Minggu 26 Januari 2020, 07:40 WIB

Harimau Muara Enim Menetap di Tambling

Media Indonesia | Nusantara
Harimau Muara Enim Menetap di Tambling

MI/SUSANTO
Harimau sumatra saat diturunkan staf Artha Graha Peduli (AGP) dari pesawat Cessna setibanya di Lapangan Udara Tampang Blimbing.

 

HARIMAU sumatra yang sempat diburu dan berkonflik dengan warga akhirnya tertangkap dan dibawa ke area konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Dusun Pengekah­an, Waiharu, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung.

Hewan karnivora itu tiba di area konservasi TWNC, Rabu (22/1/2020) sekitar pukul 12.00 WIB.  Saat itu cuaca di Tambling panas terik.

Di sana harimau sumatra tersebut menempati kandang berukuran 15 x 15 meter yang ditempatkan di pusat rescue TWNC. Sebelumnya, spesies harimau yang memiliki kulit paling gelap dari semua jenis harimau itu sempat susah untuk dikeluarkan dari kandang yang mengangkutnya.

Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam agar karnivora yang memiliki nama latin Panthera tigris sumatrae itu mau keluar dari kandang. Selanjutnya, di kandang barunya di TWNC, harimau tersebut akan menjalani masa rehabilitasi.

“Yah, beginilah dinamika mengu­rus harimau,” kata Tomy Winata, pemilik sekaligus pengelola area TWNC yang hari itu ikut menyaksikan diterimanya harimau sumatra itu di area konservasi Tambling.

Untuk sementara, tim medis TWNC memberinya nama Si Enim karena tertangkap di daerah Muara Enim. Di tempat barunya, Si Enim tidak banyak melakukan aktivitas selain tidur.

Santapan lezat berupa seekor babi pun tak disentuh. Bahkan, harimau tersebut tidur berdamping­an dengan babi yang disiapkan sebagai makanannya.

“Hasil obervasi sementara, dia tampak stres berat. Napasnya sangat cepat ketimbang biasanya. Bisa karena perjalanan dan ada sedikit luka pada bagian ekor. Sementara waktu kita diamkan dulu, belum bisa kita ambil tindakan apa pun,” kata Ketua Tim Dokter TWNC Sadmoko Kusumo yang menangani Enim.

Di TWNC, kata Sadmoko, mereka memiliki prosedur ketika menerima harimau baru. “Tindakan paling awal ialah observasi fisik, general chek up seperti manusia untuk mengetahui dia sehat atau tidak, mengambil darah, periksa feses, lalu kita lihat perilakunya dan melihat insting liarnya masih ada apa enggak,” jelasnya.

Selain itu, tim medis juga mengamati cara harimau itu makan, yaitu apakah incar tengkuk atau menyerang dari depan, bagaimana ketika bertemu manusia, serta kondisi fisik badan. Langkah itu sebagai bahan awal untuk treatment selanjutnya.

Peneliti Senior Bagian Konservasi TWNC Ardi Bayu Firmansyah menambahkan, TWNC menerapkan standar konservasi yang tinggi. Apalagi, di tengah kondisi makin berkurangnya populasi harimau sumatra yang jika merujuk pada angka terbaru dari ­Kementerian Lingkungan Hidup, hanya tersisa 603 ekor pada 2019.

“Upaya kita ialah menyelamatkan dan tidak bisa asal-asalan. Jika ekosistemnya kita jaga, rantai makanannya pun ikut terjaga.” (Ths/N-3)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More