Rabu 29 Januari 2020, 23:40 WIB

Jiwasraya Pastikan Bayar Klaim Maret 2020

Putra Ananda | Ekonomi
Jiwasraya Pastikan  Bayar Klaim Maret 2020

ANTARA
Menteri BUMN Erick Thohir

 

MENTERI BUMN Erick Thohir memastikan PT Jiwasraya akan mulai melunasi kewajibannya kepada pemilik polis atau nasabah di Maret 2020. Pelunasan utang Jiwasraya tersebut akan dilakukan secara bertahap.

“Insya Allah dari jajaran kementerian, tim Jiwasraya sesuai saran yang disampaikan, kita akan berupaya selesaikan mulai pembayaran awal di akhir Maret. Tapi kalau memang bisa lebih cepat, kita coba lakukan,” tutur Erick di hadapan anggota Panitia Kerja (Panja) Jiwasraya Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (29/1).

Sejalan dengan itu, Kementerian BUMN akan menggelar rapat internal dengan PT Jiwasraya guna membahas mekanisme pembayaran klaim nasabah untuk selanjutnya disetujui dalam rapat bersama Panja Komisi VI.

“Permasalahan Jiwasraya ini bukan permasalahan yang ringan, cukup panjang. Hal ini juga karena memang manajemen jiwasraya yang sebelumnya tak kelola investasi dengan prinsip kehati-hatian. Ini jadi perhatian khusus kami agar bagaimana proses investasi dan penempatan saham harus diperketat,” ujar Erick.

Dengan gamblang ia menuturkan kondisi terkini perusahaan yang sangat mengkhawatirkan kepada anggota Panja.

Total utang PT Jiwasraya saat ini mencapai Rp44 triliun. Rp16 triliun di antaranya merupakan kewajiban pembayaran klaim polis. Sedangkan Rp28 triliun sisanya merupakan kekurangan solvabilitas.

“Kami terus koordinasi dengan Kemenkeu dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendapatkan solusi terbaik dalam penyelamatan ini. Dalam pembicaraan awal, kita ingin ada pencairan di Maret,” ujarnya.

Menurut Erick, salah satu penyebab besarnya utang PT Jiwasraya ialah tingginya bunga dari produk asuransi yang ditawarkan. Besaran bunga yang ditawarkan bahkan lebih tinggi dari bunga pasar pada produk sejenis.

“Ke depan, hal itu perlu dikaji ulang agar pengelolaan investasi tetap mengedepankan unsur kesehatan keuangan perusahaan,” ungkapnya.


Salah pilih investasi

Rabu (29/1), Komisi XI DPR juga memintai penjelasan PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri) atas kerugian berinvestasi yang dialami perusahaan itu sepanjang tahun 2019.

Dalam rapat dengar pendapat itu, Direktur Utama PT Asabri Sonny Widjadja mengakui perusahaan yang dikelolanya mencatatkan kerugian hasil investasi (unrealized loss) senilai Rp 4,84 triliun selama 2019.

Ia menjelaskan, penurunan nilai saham dan reksadana saham menjadi salah satu penyebab meruginya kinerja instrumen investasi yang dimiliki oleh Asbari. Kendati demikian dirinya menyebut hal tersebut tidak akan memengaruhi operasional binsis karena masih terjaganya arus kas Asabri sebagai perusahaan persero.

Sonny menuturkan sepanjang 2019 total pendapatan kinerja premi Asabri jumlahnya masih lebih besar dari jumlah beban klaim. Pada 2019, total pendapatan Asabri dari premi senilai Rp 1,47 triliun, sementara beban klaim hanya Rp1,37 triliun. (E-2)

Berita Terkini

Read More

Top Tags

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More