Selasa 28 Januari 2020, 23:30 WIB

Guru Mesti Ubah Pola Pikir di Era Milenial

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Guru Mesti Ubah Pola Pikir di Era Milenial

Dok. GSM
Workshop GSM di Tangerang Selatan

 

GURU menjadi ujung tombak pendidikan di Indonesia. Karena itu pola pikir dan ajar guru harus disesuai dengan perkembangan zaman, terutama di era milenial saat ini. Hal itu dibutuhkan untuk membuat pendidikan Indonesia menghasilkan insan yang bermutu.

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan M. Nur Rizal mengatakan, perubahan pola pikir yang dibutuhkan ialah dengan mengubah paradigma pendidikan yang mengacu pada standardisasi berdasarkan materi ajar, ke arah personiliasi sesuai kebutuhan peserta didik.

Personalisasi itu memahami bakat, minat, potensi setiap anak yang berbeda. Nah, para guru guru kita mesti melakukan perubahan perilaku di kelasnya dengan menciptakan lingkungan baru yang memungkinkan proses minat itu terjadi mengingat kalangan milenial dewasa ini amat kritis dan cerdas,” Nur Rizal dalam keterangan tertulisnya.

GSM, lanjutnya, juga turut aktif mennggelorakan perubahan pola pikir itu lewat lokakarya (workshop). Terakhir, workshop digelar di Kantor Walikota Tangerang Selatan bekerja sama dengan PT. Sinar Mas Land BSD.

Perubahan pola pikir itu juga jadi bagian kampanye dari GSM yang bertujuan mendorong guru mengembangkan peserta didik sesuai dengan jenjang kependidikan. Seperti di jenjang sekolah dasar (SD/MI) dengan mencari minat dan bakat yang bisa dikembangkan menjadi keahlian (life skill),

"Hasil akhir hanya di butuhkan oleh pemerintah, tetapi yang di butuhkan oleh murid dan guru adalah proses. Dengan  proses itu tidak ada benar dan salah, ketika proses itu yang ada efektif atau tidak. Disini para guru di latih oleh GSM untuk mampu  membedakan antara penilaian sumatif dan penilaian formatif,” jelas Rizal.

Baca juga : Bebaskan Guru Berinovasi

Kepala Kantor Kementerian Agama Tangerang Selatan Abdul Rozak mengatakan, kunci kesuksesan pendidikan lebih ditentukan oleh guru.

Menurutnya, ada tiga kategori guru, yaitu guru pendidik, guru pengajar, dan guru pencari nafkah. Ia menegaskan, guru sadar bahwa ia adalah guru pendidik yang menentukan wajah Indonesia di masa depan.

Ia pun menyambut baik lokakarya yang digelar oleh GSM untuk meningkatkan kualitas dan mengubah pola pikir guru dalam menghadapi perubahan zaman.

Sekretaris Jenderal Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI)  Suhardi menyambut positif kegiatan GSM yang telah mendapat tempat di wilayah Tangsel, Tangerang dan wilayah Banten.

Menurutnya workshop GSM  menjadi Inovasi pendidikan khususnya di lingkungan madrasah se-Tangsel,

“Melalui GSM  kita berharap sistem pengembangan profesionalitas guru lebih inovatif disertai pengelolaan madrasah  yang efektif dan dirasa nyaman serta menyenangkan," pungkasnya. (RO/OL-7)

Baca Juga

Twitter.com/m_fikris/Medcom.id

Terseret Jarik, Gilang Dipenjara

👤HS/Ant/N-2 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 05:44 WIB
Fetish merupakan ketertarikan atau rangsangan secara seksual pada organ tubuh atau benda nonseksual. Contohnya ibu jari, rambut, atau...
ANTARA Foto/Andreas Fitri Atmoko

Geliat Pariwisata di Yogyakarta belum Merata

👤AT/AU/X-8 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 05:37 WIB
Memang masih dibuka secara terbatas, baik jumlah pengunjung, objek wisata, maupun wisatawan yang datang menggunakan...
Medcom.id

Stigmatisasi masih Kencang

👤Yoseph Pencawan 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 05:19 WIB
Kaum terpelajar juga menjadi pelaku. Perlu ada protokol untuk meredam...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya