Rabu 29 Januari 2020, 16:07 WIB

Petani Sragen Gelisah Jatah Pupuk Bersubsidi Terus Berkurang

Widjajadi | Nusantara
Petani Sragen Gelisah Jatah Pupuk Bersubsidi Terus Berkurang

MI/WIDJAJADI
Bantuan pupuk bersubsidi untuk Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen terus merosot.

 

KALANGAN petani di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah meminta agar pemerintah pusat tidak pelit dalam menggelontorkan pupuk subsidi sesuai jatah Rencana Difinitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Beberapa tahun terakhir, jatah pupuk subsidi terus berkurang,  berdampak sulitnya petani mengelola tanaman pangan secara ideal.

"Sudah beberapa tahun terakhir ini, pengajuan pupuk subsidi terus berkurang. Jauh dari usulan RDKK. Ini sungguh menyulitkan, karena petani menjadi sulit memenuhi kebutuhan pemupukan secara ideal. Dan ini akan berpengaruh pada hasil panen," tegas Harjono, petani Masaran, Sragen, Rabu (29/1).

Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen  terus berjuang gigih meraih kekurangan jatah pupuk subsidi untuk petani.Tetapi sejauh ini, Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati hanya bisa menjanjikan untuk mendesak kepada presiden.

"Ya mudah-mudahan han upaya Bupati Yuni didengar bapak presiden.KTNA Sragen minggu depan juga akan menghadap DPRD kabupaten, biar suara eksekutif. Atau bupati bertambah kuat dalam mendapatkan jatah kekurangan," tegas Ketua KTNA Sragen secara khusus kepada Media Indonesia, Rabu (29/1) di Gondang.

Menurut dia, luas lahan tanaman padi untuk musim tanam 2020, seluas 120 ribu hektar. Selama ini kabupaten Sragen merupakan lumbung pangan nasional terbesar di Solo Raya, bahkan Jawa Tengah. Pasokan beras Pasar Induk Cipinang,Jakarta juga banyak berasal dari petani Sukowati, yang merupakan sebutan kondang bagi Sragen.

Namun begitu untuk jatah kuota pupuk subsidi jenis urea masih kurang 10.259 ton ,SP36 masih kurang 9.621 ton, ZA pun kurang 2.755 ton, dan NPK kurang 9.655 ton.

"Saya sempat menjelaskan kepada bupati, kelangkaan ini bukan karena pupuk mengalir ke daerah lain. Tapi memang pasokan yang dikurangi," tegas Suratno.

Bahkan kekurangan Ponska cukup banyak. Padahal petani padi masih harus berbagi dengan petani tebu dan juga perkebunan lainnya. Karena itu jatah kuota oun semakin berkurang lagi.

"Jadi petani jika ingin mendapatkan ponska ya harus lari keluar daerah dengan harga mahal. Bisa lebih dari Rp160 ribu/zak dari HET yang hanya Rp 120 ribu," tambahnya.

Bagi petani Sragen, harga pupuk bukan persoalan asalkan barang ada.

baca juga: Siswi SMP Histeris Bisa Berfoto dengan Presiden

"Ya solusinya pemerintah pusat harus menambah olokasi pupuk subsidi. Tapi jika sulit subsidi, ya naikkan saja harga eceran tertinggi (HET) asalkan barang benar-benar ada. Daripada sekarang ini, ada subsidi tapi barang tidak ada," tegas Suratno sekali lagi. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More