Selasa 28 Januari 2020, 19:20 WIB

Petani Bengkulu Ogah Jual Gabah ke Bulog

Marliansyah | Nusantara
Petani Bengkulu Ogah Jual Gabah ke Bulog

MI/M TAUFAN SP Bustan
Petani di Bengkulu menolak menjual gabah ke Bulog.

 

PERUM Bulog Divisi Regional (Divre) Bengkulu, kesulitan menyerap gabah dari petani disepuluh kabupaten/kota. Bulog mengalami kesulitan untuk membeli gabah karena petani lebih memilih menjual hasil panen yang sudah dikonversi menjadi beras ketimbang gabah.  Kepala Subdivre Bulog Bengkulu, Defrizal, mengatakan,  Bulog hingga saat ini masih kesulitan membeli gabah petani karena hasil panen sudah dikonversi menjadi beras ketimbang gabah karena harga jualnya lebih tinggi.
     

"Untuk pembelian gabah, Bulog sampai saat ini belum menyerap begitu banyak hanya kurang lebih sekitar ribuan ton pada pertengahan Januari ini," kata Defrizal, Selasa (28/1).

Penyebabnya rata-rata para petani tidak mau jual gabah dan beralasan sengaja mendiamkan dulu gabah mereka dan akan dijual ketika ada keperluan mendesak.

Untuk menggenjot penyerapan gabah, Bulog sudah melakukan program jemput bola dengan mendatangi langsung petani di beberapa daerah seperti di Kabupaten Bengkulu Utara, Rejang Lebong, dan Bengkulu Selatan. Saat ini Bulog terus berupaya melakukan penyerapan gabah di petani semaksimal mungkin. Sebagian petani tidak mau menjual gabahnya dengan alasan harga beli yang diberikan Bulog sangat murah kisaran Rp 5.115 per kilogram.

"Petani lebih memilih menjual berasnya dari pada gabah, karena kalau jual gabah untungnya sedikit," imbuhnya.
     
Berdasarkan catatan Bulog pada 2019 lalu, beras yang berhasil dibeli oleh Bulog dari para petani mencapai 1.500 ton dengan harga Rp8.030 per kg. Meskipun Bulog membeli dengan harga Rp8.030 per kg, tetap saja ada petani yang tidak ingin menjual beras ke Bulog dengan alasan harga belinya terlalu murah.

Saat ini  petani menginginkan harga beli beras minimal Rp10 ribu per kg karena beras yang dijual adalah kualitas premium. Bulog kesulitan untuk menyerap beras dari petani karena lebih cerdas, tidak mau menjual beras bagus dengan harga murah, makanya banyak yang menjual ke luar daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan mengatakan, petani di Bengkulu banyak menjual beras kepada para tengkulak dari luar provinsi setempat.
    
"Tengkulak membeli beras dari Bengkulu, kemudian dikemas ulang dan menjualnya kembali ke Bengkulu," katanya.

baca juga: Bupati Mentawai Targetkan Pembangunan Bandara Terwujud Tahun Ini
     
Akibatnya harga beras di daerah cukup tinggi dan idealnya harga beras kualitas premium harganya hanya Rp10 ribu per kg. Tetapi setelah dikemas ulang dijual dengan harga Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per kg.  Diharapkan para petani untuk tidak menjual gabah ataupun beras kepada para tengkulak dari luar daerah sehingga beras lokal asal Bengkulu, dijual langsung ke Bulog. (OL-3)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More