Selasa 28 Januari 2020, 06:35 WIB

Pesimisme atau Optimisme?

Irwansyah Kepala Litbang Media Indonesia, Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia | Opini
Pesimisme atau Optimisme?

Dok. MI

PESIMISME bukan sekadar berpikir negatif. Pesimisme juga mencakup sikap yang berfokus pada tujuan, sesuatu yang diperkirakan terjadi di kemudian hari. Orang yang pesimistis justru menduga hasil negatif cenderung akan terjadi.

Salah satu tipe pesimisme ialah pesimisme defensif, yakni menggunakan pikiran negatif dengan cara yang berbeda dan diperhitungkan dapat mencapai suatu tujuan (Norem, 2000).

Dalam buku berjudul The Positive Power of Negative Thinking (Norem, 2002) disebutkan bahwa pesimisme defensif adalah suatu strategi yang membantu orang dengan kecemasan berlebih untuk mengelola kecemasannya sehingga mereka tidak lari dari masalah dan berusaha meraih tujuan.

Salah satu faktor penting dalam pesimisme defensif ialah menetapkan ekspektasi yang rendah untuk rencana dan situasi tertentu, misalnya membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Menariknya, seorang dengan sikap pesimistis defensif dapat merencanakan berbagai tindakan untuk memastikan kemungkinan buruk yang dibayangkan tidak akan terjadi.

Sikap pesimistis juga berhubungan dengan suasana hati yang negatif. Ketika diposisikan dalam suasana hati yang baik, seseorang yang pesimistis defensif tidak mampu menyelesaikan masalah. Namun, ketika ditempatkan dalam suasana hati yang negatif, atau diberi tahu kemungkinan buruk yang akan terjadi, kinerja mereka menjadi jauh lebih baik.

Pesimisme dan optimisme merupakan bagian dari karakteristik manusia sehingga berperan penting dalam menyikapi suatu isu dan masalah. Sebagai sifat yang alamiah, manusia yang pesimistis defensif berekspektasi pada hal yang terburuk terlebih dahulu, tetapi tetap mempersiapkan rencana alternatif. Sebaliknya, manusia yang optimistis akan selalu berekspektasi pada hasil yang terbaik dari keadaan yang terjadi.

Dalam konteks tertentu, pesimisme bisa jadi lebih menguntungkan ketimbang optimisme dalam menunggu hasil atau kabar dari sesuatu yang berada di luar kuasa diri sendiri.

Atas dasar konsep pesimisme defensif ini, News Research Center (NRC) menggagas untuk mengevaluasi kinerja 100 hari kabinet Jokowi-Amin. Pesimisme disandingkan dengan optimisme dalam skala diferensiasi semantik (Osgood, 1957). Skala ini memberikan penilaian untuk mengukur pasangan kata sifat yang berlawanan.

 

 

MI/Seno

 

Pasangan kata pesimisme-optimisme menjadi pengukuran dalam variabel (1) isu-isu umum seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, politik, HAM, pertahanan dan keamanan; (2) visi Jokowi untuk Indonesia; (3) janji kampanye Jokowi-Amin; (4) kinerja 34 kementerian negara; serta (5) isu-isu aktual seperti ibu kota baru, Natuna, penghapusan eselon, dll.

Narasumber yang mengevaluasi ialah 159 dari 170 tokoh publik dari 34 kota provinsi dengan tingkat respons (Ficham, 2008) sebesar 93,5%. Pemilihan tokoh publik berdasarkan definisi public figure dari Oxford Dictionary dan definisi tokoh masyarakat dari undang-undang.

Oxford Dictionary menjelaskan tokoh publik (public figure) adalah orang-orang terkenal yang sering tampil di media audio visual (radio dan televisi) dan/atau menulis di media (cetak, elektronik, dan online). Tokoh publik ini memiliki posisi sosial tertentu dalam ruang lingkup tertentu dan berpengaruh signifikan dalam kepentingan publik.   

Tokoh publik sering menjadi perhatian publik karena kemunculannya di berbagai media. Adapun tokoh masyarakat ialah tokoh masyarakat yang berdasarkan kedudukan sosialnya (UU No 9/2010 tentang Keprotokolan) mendapat kehormatan dari masyarakat dan/atau pemerintah (UU No 8/1987 dan Peraturan Pemerintah No 62/1990).

Atas dasar konsepsi ini, narasumber yang terpilih disepakati sebagai 'suara tokoh publik'. Artinya suara orang-orang atau tokoh-tokoh berpengaruh yang didengar serta memiliki kedudukan sosial dan dihormati oleh masyarakat dan/atau pemerintah, juga terlibat dalam kepentingan publik, tampil di berbagai media, serta tersebar secara lokal dan nasional di 34 kota provinsi. Walaupun tidak mudah, keterwakilan narasumber perempuan dapat mencapai lebih dari 20%.

Penelitian suara tokoh publik ini menggunakan pendekatan campuran antara kuantitatif dan kualitatif (mixed method) dengan strategi desain concurrent triangulation (Creswell, 2003). Pendekatan campuran tidak mengenal adanya margin of error dan confidence level yang biasa dipakai dalam pendekatan kuantitatif murni. Apalagi pendekatan kualitatif mengutamakan kualitas dan kedalaman (insight), kekayaan data (data richness).

Metode kuantitatif menggunakan instrumen penelitian berbentuk kuesioner bersifat semiterbuka dan tertutup (Wilkinson & Birmingham, 2003). Instrumen diberikan kepada narasumber dalam bentuk aplikasi dan Google Form. Instrumen telah diuji melalui tahapan rewording pretest (Haghverdi, 2016), construct validity (Brown, 1993), dan content validity (Newman, Lim & Pineda, 2013).

Kemudian, narasumber mengisi sendiri (self-reported) pertanyaan yang diberikan dengan memperhatikan consent form (Rose, 2017) yang diberikan dalam riset suara tokoh publik dari 34 provinsi di Indonesia. Perlakuan metode kualitatif terjadi pada saat narasumber diminta untuk memberikan jawaban terbuka dari beberapa variabel dan isu.

Jawaban terbuka dikoding dengan menggunakan perangkat lunak NVivo sesuai kategori pesimisisme dan optimisme. Hasil koding juga dianalisis berdasarkan kata kunci yang muncul di luar kategori pesimisme-optimisme. Setelah melalui uji validity, reliability, trustworthiness, dan triangulation (Golafshani, 2003), analisis data ditampilkan dalam bentuk univariat (frekuensi, rerata, dan standar deviasi), bivariat (tabulasi silang), dan kutipan (kata kunci dari narasumber).

Temuan yang mengarah (cenderung) optimistis disadari sebagai bentuk kehati-hatian dari narasumber. Jawaban dan alasan yang optimistis memperlihatkan alasan yang normatif, diskursus konsep, dan ekspektasi yang tidak berlebihan. Jawaban normatif yang diberikan narasumber untuk memberi kesempatan kepada pemerintahan dan kabinet Jokowi-Amin.   

Pendapat narasumber yang berasal dari akademisi, tokoh masyarakat, pimpinan masyarakat, dan aktivis memperlihatkan kepedulian terhadap pilihan kata, konsep, dan perilaku pejabat publik. Temuan ini merupakan bentuk sikap wait and see terhadap bentuk perubahan yang dianggap signifikan menyentuh masyarakat.

Adapun alasan pesimistis dari narasumber menitikberatkan pada permasalahan yang mendasar, nyata, dan dirasakan di lapangan. Bagi narasumber, menyelesaikan akar masalah terkait hukum dan ekonomi menjadi pekerjaan rumah utama bagi pemerintahan Jokowi-Amin periode kedua. Apalagi pemikiran pesimisme dari aktivis di wilayah Indonesia Timur ini selalu mengharapkan kabinet periode kedua Jokowi ini mampu memberikan rencana-rencana alternatif yang bernas.

Penilaian narasumber dalam 'Suara Tokoh Publik di 34 Provinsi terhadap Kinerja 100 Hari Pemerintahan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin' yang dilakukan News Research Center (NRC) tentunya tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi, suara tokoh yang pesimistis dan optimistis dari berbagai kalangan ini merupakan pemegang kestabilan daerah yang mampu memengaruhi publik di saat populisme berkembang. Catatan penting untuk kita, metodologi adalah alat, temuan adalah diskusi, dan implementasi adalah tanggung jawab.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More