Minggu 26 Januari 2020, 15:59 WIB

Peneliti Ungkap Gambaran Klinis Pasien Terinfeksi Virus Korona

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Peneliti Ungkap Gambaran Klinis Pasien Terinfeksi Virus Korona

Roslan Rahman/AFP
Sejumlah wisatawan berjalan di Marina Bay, Singapura, dengan mengenakan masker untuk melindungi diri dari potensi penyebaran virus korona.

 

TIM yang mencakup 29 peneliti melaporkan karakteristik epidemiologis, klinis, laboratorium dan radiologis serta pengobatan dan hasil klinis pasien yang terjangkit virus korona yang berasal dari Wuhan, Tiongkok.

Kasus penyakit pneumonia yang menggemparkan Wuhan disebabkan novel coronavirus, virus korona baru atau 2019-nCoV. Sindrom gagal napas akut (ARDS) dan syok didefinisikan sesuai pedoman sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk virus korona.

Pada 2 Januari 2020, sebanyak 41 pasien dirawat di rumah sakit telah diidentifikasi memiliki infeksi 2019-nCoV yang dikonfirmasi laboratorium. Sebagian besar pasien yang terinfeksi adalah laki-laki, yakni 30 orang (73% dari 41). Kurang dari setengahnya memiliki penyakit yang mendasarinya (13 orang atau 32%), termasuk diabetes (8 orang atau 20%)), hipertensi (6 orang atau 15%) dan penyakit kardiovaskular (6 orang atau 15%).

Usia rata-rata pasien adalah 49 tahun (IQR 41–58). Kemudian, 27 dari 41 pasien terpapar makanan laut Pasar Huanan. Satu kluster keluarga ditemukan. Gejala umum pada awal penyakit adalah demam (40 atau 98% dari 41 pasien), batuk (31 atau 76%) dan myalgia atau kelelahan (18 atau 44%). Gejala yang kurang umum adalah produksi dahak (11 orang dari 39 pasien), sakit kepala (3 orang dari 38 pasien), hemoptisis (2 orang dari 39 pasien), dan diare (1 orang dari 38 pasien).

Baca juga: Ada Dugaan Virus Korona di Wuhan Dari Sup Kelelawar

Sementara itu, gejala dyspnoea (sesak nafas) berkembang pada 22 orang dari 40 pasien. Sebanyak 26 orang dari 41 pasien menderita limfopenia. Sebanyak 41 pasien memiliki pneumonia dengan temuan abnormal pada CT (Computed Tomography) scan dada. Komplikasi termasuk sindrom gangguan pernapasan akut (12 pasien atau 29%), RNAaemia (6 pasien atau 15%), cedera jantung akut (lima pasien atau 12%), dan infeksi sekunder (4 pasien atau 10%). Sekitar 13 pasien dirawat di ICU dan 6 pasien meninggal dunia. Dibandingkan pasien non-ICU, pasien ICU memiliki kadar plasma IL2, IL7, IL10, GSCF, IP10, MCP1, MIP1A, dan TNF yang lebih tinggi.

Interpretasi

Infeksi 2019-nCoV menyebabkan cluster penyakit pernapasan parah mirip dengan virus korona sindrom pernafasan akut parah (SARS).

“Kesenjangan utama dalam pengetahuan kami tentang asal, epidemiologi, durasi penularan manusia dan spektrum klinis penyakit perlu disempurnakan oleh penelitian di masa depan,” ujar tim peneliti dalam laporan mereka.

Meskipun sebagian besar infeksi virus korona pada manusia relatif ringan, epidemi kedua betacoronaviruses, SARS-CoV dan virus korona sindrom pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV), telah menyebabkan lebih dari 10.000 kasus kumulatif dalam dua dekade terakhir. Itu dengan tingkat kematian 10% untuk SARS-CoV dan 37% untuk MERS-CoV.

Pasien yang terinfeksi 2019-nCoV berpotensi mengalami perkembangan sindrom gangguan pernapasan akut, memiliki kemungkinan tinggi masuk ke perawatan intensif dan risiko kehilangan nyawa.

“Kami berharap temuan penelitian kami akan menginformasikan masyarakat global tentang kemunculan novel coronavirus ini dan fitur klinisnya," lanjut laporan tersebut.

Hasil

Gejala pasien pertama yang teridentifikasi pada 1 Desember 2019. Sebagai informasi, tidak ada anggota keluarganya mengalami demam atau gejala pernapasan. Pun, tidak ada hubungan epidemiologis yang ditemukan antara pasien pertama dan kasus selanjutnya.

Pasien dari kasus fatal pertama dirawat di rumah sakit karena riwayat demam selama tujuh hari, batuk dan dyspnoea. Lima hari setelah timbulnya penyakit, sang istri, yang tidak memiliki riwayat ke pasar, juga menderita pneumonia dan dirawat di ruang isolasi sebuah rumah sakit.

Dana penelitian ini berasal dari Kementerian Sains dan Teknologi, Chinese Academy of Medical Sciences, National Natural Science Foundation of China, dan Beijing Municipal Science and Technology Commission.(The Lancet/OL-11)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More