Rabu 29 Januari 2020, 06:40 WIB

Nuklir, Harapan Baru Pengobatan Kanker

(BY/Aiw/Ant/H-2) | Humaniora
Nuklir, Harapan Baru Pengobatan Kanker

MI/ anggoro
Kepala batan anhar riza antariksawan

 

BADAN Tenaga Nuklir Nasional (Batan) akan mengembangkan teknologi nuklir dari molibdenum alam untuk menghasilkan produk radioisotop teknesium-99m (Tc-99) yang berguna dalam mendiagnosis penyakit kanker.

"Teknesium-99m (Tc-99m) merupakan bagian dari produk radioisotop dan radiofarmaka sebagai salah satu Prioritas Riset Nasional 2020-2024 yang dikoordinasikan oleh Batan," papar Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Radioisotop merupakan isotop dari zat radioaktif yang memancarkan radiasi. Adapun, radiofarmaka merupakan produk farmasi yang mengandung radioisotop dalam bentuk injeksi/minum.

Untuk mendeteksi sel kanker, teknesium-99m digabung pada obat A yang diberikan ke tubuh pasien. Kemudian, teknesium-99m itu akan memancarkan radiasi yang ditangkap detektor radiasi di luar tubuh pasien sehingga diperoleh gambaran tentang sel-sel kanker tersebut.

Selain diagnosis kanker, kata Anhar, produk radioisotop dan radiofarmaka yang berbasis teknologi nuklir ini juga sangat dibutuhkan untuk terapi dan pengobatan penyakit lain.

Ketua Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI) Eko Purnomo menyampaikan pelayanan diagnostik dan terapi kedokteran nuklir jauh murah dan nyaman, jika dibandingkan dengan metode pengobatan konvensional.

"Ini bisa menghemat program pemerintah melalui BPJS Kesehatan," ujar Eko saat Indonesia Nuclear Expo 2019, beberapa waktu lalu.

Ia mencontohkan, terapi kanker tiroid dengan kemo-terapi bisa menghabiskan biaya hingga ratusan juta rupiah. Namun, dengan terapi kedokteran nuklir melalui metode ablasi, cukup membutuhkan biaya Rp9 jutaan. "Pasien tidak usah berulang-ulang operasi cukup dibersihkan di kedokteran nuklir sisa-sisa kankernya," jelasnya.

Ia menyayangkan masih awamnya masyarakat ketika mendengar istilah kedokteran nuklir. "Kalau dengar nuklir takut, tetapi kalau pergi ke radiologi X-ray (merasa) tidak masalah. Padahal, radiasi yang digunakan dalam diagnosis kedokteran nuklir justru lebih rendah dibandingkan dengan radiologi X-ray," pungkasnya. (BY/Aiw/Ant/H-2)

Baca Juga

Antara/Ari Bowo

Dibandingkan Mei, Positivity Rate Periode Juni Lebih Rendah

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 02 Juli 2020, 18:44 WIB
Secara nasional, positivity rate Indonesia berkisar 12%, atau di atas standar WHO sebesar 5%. Namun, angka positivity rate periode...
Dok: UI

Ini Usulan UI Soal Upaya Mitigasi Saat Sekolah Kembali Dibuka

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Juli 2020, 18:00 WIB
Salah satu upaya mitigasinya dengan menerapkan metode menggilir siswa yang masuk (rotasi antarkelas/tingkatan atau setengah kelas atau...
Antara/Hafidz Mubarak

Update Covid-19, Pasien Sembuh Capai 26.667 Orang

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 02 Juli 2020, 17:18 WIB
Kasus terkonfirmasi positif bertambah 1.624 orang, sehingga total kasus covid-19 di Indonesia mencapai 59.394 orang. Adapun kasus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya