Selasa 28 Januari 2020, 16:35 WIB

Virus Korona Picu Penurunan Harga Karet di Sumsel

Dwi Apriani | Nusantara
Virus Korona Picu Penurunan Harga Karet di Sumsel

ANTARA
harga karet di Sumatra Selatan mengalami penurunan hingga 5% akibat merebaknya virus korona di Tiongkok.

 

AKIBAT merebaknya virus korona di Tiongkok, harga karet di Sumatra Selatan mengalami penurunan. Angka penurunannya hingga 5 persen sepanjang pekan ketiga Januari 2020, baik untuk kadar 60 persen maupun 100 persen.

Dinas Perkebunan Sumsel menilai penurunan harga karet itu juga dipengaruhi wabah virus korona di Tiongkok, yang membuat permintaan dari negara pembeli itu melemah. Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan harga karet dengan kadar 100 persen mencapai Rp16.290 per kilogram pada 24 Januari 2020. Harga itu telah turun sebanyak Rp861 dibandingkan periode 20 Januari 2020.

"Penurunan harga karet ini terjadi pada semua kadar kering karet baik, mulai dari kadar 40 persen hingga karet kadar 100 persen," kata Rudi Arpian, Selasa (28/1).

Rudi menjelaskan penurunan harga karet di Sumsel juga berlaku untuk harga karet secara nasional. Kondisi itu, menurut dia, tidak terlepas dari berbagai situasi global.

"Wabah virus korona akan membuat kegiatan ekonomi Tiongkok terhenti, sehingga pertumbuhan ekonomi akan turun. Berakibat permintaan karet Tiongkok berkurang. Apalagi Tiongkok adalah importir terbesar dari karet alam," jelasnya.

Ia mengemukakan, permintaan dari industri ban diprediksi meningkat 1,5 persen sepanjang 2020 akibat pulihnya perdagangan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Namun kembali terganggu dengan wabah virus korona tersebut.

"Ditambah lagi, harga merosot ketika AS dan Iran mundur dari konflik. Ketika konflik Amerika Serikat dan Iran memanas harga karet terkerek naik," katanya.

Oleh karena itu, Rudi menilai, pemerintah pusat perlu berupaya untuk mendongrak harga karet dalam negeri. Serapan konsumsi karet nasional harus ditingkatkan.

baca juga: Tenaga Kerja Tiongkok di Proyek Kereta Cepat Diawasi Ketat

"Proyek jalan menggunakan aspal karet harus diperluas. Pemerintah daerah, BUMD maupun BUMN harus menggunakan bahan baku karet dalam proyeknya," katanya.

Menurutnya, perlu ada upaya lain. Di antaranya inovasi baru melalui pemanfaatan karet dan biji karet alam sebagai bahan baku nabati selain kelapa sawit supaya permintaan karet meningkat kembali. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More