Senin 27 Januari 2020, 06:00 WIB

Cegah Tangkal Novel Coronavirus

Siswanto Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI | Kolom Pakar
Cegah Tangkal Novel Coronavirus

kemkes.go.id

KETIKA bicara tentang novel coronavirus 2019 (wuhan coronavirus), supaya mempunyai gambaran menyeluruh, ada baiknya bahasan dimulai dari penyakit infeksi saluran napas (respiratory tract infection). Secara awam, penyakit infeksi saluran napas disebut flu, atau batuk pilek. Namun, kalau sudah parah, apabila sudah mengenai saluran napas bawah, yang ditandai dengan gejala demam tinggi dan sesak napas, secara awam sering disebut penyakit paru-paru basah.

Secara umum penyakit infeksi saluran napas ditandai dengan batuk, hidung tersumbat, pilek, bersin-bersin, nyeri otot, pegal-pegal, sakit tenggorok, sakit kepala, serta demam.

Secara etimologi, penyebabnya bisa bakteri atau virus. Penyebab bakteri bisa oleh Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan lain-lain. Penyebab virus bisa oleh virus influenza, virus parainfluenza, respiratory syncytial viruses (RSV), adenoviruses, rhinoviruses, termasuk coronavirus.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa agen penyebab infeksi saluran napas bisa bakteri, bisa juga virus. Penyebab virus jenisnya juga banyak, tidak selalu coronavirus, yang paling banyak ialah karena virus influenza. Kalaupun penyebabnya coronavirus, belum tentu novel coronavirus 2019 (2019-nCoV).

Hal ini penting untuk dipahami karena akibat ketidakmengertian, banyak masyarakat meminta diimunisasi pneumonia conjugate vaccine (PCV), dengan harapan untuk mencegah penyakit novel coronavirus 2019 (2019-nCoV). Padahal, vaksin PCV, secara spesifik hanya untuk mencegah infeksi Streptococcus pneumonia. Sebagaimana diketahui, karena 2019-nCoV ialah varian baru dari beta coronavirus, belum ada vaksin yang tersedia di pasaran.

Novel coronavirus 2019

Pada dasarnya, coronavirus hidup di sel hewan sebagai host (induk semang). Sementara ini, ada enam coronavirus yang menyerang manusia sebagai host, yakni HCoV-229E, HCoV-NL63, HCoV-OC43, HCoV-HKU1, severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV), dan middle east respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV).

Empat coronavirus selain SARS dan MERS-CoV, yakni HCoV-229E, HCoV-NL63, HCoV-OC43, dan HCoV-HKU1) berkontribusi sekitar sepertiga sebagai penyebab flu (common cold) pada manusia, yang tidak begitu fatal. Namun, SARS dan MERS menunjukkan fatalitas yang tinggi (menyebabkan kematian).

Sesuai dengan kasus awal yang muncul, diduga asal mula 2019-nCoV ialah pasar seafood di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, yang menjual berbagai jenis hewan untuk dikonsumsi. Karena infeksi 2019-nCoV ini telah mewabah ke hampir semua provinsi di Tiongkok, sejak akhir Desember 2019 pasar tersebut sudah ditutup.

Bila dilihat dari pohon filogenetik (kekerabatan urutan nukleotida), 2019-nCoV dekat dengan MERS-CoV dan SARS. Yang jelas, 2019-nCoV ialah varian baru coronavirus yang menyerang manusia. Notasi 'n' di depan coronavirus, maknanya ialah 'novel' atau 'baru'. Artinya, 2019-nCoV ialah virus yang baru muncul, yang menyerang manusia.

Sampai dengan 25 Januari 2020, laporan resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan telah terdapat 1.320 kasus terkonfirmasi novel coronavirus 2019. Dari 1.320 kasus, sebanyak 1.297 kasus dilaporkan berasal dari Tiongkok, sisanya di luar Tiongkok. Mencakup 8 negara, yakni Jepang (3 kasus), Korea (2 kasus), Vietnam (2 kasus), Thailand (4 kasus), Singapura (3 kasus), Amerika Serikat (2 kasus), Prancis (3 kasus), dan Nepal (1 kasus).

Dari 1.320 kasus, sebanyak 237 kasus termasuk dalam kategori sakit berat (severely ill) (18%). Dari 1.320 kasus tersebut, dilaporkan ada 41 kematian. Dengan demikian, case fatality rate (CFR) ialah sekitar 3%. Dengan melihat data itu, bisa dikatakan bahwa tingkat fatalitasnya lebih rendah daripada SARS dan MERS-CoV.

