Minggu 26 Januari 2020, 09:10 WIB

Budi S Tanuwibowo, Kembali ke Makna yang Sejati

Fetry Wuryasti | Weekend
Budi S Tanuwibowo, Kembali ke Makna yang Sejati

MI/BARY FATAHILAH
Ketua Umum Matakin, Budi S Tanuwibowo

PADA suatu ketika, semarak selebrasi Imlek dan kemeriahan barongsai bukanlah sesuatu yang dapat dihelat leluasa di Tanah Air. Pada Orde Baru, tatkala perayaan Imlek dan adat istiadat serta ibadah masyarakat Tionghoa lainnya terpaksa dilakukan jauh dari pandangan publik.

Era tersebut kini sudah berlalu. Bukan saja umat Tionghoa yang beragama Konghucu bebas menjalankan dan merayakan ritual mereka, bahkan pemerintah telah mengakui Imlek sebagai salah satu hari nasional di Indonesia, menjadi tanggal merah layaknya hari-hari besar keagamaan lain di Tanah Air.

Media Indonesia, pada Rabu (22/1/2020), berkesempatan berbincang seputar Imlek dengan Wakil Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti), sekaligus Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Budi S Tanuwibowo di Jakarta. Berikut petikannya:

 

Bisa diceritakan tentang sejarah Imlek?

Tahun ini adalah Tahun Baru Imlek ke-2571 Yinli/Kongzili. Disebut Kongzili karena kalender Imlek mengacu pada tahun kelahiran Nabi Kongzi/Confucius/Konghucu pada 551 SM sehingga tahun 2020 Masehi sama dengan 2571 Yinli/Kongzili (551+2020= 2571).

Imlek, yang merupakan istilah bahasa Hokkian, memiliki arti kalender lunar, yang berdasarkan orbit bulan mengelilingi Bumi. Kalender ini ada sejak 2695 SM, diciptakan Kaisar Kuning (Huang Ti), nabi keempat dalam agama Konghucu yang juga seorang astronom.

 

Tahun Baru Imlek menggunakan kalender buatan Nabi Huang Ti, diterapkan sejak Dinasti Xia, dinasti pertama dalam sejarah Tiongkok kuno. Dinasti Xia menetapkan awal tahun baru pada awal musim semi. Alasannya, musim semi menjadi awal baik untuk memulai sebuah kerja dan karya baru.

Tahun Baru Imlek sempat beberapa kali berubah saat pergantian dinasti, tapi Nabi Kongzi kemudian menekankan penting untuk kembali menggunakan sistem penanggalan Dinasti Xia sebab penanggalan tersebut cocok untuk menghitung tibanya pergantian musim, untuk jadi pedoman masyarakat yang pada waktu itu adalah petani dan nelayan, sehingga tahun baru di musim semi langsung masuk masa bercocok tanam.

 

Jadi, tahun baru kembali diidentikkan dengan kerja?

Nasihat Nabi Kongzi itu memang sekaligus menyiratkan tiga hal penting. Satu, pemerintahan yang baik haruslah benar-benar memperhatikan kepentingan rakyat sampai pada hal yang sekecil-kecilnya.

Kedua, apa yang baik bagi rakyat haruslah dilaksanakan. Ketiga, tahun baru tidaklah merupakan waktu untuk berpesta pora, tetapi momentum untuk memulai sebuah karya dan kerja baru.

Nabi Kongzi sendiri hidup antara 551-479 SM, yaitu pada masa dinasti Zhou (1122-255 SM). Nasihat nabi untuk Dinasti Zhou agar kembali menggunakan kalender Dinasti Xia, baru dilaksanakan pada masa Dinasti Han (140-86 SM) dan dipakai hingga saat ini. Sebagai penghormatan, penghitungan tahun pertama kalender Kongzili ditetapkan Kaisar Han Wu De dimulai dari tahun kelahiran Nabi Kongzi (551 SM).

 

Jadi, makna Imlek itu apa?

Makna pertama, Imlek adalah hari pertama, bulan pertama, dan sebuah tahun baru menurut sistem penanggalan Imlek. Imlek menjadi hari pertama seperti halnya 1 Januari pada tahun Masehi dan 1 Muharam pada tahun Hijriah.

Kedua, makna astronomis karena penghitungannya benar-benar sesuai astronomis. Di zaman 4.700 tahun yang lalu, tanpa kalender pun bisa menghitung secara tepat seperti kalender sekarang.

Ketiga, adalah makna agamis. Karena ketika Nabi Huang Ti menciptakan kalender Imlek, dia berpikir untuk setiap puncak atau awal dari sebuah musim ada sembahyang syukur kepada Tuhan.

Seperti saat Imlek, sembahyang sebelum memulai kerja baru untuk bercocok tanam. Memasuki musim panas pada saat Peh Cun, umat merasakan hawa yang cerah. Kemudian di musim gugur, umat merasakan musim panen. Kemudian di musim dingin, umat bersyukur bisa bertahan hidup.

 

Mengapa Imlek di Indonesia identik dengan hujan?

Kalender Imlek dalam penghitungan bulannya memakai kalender bulan, sedangkan kalender Masehi berdasarkan orbit Bumi mengelilingi matahari (solar). Selisih 11 hari kalender lunar dari kalender solar akibat adanya bulan kabisat, dikonversi kalender Imlek dengan menyisipkan bulan ke-13 sehingga pada periode 19 tahun Imlek, akan ada 7 kali bulan kabisat, terjadi 13 bulan.

Oleh karena itu, tanggal hari Imlek maju dan mundur dengan kisaran antara 20 Januari-19 Februari. Titik tengah antara tanggal ini adalah 5 Februari atau 4 Februari bila kabisat, itulah awal permulaan musim semi di wilayah utara khatulistiwa.

Dengan rentang waktu Imlek berada di antara 20 Februari–19 Februari, Indonesia sedang berada pada musim hujan. Maka, kalau Imlek mayoritas di musim hujan, bukan terkait dengan rezeki atau tidak. Boleh saja dipercaya doa yang baik-baik.

 

Di Indonesia, perayaan Imlek biasanya seperti apa?

Makna agamisnya, juga Imlek, diperingati selama 22 hari, yaitu selama 7 hari sebelum Imlek ada hari kepedulian atau persaudaraan. Setiap orang yang mau merayakan Imlek punya kewajiban untuk menyantuni saudaranya yang tidak bisa merayakan Imlek.

Ketika malam Imlek, keluarga besar berkumpul dan makan bersama. Mereka menggambarkan makna unity, persatuan, kekeluargaan, dan persahabatan. Pada pukul 23.00 WIB sebelum pergantian hari, mereka akan berdoa, bisa di kelenteng maupun di rumah.

Isinya adalah mohon ampunan atas kesalahan selama tahun berjalan. Di hari Imlek, mereka akan berdoa di pagi hari, berprasetia bahwa hidup di tahun baru akan lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kemudian mereka saling bersungkeman.

 

Lalu, kaitannya dengan Cap Go Meh?

Selama 15 hari, mereka yang merayakan Imlek akan silaturahim, yang muda mengunjungi yang tua. Di akhir 15 hari, yaitu dua minggu setelah tahun baru, akan diselenggarakan Cap Go Meh. Cap go berarti 15.

Perayaan hari ke-15 ini untuk mengakhiri pesta Imlek, orang bersukaria. Penyelenggaraannya mulai barongsai, liong, petasan, kembang api, musik Tionghoa, cokek, dan ondel-ondel. Di Indonesia bahkan ada akulturasi, yaitu makan lontong cap go meh yang sebenarnya lontong opor biasa.

 

Masyarakat Tionghoa mulai leluasa merayakan Imlek sejak era Presiden Gus Dur. Bagaimana sebelumnya?

Orang banyak mengatakan itu terjadi sejak zaman pemerintahan Gus Dur. Sebenarnya tidak tepat karena orang Tionghoa masuk Indonesia sejak lama. Terbukti dari kelenteng paling tua yang dibangun pada 1293 di Surabaya bernama Hong Tiek Hian, bersamaan saat berdirinya kerajaan Majapahit. Selain itu, pada 1729 sudah ada pesantren Konghucu di Jakarta. Organisasi Konghucu sudah ada sejak 1900 bernama Tiong Hoa Hwee Koan, yang belakangan lebih konsentrasi kepada pendidikan. Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia berdiri sejak 1923.

Ketika Indonesia merdeka, Presiden RI Soekarno pada 1946 mengeluarkan penetapan pemerintah mengenai hari-hari libur. Umat Konghucu pada waktu itu, 90% orang Tionghoa beragama Konghucu, memiliki 4 hari libur fakultatif, yaitu Tahun Baru Imlek, Cheng Beng berupa hari menyekar ke makam leluhur, lalu hari lahir Konghucu, dan hari wafatnya Konghucu.

Pada 1967, saat zaman kepemimpinan Soeharto, keluar inpres yang melarang segala adat istiadat, budaya, dan agama orang Tionghoa dirayakan secara terbuka. Inpres itu membuat Imlek tidak diminati banyak kalangan, termasuk orang dari etnik Tionghoa sendiri. Hanya etnik Tionghoa beragama Konghucu yang tetap merayakannya, meskipun sambil takut-takut.

Pada era Presiden BJ Habibie, dia memutuskan tidak lagi ada istilah pribumi dan nonpribumi. Kemudian, Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengeluarkan Kepres No 6 Tahun 2000 dan mencabut Inpres No 14 Tahun 1967.

Setelah era Reformasi, Imlek dirayakan seluruh etnik Tionghoa tanpa memandang apa agamanya. Terlebih lagi setelah Hari Raya Imlek diresmikan sebagai hari libur nasional oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri pada 2002.

 

Akhirnya diskriminasi berakhir?

Sejak 2005-2014, pada pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, persoalan-persoalan diskriminasi umat Konghucu dan Tionghoa perlahan diselesaikan, mulai hak-hak sipil, pendirian tempat ibadah, sekolah, istilah China menjadi Tionghoa, dan China menjadi Tiongkok. Semua dibenahi, termasuk UU Kewarganegaraan.

Kemudian, informasi tentang sejarah dan makna Tahun Baru Imlek bertebaran di media sosial. Sebagian lurus tulus tanpa kepentingan, sebagian ada tak benar-benar mengerti sejati Hari Raya Imlek, dan sebagian lagi sarat kepentingan.

 

Jadi, Imlek ini perayaan keagamaan yang menjadi perayaan budaya?

Mengatakan Imlek hanya miliknya umat Konghucu sungguh tidak bijak, tetapi mengatakan Imlek tak ada kaitannya dengan ajaran Konghucu sungguh keliru.

Pertanyaan ‘apakah Tahun Baru Imlek budaya atau agama?’ menjadi isu sentral di setiap momen Imlek. Sesungguhnya, pertanyaan apakah Imlek budaya atau agama adalah pertanyaan yang ingin menggiring orang untuk berpikir bahwa ‘jika Tahun Baru Imlek adalah budaya berani, Tahun Baru Imlek bukan agama. Jika tahun baru Imlek adalah ajaran agama, berarti Tahun Baru Imlek bukanlah budaya.’ Ada juga pernyataan yang mengatakan bahwa Tahun Baru Imlek bukan perayaan agama tertentu, melainkan Tahun Baru Imlek adalah budaya orang Tionghoa.

Jika Tahun Baru Imlek bukanlah hari raya agama tertentu, melainkan hanya hari raya dan budaya etnik Tionghoa. Pertanyaannya adalah adakah hari raya atau tahun baru yang tidak terkait dengan agama tertentu? Mengapa hanya etnik Tionghoa yang punya hari raya tahun baru? Bagaimana dengan fakta bahwa tahun kelahiran Nabi Kongzi menjadi patokan tahun awal kalender Imlek/Yinli?

Karena sejarah Konghucu dan Tionghoa menjadi satu, maka juga menjadi tradisi. Jadi, bagi orang Tionghoa meskipun dahulunya mereka memeluk agama Konghucu dan kini tidak lagi, tapi tetap merayakan Imlek sebagai tradisi.

Tentu ritualnya tidak diikuti, tetapi silaturahim dan rasa menghormati orangtua, dan saling menyambangi kerabat masih sama. Namun, sembahyangnya memang mereka mungkin tidak lakukan.

 

Sekarang ini tak semua orang Tionghoa memeluk Konghucu?

Kebanyakan tidak selalu Konghucu. Keluarga Tionghoa sebagaimana keluarga suku-suku di Indonesia, bisa jadi agamanya berbeda-beda. Misal, umat Konghucu menikah dengan umat Kristiani.

Menurut saya, agama biar menjadi urusan pribadi masing-masing. Agama dan ilmu sebaiknya dalam posisi dan porsi yang tepat. Agama dalam dimensi vertikal, berurusan dengan Tuhan. Itu menjadi urusan pribadi. Jangan diperdebatkan karena tidak akan bertemu.

Setiap agama lahir menjawab tantangan masyarakatnya. Muhammad lahir di masyarakat Arab waktu itu yang mungkin musyrik menyembah berhala. Muhammad menegakkan bahwa hanya Allah SWT yang harus disembah.

Buddha lahir di masyarakat India yang waktu itu yang bodoh, serakah. Maka, Buddha mengajarkan untuk belajar dan mengendalikan nafsu dari keserakahan. Kristiani, Yesus lahir di komunitas yang tidak memiliki cinta kasih, maka Yesus mengajarkan cinta kasih.

Konghucu lahir di masyarakat yang tidak harmonis. Orang Tionghoa itu kalau tidak ada tantangan, ya, berantem sendiri. Maka, ajaran Konghucu adalah harmoni. Bukan berkompetisi, tapi berkolaborasi demi sebuah kedamaian.

Ajaran Konghucu untuk menyelesaikan masalah dunia itu sederhana. Mereka yang tua berkewajiban membina generasi muda dengan kasih sayang. Mereka yang muda punya kewajiban menghormati dan merawat orangtua. Antara kawan dengan sahabat harus ada rasa saling percaya.

 

Bagaimana praktiknya saat ini seiring dengan maraknya aksi intoleransi?

Aksi intoleransi sebenarnya tidak hanya menyangkut satu agama tertentu, tapi keseluruhan. Nomor satu, menurut saya, intoleransi terjadi karena dosis keagamaan yang berlebihan.

Bahwa agama penting, kita semua yakin, makanya ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi apa pun yang berlebihan dosisnya, tentu tidak baik. Jadi ada proses dan ketentuan yang harus kita terapkan.

Kedua, menurut saya, pendidikan agama di sekolah perlu diatur kembali. Menurut saya, ketika masih TK dan SD lebih baik diajari pendidikan kewarganegaraan, kebangsaan, dan budi pekerti yang baik. Artinya, supaya memahami hakikat manusia sebagai manusia.

Baru ketika anak sudah bisa berpikir di bangku pendidikan yang lebih tinggi, mereka bisa memahami agama dan melihat perbandingan. Tujuannya agar tidak melihat yang berbeda sebagai musuh.

Kemudian, kalau bisa saat ada acara lintas agama, tolong jangan berbicara soal agama saja, melainkan berkolaborasi antartokoh lintas agama, misalnya, bermain musik. Supaya kita cair hubungannya sebagai sesama manusia.

Lalu faktor politik. Celakanya, yang banyak digunakan hari ini adalah sentimen ras dan agama. Padahal, pribadi dan karakter sifat yang terbentuk pada seseorang, baik dan buruknya dia, sebaiknya dilihat cukup dari orang itu dan apa yang dia lakukan. Jangan mengaitkannya dengan ras, agama, dan kelompok tertentu.

 

Kini mulai banyak warga Tionghoa terjun ke politik. Pandangan Anda?

Pada dasarnya saya pikir orang Tionghoa pertama kali mementingkan pendidikan. Saat ini bila banyak yang terjun ke politik karena kesempatan itu sudah terbuka, sedangkan dahulu ruang mengembangkan diri orang Tionghoa di Indonesia dibatasi, ya, mereka hanya berdagang dan tidak bisa leluasa masuk ke sektor lain hingga banyak yang menjadi orang kaya di bisnis karena hanya menekuni satu bidang itu.

 

Pesan Anda untuk Imlek tahun ini?

Imlek hakikatnya adalah menjalin kembali tali silaturahim, menjalankan firman Tuhan, dan memulai sebuah kerja baru. Ada kegembiraan dalam perayaan Cap Go Meh, tetapi pada batasan tertentu, secukupnya. Lebih bagus bila menyantuni orang lain.

Mari kita kembalikan merayakan Imlek dengan mengembalikan kepada makna yang sejati, yaitu sebagai momen untuk membina, merajut kembali tali silaturahim dalam keluarga dan bangsa.

Kedua, untuk memulai sebuah karya dan kerja baru, bekerja untuk kesejahteraan bersama.

Ketiga, jangan lupa bahwa kita hidup di dunia karena faktor adanya Tuhan dan orangtua, maka taat kepada Tuhan, hormat kepada orangtua, dan berbakti kepada bangsa dan negara. (M-2)

_____________________________________________

BIODATA

Nama: Budi S Tanuwibowo

Tempat, tanggal lahir: Tegal, 31 Maret 1960

Edukasi
S-1 Institut Pertanian Bogor\
S-2 Magister Manajemen UI

Jabatan
Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)
Wakil Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI)
Ketua Umum Yayasan Prana Indonesia (YPI)
Ketua Harian Persatuan Xiangqi (Catur Gajah) Indonesia (PEXI)
Ketua Kelenteng Kong Miao (TMII)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More