Senin 27 Januari 2020, 07:02 WIB

Merayakan Thauw Gee di Temanggung Untuk Dewa Bumi

Tosiani | Nusantara
Merayakan Thauw Gee di Temanggung Untuk Dewa Bumi

MI/TOSIANI
Warga melakukan sembahyang Thauw Gee sebagai rangkaian perayaan Imlek di Klenteng Kong Ling Bio Temanggung, Minggu (26/1/2020)

 

SEJUMLAH anak bermain diantara nyala lilin-lilin di Klenteng Kong Ling Bio Temanggung, Minggu (26/1) malam. Mereka berlarian, bersenda gurau dan tertawa. Suasana bahagia terpancar dari wajah-wajah mereka.

Sementara para orang tua secara bergantian melakukan sembahyang Thauw Gee. Sembahyang dilakukan dalam tiga tahap. Yakni di bagian paling depan untuk menyembah Tuhan atau Allah. Mereka menyalakan tiga buah dupa, memohon, bersujud lalu meletakkan dupa tersebut dalam wadah bulat dari kuningan dengan hiasan naga di sisi kanan dan kiri.

Untuk melengkapi doa mereka, pihak pengurus klenteng telah menata 40 pasang lilin besar hingga ukuran sedang di sisi kanan dan kiri dari pintu masuk ke bagian tengah klenteng. Lilin di sebelah kanan dari arah datangnya pengunjung melambangkan kaum laki-laki. Sedangkan di bagian kiri melambangkan kaum perempuan.

Doa kembali dipanjatkan untuk para dewa-dewi di bagian tengah klenteng. Juga dengan menggunakan sarana tiga buah dupa yang lalu diletakan dalam wadah besar berbentuk kotak, terbuat dari kayu. Setelah memohon dan bersujud, mereka beranjak ke bagian inti untuk menyembah tuan rumah klenteng, yakni Dewa Bumi.

Kepala Klenteng Kong Ling Bio Temanggung, Edwin Nugraha, menjelaskan, tiap klenteng memiliki tuan rumah yang berbeda. Karena di Temanggung sebagian besar merupakan lahan pertanian dan penduduknya hidup dari bercocok tanam, maka tuan rumah yang disembah adalah Dewa Bumi.

"Berbeda dengan klenteng yang ada di daerah dekat laut, maka tuan rumah yang disembah juga berbeda," ujar Edwin.

Mereka yang masih memiliki masalah di dalam keluarganya disarankan untuk berdoa di altar Dewi Kwan Im. Sedangkan bagi mereka yang memiliki penyakit dan ingin sembuh, berdoa di altar Dewa Pengobatan. Juga ada altar dewa lainnya dipasang berjajar di samping bangunan utama klenteng. Mereka yang sudah selesai bersembahyang lalu berkumpul bersama keluarga dan umat lainnya sekedar makan, sembari mengobrol dan bercanda. Suasana akrab dan rukun terasa di setiap sudut klenteng.

"Ini merupakan kesempatan kumpul keluarga dan seluruh warga, tidak hanya umat Buddha tri dharma dan warga Tionghoa saja. Ini merupakan klenteng untuk rakyat, jadi semua orang boleh datang,"ujar Edwin.

Edwin menjelaskan, tidak hanya warga Tionghoa yang datang ke klenteng untuk merayakan Imlek. Ini merupakan perhitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari. Waktu jatuhnya Imlek selalu sama, tidak kurang dari 21 Januari dan tidak lebih dari 21 Februari. Rangkaian acara imlek berlangsung dalam dua pekan sejak Sabtu (25/1).

Warga non Tionghoa yang beragama lain pun ikut datang merayakan dan saling mengucapkan selamat tahun baru Imlek. Mereka yang datang antara lain dari Kelompok Gusdurian, perwakilan gereja-gereja, dan warga biasa yang memang sering datang ke klenteng.

baca juga: Emil Kunjungi Desa di Akhir Pekan

Tjatur, perwakilan dari Gereja Santo Petrus dan Santo Paulus Temanggung mengaku selalu datang ke klenteng tiap kali perayaan Imlek. Saling berkunjung ke umat dan tempat ibadah agama lain, menurutnya sudah menjadi tradisi untuk membina kerukunan antar umat beragama.

"Ini sudah tradisi untuk membina kerukunan antar umat beragama. Biasanya kalau pas Natal, umat dari klenteng juga datang ke gereja kami,"kata Tjatur. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More