Dari jurnal yang dimuat di Lancet yang terbit 24 Januari 2020, dari 41 kasus 2019-nCoV yang dirawat di Kota Wuhan, teridentifikasi bahwa faktor-faktor yang menyebabkan pasien terinfeksi 2019-nCoV menjadi parah (dirawat di ICU) ialah karena adanya komorbiditas penyakit lain (diabetes, jantung, penyakit paru kronis), ada sesak napas, keterlambatan merujuk ke rumah sakit yang tepat, menderita tekanan darah tinggi, dan adanya frekuensi napas yang cepat (> 24 kali per menit).

Penyebab kematian ialah komplikasi dari infeksi, seperti acute respiratory distress syndrome (ARDS), acute cardiac injury, acute kidney injury, ataupun adanya secondary infection.

Yang perlu diperhatikan masyarakat

Sebagaimana telah dijelaskan di depan, bahwa infeksi novel coronavirus 2019 (2019-nCoV) menyerang saluran napas. Dengan demikian, gejala yang muncul ialah gejala flu (flu like syndrome), yakni demam, batuk pilek, gangguan pernapasan, nyeri tenggorok, dan nyeri otot (letih, lesu).

Selanjutnya, apabila penyakit bertambah parah dan menyerang saluran pernapasan bagian bawah, bisa menjadi pneumonia, yang ditandai adanya gejala sesak napas (karena terjadi konsolidasi jaringan paru). Orang awam menyebut pneumonia dengan sebutan paru-paru basah.

Karena 2019-nCoV ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan, penularannya melalui droplets, yakni dari partikel batuk/bersin penderita atau carrier 2019-nCoV, lalu menular pada kontak melalui saluran napas.

Kontak adalah orang yang berhubungan dengan pasien atau karier pembawa 2019-nCoV. Tentu penularan dengan droplets, tidak seperti asap yang meluas dengan cepat (terbawa oleh angin). Artinya, dalam proses penularan harus ada riwayat kontak secara dekat dengan penderita atau carrier.

Untuk pencegahan penularan novel coronavirus 2019, WHO menyarankan hal-hal berikut. Pertama, selalu mencuci tangan dengan air dan sabun, atau diusap dengan alkohol. Kedua, bila batuk atau bersin, tutup mulut dengan tangan atau tisu. Ketiga, hindari kontak dengan orang yang menderita demam dan batuk-pilek. Keempat, menggunakan masker bila bepergian pada wilayah/area yang memungkinkan penularan 2019-nCoV.

Lalu, kelima, jika menderita panas, batuk pilek, segera mencari pertolongan dan ceritakan riwayat perjalanan sebelum jatuh sakit. Keenam, bila ke pasar hewan hidup, hindari kontak langsung dengan hewan. Ketujuh, makan makanan yang bergizi, hindari memakan makanan yang tidak dimasak, dan, kedelapan, untuk petugas kesehatan yang merawat harus menggunakan alat pelindung diri (APD) yang adekuat dan selalu mencuci dengan sabun/alkohol setelah kontak dengan pasien.

Infeksi novel coronavirus 2019 bisa bermanifestasi seperti flu biasa maka cegah tangkal yang dilakukan harus lebih cermat dan penuh kehati-hatian. Juga, karena diperkirakan masa inkubasinya sampai dengan 14 hari, tentu orang dengan riwayat bepergian dari daerah terjangkit harus diamati sampai 14 hari terkait dengan munculnya gejala panas dan batuk piliek, sebagai gejala infeksi saluran napas.

Prevent, detect, and respond

Dalam menangani penyakit infeksi yang baru muncul (new emerging disease), pemerintah Indonesia, melalui Inpres No 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia, telah menetapkan 24 kementerian/lembaga, termasuk, di dalamnya gubernur/bupati/wali kota, untuk melakukan sinergi dan integrasi dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons wabah penyakit dan pandemi global.

Dalam perspektif cegah tangkal novel coronavirus 2019, pencegahan yang efektif ialah melakukan komunikasi risiko yang tepat dan proporsional (edukasi kepada masyarakat untuk pencegahan penularan). Lalu, screening yang adekuat terhadap suspek di pintu masuk wilayah Indonesia (bandara dan pelabuhan) melalui thermal scanner untuk deteksi orang dengan demam. Juga, pengamatan (surveilans) terhadap orang dengan infeksi saluran napas (batuk-pilek, demam, sesak napas).

