Minggu 26 Januari 2020, 18:17 WIB

BBWSCC Sebut Kali Angke Tersumbat karena Penimbunan Karang

 Dede Susianti | Megapolitan
BBWSCC Sebut Kali Angke Tersumbat karena Penimbunan Karang

ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Sejumlah anak bermain di Sungai Ciliwung yang mengalami pendangkalan di Kampung Pulo, Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

KEPALA Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Bambang Hidayah menjelaskan banyak faktor penyebab banjir di DKI Jakarta.

Selain curah hujan yang sangat tinggi, penyebab lain adalah belum optimalnya pembangunan prasarana pengendalian banjir. Dia menyebut sejak 2017 normalisasi sungai belum dapat dilanjutkan karena kendala pembebasan lahan.

"Beberapa sungai yang belum selasai itu Pesanggrahan, Kali Angke, Kerukut, Cipinang, Sunter. Ini belum tuntas semua masih sebgaian kegiatan karena lahan belum bebas," papar Bambang saat menerima kunjungan rombongan Komisi V DPRD RI, di Bendungan Ciawi (Cipayung) beberapa waktu lalu.

Fakta lain yang dibeberkan Bambang adalah soal kondisi di Banjir Kanal Barat (BKB) yang sulit untuk mengalirkan air ke laut termasuk dalam kondisi normal. Hal itu karena di hilir, setelah Botabek, atau setelah pintu air Karet, ada titik- titik yang juga merupakan bottle neck.

"Dari BKB seperti Kali Angke, banyak nelayan, tidak mau normalisasi. Bahkan mereka terus saja menimbun karang- karang di BKB ini. Sampai ada yang mengatakan percuma juga BKB, ngak bisa ngalirin, karena di situlah permasalahannya. Belum ada yang bisa dinormalisasi," jelas Bambang.

Dia juga menyebutkan ada satu jembatan bottle neck di Pantai Indah Kapuk (PIK). Pendirian bangunan jembatan tersebut pun liar alias tidak berizin.

"Jadi jembatan itu, tanpa ijin kami dibangun, sehingga sekarang ini selalu jadi bottle neck di Banjir Kanal Timur," katanya.

Di hadapan para anggota DPR, Bambang menjelaskan progres pelaksanaan pengendalian banjir sungai baik untuk di wilayah barat DKI maupun di wilayah timur DKI.

Baca juga: Tahun Ini, Dinas SDA DKI Bangun 30 Unit IPAL Komunal

Untuk di wilayah barat, katanya, dilakukan normalisasi Sungai Pesanggrahan yang direncanakan sepanjang 42 km dengan kapasitas 260 m3/dt. Saat ini sudah selesai 22,6 km dan sisanya 20 km menunggu pembebasan lahan oleh Pemda DKI.

Untuk normalisasi Sungai Angke, lanjutnya, direncanakan sepanjang 33,4 km dengan kapasitas 203 m3/dtk. Saat ini sudah selesai 26,4 km. Sementara sisanya 7 km juga menunggu pembebasan lahan oleh Pemda DKI dan Pemda Kota Tanggerang.

Kemudian untuk normalisasi Sungai Krukut direncanakan sepanjang 31 km. Saat ini baru selesai 1,5 km. 

"Untuk sisanya, kami juga menunggu pembebasan lahan oleh Pemda DKI," katanya.

Sementara itu, pelaksanaan pengendalian banjir sungai di wilayah timur DKI, dilakukan normalisasi Sungai Sunter. Normalisasi sungai sunter direncanakan sepanjang 32,3 km dengan kapasitas 146 m3/dtk.

"Saat ini sudah selesai 28,6 km, sisanya 4 km. Kami masih menunggu pembebasan lahan oleh Pemda DKI," pungkasnya. (A-2)

Baca Juga

Antara

DPRD DKI Rela Anggaran Kunker Dipangkas

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 01 April 2020, 18:39 WIB
Pada periode Maret-Mei, jelasnya, ada delapan kunker yang dibatalkan. Kunker meliputi kegiatan oleh komisi, fraksi, badan anggaran, dan...
ANTARA

51 Pasien Covid-19 di Jakarta Sembuh

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Rabu 01 April 2020, 18:32 WIB
Jumlah ini meningkat dari sebelumnya sebanyak 49 orang...
Istimewa

Lawan Covid-19, Napi Rutan Depok Berjemur Massal

👤Kisar Rajagukguk 🕔Rabu 01 April 2020, 16:40 WIB
Upaya pencegahan sebaran virus korona atau covid-19 dilakukan Rutan Cilodong, Kota Depok dengan menjemur para napi dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya