Selasa 28 Januari 2020, 20:56 WIB

Batan Kembangkan Radioisotop Non Uranium

Bayu Anggoro | Humaniora
Batan Kembangkan Radioisotop Non Uranium

MI/Bayu Anggoro
Kepala Badan Tenaga Nuklir (BATAN) Anhar Riza Antariksawan

 

PEMANFAATAN nuklir untuk medis di Tanah Air dinilai masih kurang. Padahal, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan pengobatan berbasis radioterapi tersebut.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Tenaga Nuklir (BATAN) Anhar Riza Antariksawan di Bandung, Selasa (28/1). Menurutnya, penggunaan nuklir
untuk pengobatan sudah berkembang pesat. Sayang di Indonesia masih sedikit.

"Kalau di internasional, di satu negara, setiap satu juta jiwa penduduk ada satu pusat radioterapi," katanya.

Di dalam negeri hanya terdapat puluhan pusat radioterapi dari jumlah penduduk sekitar 250 juta. "Hanya puluhan, itu juga di rumah sakit besar seperti RSHS, Darmais, di Bandung juga di Santosa," katanya.

Minimnya penggunaan nuklir ini, menurutnya terlihat dari masih banyaknya orang yang mengenal kemoterapi dibanding radioterapi.

"Jadi  orang lebih kenal secara kimia, tidak disinar radiasi," katanya seraya menyebut belum banyaknya penggunaan nuklir ini karena dianggap
memerlukan biaya yang lebih mahal.

Dia menambahkan, pengobatan nuklir di Indonesia pun maaih didominasi teknisium impor yakni sekitar 95%. "Saat ini impor, dari Hungaria,
Kanada, Australia," katanya.

Padahal, menurutnya sudah sejak lama BATAN mampu menciptakan radiofarmaka dan radioisotop untuk keperluan medis. "Sejak dibangun
reaktor riset nuklir pertama di Taman Sari (kantor BATAN di Bandung). Dibuka pertama oleh Presiden Soekarno," ungkapnya.

Kini, pihaknya akan mengembangkan teknisium agar bisa diproduksi lebih banyak lagi. "Target kami bisa menghasilkan 55 prototipe radioisotop dan radiofarmaka. Nanti difabrikasi dan akan digunakan kedokteran. Kami bekerjasama dengan berbagai pihak," katanya.

Apalagi, jelas dia, Batan sudah mengembangkan penciptaan teknisium yang bukan dari uranium, melainkan berbahan mineral molibdenum alam sehingga menghasilkan limbah radioaktif yang jauh lebih sedikit.
 
Salah satunya yang saat ini dalam proses adalah teknisium -99m, radioisotop yang dibutuhkan dunia kedokteran nuklir sebagai pendiagnosis penyakit seperti kanker.

Sebelumnya, tambah dia, BATAN telah bekerjasama dengan PT Industri Nuklir Indonesia dalam memproduksi teknisium tersebut. "Sebelumnya dari
fisi (uranium yang diradiasi di dalam reaktor nuklir), kini dikembangkan dari mineral molibdenum alam," katanya.

Radioisotop ini ditargetkan produksi dalam tiga tahun ke depan melalui kerjasama dengan PT Inuki. "BATAN juga menggandeng Kaken, salah satu
lembaga riset Jepang dalam pengembangan teknologi radioisotop," katanya. (OL-13)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More