKS sekaligus membicarakan isu kenegaraan yang tengah ramai dibicarakan.

"Kami mengambil isu tertentu yang kami highlight karena itu yang penting bagi negara," kata Taufiqulhadi di Primetime News Metro TV, Rabu (29/1).

Pembahasan isu kenegaraan, kata dia, amat sayang untuk dilewatkan dalam pertemuan tersebut. Pasalnya melalui pertemuan itu pula kedua partai dapat menyamakan persepsi terkait beberapa isu.

"Misal soal omnibus law, kami setuju bahwa omnibus law ini akan menyelesaikan persoalan kebangsaan ke depan. Jadi kami perlu memberi perhatian pada isu ini. Kami tidak mempersoalkan NasDem di dalam (pemerintahan) dan PKS di luar," ujarnya.

Baca juga : Surya Paloh : Kualitas Akhir Perlu Ditekankan Pada Omnibus Law

Ia membantah NasDem berperan sebagai jembatan antara PKS yang berada di lingkar oposisi kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo. Hal itu, kata dia, terlalu berlebihan dan tak pernah ada upaya untuk melakukan hal tersebut.

"Menurut saya yang paling penting, isu pemerintahan saat ini seperti omnibus law itu sudah ada kesamaan sikap, membuat suasana kondusif. Itu bukan dalam konteks menjembatani," terangnya.

Lebih lanjut, ia memastikan akan ada pertemuan lain yang akan dilakukan oleh kedua partai. Pertemuan itu akan dijadikan sarana bagi NasDem dan PKS untuk kembali membahas isu nasional yang berkembang.

Isu otonomi khusus di Aceh dan Papua misalnya, akan menjadi pokok pembahasan dalam pertemuan selanjutnya.

"Ketum NasDem telah menyatakan untuk segera dilangsungkan pertemuan berikutnya seperti FGD membahas Aceh dan Papua terkait otonomi khusus," pungkas Taufiqulhadi.

Di kesempatan yang sama, pakar komunikasi politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Gun Gun Heryanto mengungkapkan, pertemuan kedua yang dilakukan oleh NasDem dan PKS merupakan hal yang wajar.

Dunia politik Indonesia yang tidak bersifat linier amat memungkinkan intensitas pertemuan kedua partai akan berlanjut.

"Ada upaya untuk mengatasi pshycological barier yang kemudian antarpartai punya kebutuhan, di satu sisi berkompetisi dan di sisi lainnya bersinergi. Itu biasa," tuturnya.

Ia menambahkan, akan ada dua wacana yang muncul dari intensitas pertemuan kedua partai. Dalam jangka pendek misalnya, ia berpendapat hubungan kedua partai akan menimbulkan dinamika politik yang berkaitan dengan Pilkada 2020.

Baca juga : Ini Dia Hasil Silaturahmi Politik, PKS dan NasDem

"Untuk memperluas manuver politik, itu bisa saja NasDem bersama PKS," terangnya.

Pada jangka panjang, sambung Gun Gun, potensi pemanfaatan hangatnya hubungan kedua partai untuk kontestasi elektoral amat memungkinkan. Sebab, kedua partai terbilang memiliki suara yang berpengaruh.

"Proses politik di Indonesia sangat cair dan basisnya adalah sinergi, saya melihat bisa saja NasDem suaranya 9,05% dan PKS 8,25%. Ini adalah modal politik, modal elektoral. Ini modal dasar untuk proses komunikasi juga," ujar Gun Gun.

Lebih lanjut, ia mengatakan, pertemuan yang dilakukan oleh partai besutan Surya Paloh dan partai yang dipimpin Sohibul Iman itu merupakan pendekatan politik yang menekankan pada keuntungan dan kesepemahaman bersama.

"Bisa saja di titik tertentu ada keuntungan bersama yang mungkin dikerjasamakan, entah di dalam parlemen, di luar parlemen, maupun elektoral," pungkas dia. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More