Minggu 26 Januari 2020, 09:20 WIB

Menelusuri Artefak Suku Laut

Galih Agus Saputra | Weekend
Menelusuri Artefak Suku Laut

Dok. Panitia Pamrean Orang Laut
Pengunjung tampak tengah mengamati instalasi Sapau.

SUKU Duano ialah sebutan bagi orang-orang yang dewasa ini hidup di sebuah delta, di wilayah Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Sementara itu, suku Asli ialah sebutan bagi mereka yang hidup di Kabupaten Lingga atau lebih tepatnya di Kepulauan Riau.

Dua suku tersebut, tahun lalu, menjadi objek amatan mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia (UI) dalam sebuah program kerja tahunan bertajuk Ekskursi Arsitektur UI. Tujuan kegiatan ini ialah mendokumentasikan arsitektur vernakular atau bangunan yang terbentuk berdasarkan kebudayaan di sebuah tempat dan masih dapat ditemukan hingga sampai saat ini.

Hasil pendokumentasian selama tiga minggu itu lantas dipajang di sebuah pameran bertajuk Orang Laut: Pengarung Lautan Beratap Kajang. Pameran itu berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, 17-31 Januari. Melalui pameran tersebut, mereka ingin masyarakat mengetahui bagaimana kehidupan suku Duano dan suku Asli.

“Kita sendiri pada dasarnya menyebut mereka ‘Orang Laut’. Namun, sebenarnya kalau di sana, mereka tidak nyaman dengan sebutan itu. Mereka lebih suka disebut suku Duano, walau arti sebenarnya tetap sama, yaitu orang laut. Suku Asli juga sama, mereka sebenarnya masih dalam satu anggota suku Laut,” tutur penanggung jawab pameran, Melina Anggita, saat ditemui Media Indonesia, di Museum Nasional Indonesia, Rabu (22/1).

Melina menjelaskan sumber kehidupan kedua suku tersebut seluruhnya berasal dari laut. Huniannya juga di laut, tetapi mereka yang hidup di Riau lebih tampak seperti hidup di rawa-rawa karena berada di pinggir pantai yang dipenuhi hutan mangrove. Sementara itu, mereka yang berada di Kepulauan Riau, kebanyakan menghuni pulau-pulau kecil dan langsung bersentuhan dengan air laut yang berwarna biru.

Selama berkunjung ke sana, menurut Melina, mahasiswa UI tidak hanya mendokumentasikan arsitektur, tapi juga menelusuri pola atau bagaimana cara mereka bertahan hidup sejak lahir hingga akhir hayat. Bentuk dokumentasinya ada yang berupa sketsa, foto, dan video. Selain itu juga ada peta (map) yang menggambarakan titik-titik tertentu dan dianggap penting bagi kehidupan ‘Orang Laut’.

 “Sebab, bagi kami, arsitektur itu sebenarnya tidak hanya berbicara soal bangunan seperti rumah dan lain-lain saja. Arsitektur juga melihat bagaimana cara hidup manusia dan sekelilingnya, yang kebetulan di sini mereka tinggal di rumah, tapi lebih sering di laut atau di kapal. Jadi itulah alasan kita mengapa kita juga menaruh kapal di sini, sebagai simbol atau gambaran hunian mereka,” tuturnya.

Menariknya, dari pengamatan mahasiswa selama berkunjung ke sana, hingga saat ini mereka masih menjaga pola hidup yang lebih banyak bergantung dengan laut ketimbang pada apa yang ada di rumah. Dari bangun pagi, mereka sudah mulai berpikir untuk ke laut, bahkan anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun pun sudah mahir mendayung perahu atau sampan.

Saat usia 15 tahun, anak ‘Orang Laut’ selanjutnya akan dianggap sudah dewasa dan harus memiliki sampan sendiri. Cara mendapatkan sampan itu, di zaman modern seperti saat ini, bisa ditempuh dengan cara mengumpulkan uang sendiri melalui hasil tangkapan di laut. Dalam mencari sumber daya di laut, mereka juga memiliki hitungannya dan selalu berputar mengikuti bulan.

“Kalau bulannya lagi penuh atau airnya sedang surut, mereka mengambil rumput laut. Kalau bulannya tidak kelihatan atau pasang, berarti waktunya menombak. Itu baru secara bulan, tetapi kalau secara tahunan, mereka juga mengenal berbagai macam musim, mulai musim selatan, utara, barat, dan sebagainya. Kegiatan setiap musim ini juga berbeda-beda, misalnya, kalau musim barat dan timur, mereka menangkap dugong. Lalu, kalau musim selatan dan utara, mereka hanya menombak di pinggir-pingir laut,” tutur Melina.

 

Kajang

Apa yang menjadi ciri khas bagi ‘Orang Laut’, menurut Melina, ialah kajang atau atap berbentuk segitiga yang dipasang di atas kapal dan terbuat dari daun mengkuang. Atap itu sangat penting bagi mereka karena pada zaman dahulu sebelum mereka mengenal hidup di rumah atau di darat, mereka selalu memanfaatkannya sebagai tempat lidung di atas kapal. Materinya cukup ulet, tidak mudah getas, dan cukup kuat walau hanya diganti selama setahun sekali.

Meski begitu, ‘Orang Laut’ juga mengenal sapau. Melina menggambarkan bahwa sapau hampir mirip dengan gubuk petani di atas sawah, hanya saja mereka bertengger di atas laut. Seluruh dinding dan atapnya juga terbuat dari daun mengkuang, di samping memiliki tambahan materi berupa kayu panjang atau yang disebut pancang. “Kalau mereka pergi lagi karena mereka nomaden, sapau ini semuanya dicabut. Digulung, lalu ditaruh di atas kapal lagi, setelah itu barulah mereka kembali mengarungi lautan,” imbuhnya.

