Selasa 28 Januari 2020, 18:11 WIB

Saatnya Indonesia Gunakan Radioisotop Nonuranium

Bayu Anggoro | Nusantara
Saatnya Indonesia Gunakan Radioisotop Nonuranium

MI/Anggoro
Kepala Badan Tenaga Nuklir (BATAN) Anhar Riza Antariksawan saat memberi keterangan di Bandung, Jawa Barat, Selasa (28/1).

 

PEMANFAATAN nuklir untuk medis di Tanah Air dirasa masih kurang. Padahal, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan pengobatan berbasis radioterapi tersebut.

Disampaikan Kepala Badan Tenaga Nuklir (BATAN) Anhar Riza Antariksawan, saat ini penggunaan nuklir untuk pengobatan sudah berkembang pesat. Sayangnya, di Indonesia masih sedikit jika mengacu kepada ketersediaan pusat radioterapi.

Baca juga: Jangan Takut, Nuklir Aman Untuk Pengobatan Kanker

"Kalau di internasional, di satu negara, setiap satu jiwa penduduk ada satu pusat radioterapi," katanya di Bandung, Selasa (28/1).

Menurut dia, hanya terdapat puluhan pusat radioterapi dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta.

"Hanya puluhan, itu juga di rumah sakit besar seperti RSHS, Darmais, di Bandung juga di Santosa," katanya.

Minimnya penggunaan nuklir inipun menurutnya terlihat dari masih banyaknya orang yang mengenal kemoterapi dibanding radioterapi. "Jadi orang lebih kenal secara kimia, tidak disinar radiasi."

Ia menyebut belum banyaknya penggunaan nuklir inipun karena dianggap memerlukan biaya yang lebih mahal. Sebabnya, pengobatan nuklir di Indonesia memang masih didominasi teknisium impor yakni sekitar 95%. "Saat ini impor, dari Hungaria, Kanada, Australia."

Padahal, menurutnya sudah sejak lama BATAN mampu menciptakan radiofarmaka dan radioisotop untuk keperluan medis.

"Sejak dibangun reaktor riset nuklir pertama di Taman Sari (kantor BATAN di Bandung). Dibuka pertama oleh Presiden Soekarno," katanya.

Terlebih, pihaknya kini akan mengembangkan teknisium tersebut agar bisa diproduksi lebih banyak lagi. "Target kami bisa menghasilkan 55 prototipe radioisotop dan radiofarmaka. Nanti difabrikasi dan akan digunakan kedokteran. Kami bekerjasama dengan berbagai pihak," katanya.

Pihaknya pun sudah mengembangkan penciptaan teknisium yang bukan dari uranium, melainkan berbahan mineral molibdenum alam sehingga menghasilkan limbah radioaktif yang jauh lebih sedikit.

Salah satunya yang saat ini dalam proses adalah teknisium -99m, radioisotop yang dibutuhkan dunia kedokteran nuklir sebagai pendiagnosis penyakit seperti kanker.

Sebelumnya, tambah dia, BATAN telah bekerjasama dengan PT Industri Nuklir Indonesia dalam memproduksi teknisium tersebut. "Sebelumnya dari fisi (uranium yang diradiasi di dalam reaktor nuklir), kini dikembangkan dari mineral molibdenum alam," katanya.

Radioisotop ini ditargetkan produksi dalam tiga tahun ke depan melalui kerjasama dengan PT Inuki. "BATAN juga menggandeng Kaken, salah satu lembaga riset Jepang dalam pengembangan teknologi radioisotop," katanya. (BY/A-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More