Rabu 29 Januari 2020, 05:45 WIB

Terapi untuk Pasien Virus Korona Baru

Atalya Puspa | Humaniora
Terapi untuk Pasien Virus Korona Baru

Dok.MI

 

PASAR basah di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok yang menjual aneka jenis hewan liar untuk dimakan menjadi pembicaraan orang sejagat, setelah munculnya wabah misterius.

Infeksi ini pertama kali dilaporkan pada Desember 2019 lalu di Wuhan, kota dengan populasi lebih dari 11 juta jiwa. Sejumlah pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan pneumonia atau radang paru-paru berat. Jumlah pasien yang awalnya hanya 27 orang.

Sebulan kemudian, penyakit misterius yang diberi nama novel coronavirus 2019 (2019-nCoV) itu telah menjangkiti 4.515 orang dan menewaskan 106 jiwa. Sebanyak 4.193 penderitanya berada di Tiongkok.

2019-nCoV ialah virus yang baru muncul, yang menyerang manusia dan masuk dalam kelompok virus penyebab spektrum penyakit, dari melasma hingga penyakit berbahaya seperti MERS-CoV dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV).

"Gejala yang ditimbulkan adalah demam, lemas, batuk, dan sesak atau kesulitan bernafas. Beberapa kondisi ditemukan lebih berat," ucap dokter spesialis paru RS Awal Bros Bekasi Timur, Annisa Sutera Insani, kemarin.

Menurutnya, orang dengan lanjut usia atau sedang memiliki penyakit penyerta lainnya, berisiko lebih tinggi untuk memperberat kondisi. Dengan dampak terburuknya mulai dari infeksi berat (sepsis), kondisi shock, gagal pernafasan, hingga meninggal.

"Jadi, pasien yang mengalami gejala coronavirus baru ini sebaiknya dirujuk ke rumah sakit. Jika tidak bisa, segera kunjungi rumah sakit lain karena pasien harus dirawat di ruang isolasi," sebutnya.

Karena pneumonia merupakan proses peradangan akibat infeksi, lanjut Annisa, terapi utama dilakukan dengan pemberian antibiotik empiris spektrum luas sesegera mungkin sambil dicari tahu etiologinya. Antibiotik spektrum luas adalah antiobiotik yang diberikan ketika suatu penyakit belum diketahui jenis etiologi dan pola kumannya.

Setelah diketahui etiologinya, sambung Annisa, pasien dapat diberikan jenis antibiotik yang sesuai dengan pola kuman yang dimilikinya saat itu. "Tindakan medis yang harus dilakukan adalah oksigenasi, terapi cairan, terapi simtomatik, serta penggunaan ventilator jika gagal napas," urai dokter Annisa.

Mortalitas rendah

Pada dasarnya, virus korona hidup di sel hewan sebagai host (induk semang). Seiring berjalannya waktu, korona virus bermutasi, dari mulanya hanya bermukim pada tubuh hewan ular dan kelelawar, kini dapat menyerang tubuh manusia. Penyakit zoonotik ini kemudian menjadi ancaman baru bagi manusia.

Menurut dokter spesialis paru dari RS Persahabatan Erlina Burhan, 2019-nCOV adalah sebuah virus yang biasa. Dirinya juga menyebut, risiko kematian akibat virus ini tergolong rendah. "Kalau dibanding flu burung, 70% meninggal, SARS di atas 60%, MERS juga sekitar 50%. Sementara ini 2019-nCOV sampai saat ini ya, gak sampai 5% kematiannya," kata Erlina saat ditemui terpisah.

Pada 2002 silam, SARS yang bersumber dari kelelawar dan musang menyerang lebih dari 8 ribu jiwa dan menyebabkan sebanyak 774 kematian. Sementara, pada 2012 virus MERS menyerang lebih dari 2 ribu jiwa yang menimbulkan 845 kematian.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi dari RS Metropolitan Medical Centre, Erni Juwita Nelwan menambahkan, gejala 2019-nCov dapat dihilangkan dengan catatan pasien memiliki daya tahan tubuh yang baik. "Masa inkubasi sebenarnya hanya 7-14 hari. Kalau sistem imun baik, virus itu bisa pergi sendiri," ucap Erni. (H-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More