Rumah redi memiliki dua pelataran yang mana sisi depannya mengarah ke darat dan pelataran belakangnya mengarah ke air sebagai tempat berlabuh sampan. Rumah ini juga dibangun menghadap ke timur karena dalam kepercayaan suku Duano, pintu masuk rumah harus menghadap ke matahari terbit sebagai sumber kehidupan. Rumah redi juga disusun atas kayu bakau sebagai rangka dan pajang, kayu nibong sebagai lantai, dan kulit kayu sebagai tembok serta beratapkan daun nipah.

Selain itu, ‘Orang Laut’ juga menge nal rumah bagan. Bangunan ini dibuat mereka untuk dimanfaatkan sebagai tempat hunian ketika berada di laut selama empat hingga enam bulan sampai akhirnya kembali ke rumah redi. Rumah jenis ini juga memiliki dua pelataran, yang mana pelataran depan untuk mengolah hasil tangkapan di laut, sedangkan pelataran belakang untuk kamar mandi dan tempat menyimpan drum air. Orientasinya juga selalu ke arah utara atau selatan karena untuk menangkap sinar matahari yang dimanfaatkan untuk mengeringkan hasil tangkapan laut. Laut ‘Orang Laut’ juga mengenal apa yang disebut rumah pancang. Rumah ini sebenarnya ialah program pemerintah atau juga dikenal sebagai rumah layak huni. Salah satu narasumber Melina mengatakan bahwa rumahnya diperoleh pada 2004. Namun, karena kebanyakan dari mereka tidak suka di darat, akhirnya semua bahan yang diperoleh dicopot lalu dibangun kembali di tepi laut. Jauh setelah itu,

 

Laut

‘Orang Laut’ lantas mengenal apa yang disebut bonu redi. Bonu (baca: rumah) redi ialah sebutan bagi hunian yang didirikan suku Duano ketika pertama kali berlabuh di darat atau lebih tepatnya di Desa Bekawan pada 1918. Berbeda dengan sapau yang hanya berbentuk persegi dan memiliki sekat untuk dua ruangan, rumah redi susunanya lebih kompleks karena pada saat itu suku Duano berpikir bahwa mereka hendak tinggal cukup lama di darat.

Menurut Melina, ‘Orang Laut’ pada dasarnya tidak mau direpotkan dengan urusan kepemilikan di darat. Salah satu contoh kasus, pada zaman dahulu ketika mereka menga rungi laut dan kembali ke suatu pulau, ternyata pulau tersebut sudah dihuni orang Melayu sehingga mereka memilih kembali melaut dan mencari pulau lainnya sebagai tempat singgah.

“Kalau kata mereka, kita maunya hidup adem-adem saja, tidak mau terlalu pusing,” tutur Melina, mengulang perkataan salah satu narasumbernya.

‘Orang Laut’ hanya menggunakan sebagian kecil wilayah di darat untuk mendukung keperluannya di laut. Darat, bagi mereka, dapat digunakan untuk menguburkan anggota keluarga yang sudah meninggal atau tempat yang dikeramatkan bagi jenazah para leluhur. Kala menguburkan jenazah, ‘Orang Laut’ juga memiliki satu sampan khusus yang disebut bocay. Sampan ini berbentuk persegi panjang dan di dalamnya memiliki kotak seperti peti. Dalam kehidupan masyarakat modern, perangkat ini utilitasnya seperti keranda dan ambulan.

Satu lagi, ‘Orang Laut’ juga mengenal apa yang disebut rumah panjang. Dikatakan demikian karena bentuknya memang memanjang dan terbentuk melalui proses pembangunan seturut dengan bertambahnya anggota keluarga. Seperti rumah-rumah lainnya yang ada di sana, rumah ini juga memiliki dua pelataran. Pelataran belakangnya digunakan untuk memudahkan mereka menurunkan hasil tangkapan laut sehingga tidak perlu lama mengantre di dermaga.

Selama bertahan hidup dengan mencari hasil tangkapan laut, baik suku Duano maupun suku Asli juga memiliki alat yang disebut sondong dan terul. Secara teknis, kedua alat itu tidak memiliki perbedaan karena sama-sama terbuat dari dua bilah bambu yang mana di antaranya terdapat jaring untuk mengangkap hasil laut. Namun, sondong digunakan secara manual oleh para pelaut, sedangkan terul dipasangkan di atas perahu dan dimensinya lebih luas ketimbang sodong.

Adapun perahu yang biasa digunakan untuk melaut juga terdiri atas beberapa bagian sesuai fungsi masing-masing. Pertama ada balok kayu yang berada di dasar sampan atau yang disebut luna. Balok ini mengikat kayu berbentuk segitiga dan menghubungkan dengan rangka lainnya atau disebut kong.

Pada bagian lainnya, ada konstruksi yang disebut gading, yang terpaut pada kong, dan menahan papan sebagai tempat berpijak para pelaut, sekaligus membentuk dimensi ruang pada bagian bawah. Sampan ini dalam bentuk jadi memiliki tiga bagian (level) pada lambungnya, yang memiliki fungsi masing-masing, mulai tempat resapan air sebagai penyeimbang sampan, tempat perbekalan selama melaut, dan tempat kemudi atau berpijak pelaut. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More