Bila ada kecurigaan suspek, akan dirujuk ke rumah sakit. Bila tidak, akan diberi terapi yang sesuai dengan sakitnya dan diberi kartu kewaspadaan kesehatan (health alert card/HAC). Di samping itu, penumpang dan crew pesawat yang datang dari negara/area terjangkit juga diberikan HAC.

HAC penting fungsinya, sebagai instrumen observasi pada suspek atau orang dengan riwayat kontak. Untuk pemegang kartu HAC, apabila dalam rentang waktu 14 hari dia menderita infeksi saluran napas, saat pergi ke fasyankes (puskesmas, klinik, rumah sakit) dia harus menyerahkan kartu tersebut. Dengan demikian, akan memudahkan petugas kesehatan untuk merespons secara tepat dan adekuat.

Dalam konteks pendeteksian, peran laboratorium surveilans menjadi sangat penting. Sesuai dengan Permenkes No 658/MENKES/PER/VIII/2009 tentang Jejaring Laboratorium Diagnosis Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging, telah ditetapkan laboratorium rujukan nasional ialah Laboratorium Badan Litbang Kesehatan.

Untuk memperluas jangkauan, laboratorium pelaksana ialah laboratorium kesehatan masyarakat atau laboratorium riset yang mempunyai kemampuan biomolekuler untuk melakukan pemeriksaan awal spesimen suspek 2019-nCoV dari rumah sakit rujukan, sebelum dilakukan uji konfirmasi dengan sekuensing di laboratorium rujukan nasional, yaitu Badan Litbangkes.

Hal lain yang sangat penting dalam menangani penyakit infeksi new-emerging, (novel coronavirus), handling spesimen harus memenuhi standar biosafety dan biosecurity. Biosafety dikandung maksud bahwa personel laboratorium yang mengerjakan harus terproteksi dengan baik dari bahaya penularan.

Selanjutnya, biosecurity dikandung maksud bahwa agent yang berbahaya (virus) tidak boleh bocor dan lepas ke lingkungan di luar laboratorium, yang bisa membahayakan masyarakat. Oleh karena itu, laboratorium yang menangani spesimen terduga novel coronavirus harus pada level minimal BSL-2 (biosafety level 2).

Dalam konteks merespons, fasyankes (puskesmas, klinik, rumah sakit) harus siap untuk mampu melakukan respons secara adekuat dan tepat bila menerima pasien suspek novel coronavirus. Sudah tentu, kalau ada suspek infeksi novel coronavirus harus dirawat secara adekuat dan tepat dengan mempertimbangkan keselamatan pasien dan keamanan personel yang memberikan pelayanan.

Dalam hal ini, tentu perlu ruang isolasi yang terstandar, untuk mencegah penyebaran dan penularan virus. Petugas kesehatan juga harus mengenakan APD yang adekuat sesuai dengan standar, untuk pencegahan penularan.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini mampu meningkatkan literasi kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat berpikir, bersikap, dan bertindak secara tepat dan proporsional dalam merespon mewabahnya novel coronavirus.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Pandemi, Solidaritas, dan Demokrasi

👤Otto Gusti Dosen Filsafat Politik dan HAM di STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT Alumnus Program Doktoral dari Hochschule fuer Philosophie Muenchen, Jerman 🕔Senin 26 Oktober 2020, 03:00 WIB
Dalam sebuah masyarakat modern, dan plural, seperti Indonesia, pelibatan seluruh elemen bangsa hanya mungkin lewat sebuah proses...
Dok. Pribadi

Eliminasi Pandemi, Mungkinkah?

👤Iqbal Mochtar Dokter, Doktor Bidang Kedokteran dan Kesehatan, Pemerhati Masalah Kesehatan, Anggota Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional 🕔Senin 19 Oktober 2020, 02:55 WIB
Ahli kesehatan menyebut tiga jalan utama pandemi covid-19 dapat tereliminasi, yaitu lewat herd immunity, tata laksana standar outbreak, dan...
Dok. Pribadi

Mencari Titik Temu

👤Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Direktur Eksekutif Next Policy 🕔Senin 12 Oktober 2020, 02:45 WIB
Tekanan yang dilakukan para buruh pun kemudian mereda karena keberhasilan program ini dalam memenuhi kepentingan para buruh dan juga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya