Minggu 26 Januari 2020, 08:30 WIB

Hasto Mengaku tidak Tahu Keberadaan Harun Masiku

Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum
Hasto Mengaku tidak Tahu Keberadaan Harun Masiku

MI/ADAM DWI
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto duduk di ruang tunggu untuk menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta.

 

SEKJEN PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan tidak tahu-menahu keberadaan Harun Masiku meskipun pihak Imigrasi sudah menyatakan kader PDIP itu telah berada di Indonesia sejak 7 Januari setelah sempat ke Singapura.

“Saya tidak tahu (keberadaan Harun). Kami mengimbau (Harun) untuk bersikap kooperatif dan tidak perlu takut,” katanya seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/1).

Dia meminta caleg PDIP Dapil Sumsel I itu untuk kooperatif karena ia merupakan korban akibat penyalahgunaan kekuasaan. “Dari seluruh konstruksi hukum menurut tim hukum kami, beliau menjadi korban ­karena tindak penyalahgunaan kekuasaan. Ini pada dasarnya persoalan sederhana. Partai melakukan proses penetapan calon ­terpilih melalui keputusan Mahkamah Agung dan fatwa MA,” jelas Hasto berapi-api.

Harun, kata dia, memiliki hak untuk dinya­takan sebagai calon anggota legislatif terpilih. Hanya ada pihak yang menghalang-halangi. Hasto juga mengatakan partai tidak tahu-menahu adanya dugaan suap yang dilakukan Harun dalam proses pengurusan pergantian antarwaktu (PAW).

“Sama sekali tidak tahu (soal suap) karena partai telah menegaskan berulang kali melalui surat edaran untuk tidak boleh ­menyalahgunakan kekuasaan. Apalagi, sebuah tindakan melanggar hukum,” ujarnya.

Hasto mengaku menjelaskan kepada penyidik KPK seputar mekanisme partai dalam proses penentuan PAW. PDIP memutuskan memilih Harun untuk pengganti anggota DPR terpilih dari Dapil Sumsel I Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia sebelum pencoblosan pada Pemilu 2019.

Namun, pengajuan itu ditolak KPU yang memutuskan pengganti Nazarudin ialah pemilik suara terbanyak kedua di dapil yang sama, yakni Riezky Aprilia.

“Pemilihan caleg PAW itu merupakan bagian dari kedaulatan partai politik dan ada presedennya. Ketika almarhum Sutradara Ginting (politikus PDIP) dulu meninggal, kami limpahkan suaranya kepada kader yang menurut partai terbaik, yakni ­Irwansyah, meskipun memiliki suara yang lebih sedikit. Di situ ada pertimbangan ­strategis dari partai,” imbuhnya.

Selain Hasto, KPK juga memeriksa dua komisioner KPU, Hasyim Asy’ari dan Evi Novida Ginting. Pelaksana tugas juru ­bicara KPK Ali Fikri mengatakan keduanya ­diperiksa sebagai saksi atas tersangka Saeful Bahri, orang kepercayaan Hasto. (Dhk/P-3)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More