Minggu 26 Januari 2020, 06:00 WIB

Ganjar Pranowo, Jadi Pemain Barongsai Dadakan

Indrastuti | Hiburan
Ganjar Pranowo, Jadi Pemain Barongsai Dadakan

MI/Haryanto
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

 

HARI cukup cerah pada pagi kemarin. Suara tetabuhan yang mengiringi perayaan Tahun Baru Imlek 2571 di Kelenteng Sam Poo Kong Kota Semarang, Jawa Tengah, mengundang warga sekitar untuk menyaksikan berbagai kegiatan yang dihelat panitia.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, 51, yang menghadiri undangan di acara itu tiba-tiba secara spontan menjadi pemain barongsai.

Awalnya Ganjar yang saat itu hadir hanya berdiri menyaksikan atraksi barongsai. Namun, tiba-tiba dia bergerak maju ke arah barongsai lantas tanpa dikomando dia meminjam kepala barongsai dari salah seorang pemain.

Orang nomor satu di Jawa Tengah itu kemudian memainkan kepala barongsai yang diberi warna hitam tersebut dengan berlenggak-lenggok layaknya pemain profesional. Atraksinya berhasil menarik perhatian penonton dan para pejabat pemerintahan yang hadir dan sudah duduk di kursi di bawah tenda yang langsung berdiri sambil tepuk tangan.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Ganjar yang langsung menuju ke tenda VIP sambil membuka mulut barongsai di hadapan para pejabat, salah satunya Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, untuk meminta angpau.

Meski hanya sebentar, Ganjar menyadari bahwa bermain barongsai tidaklah semudah seperti yang terlihat karena butuh keterampilan dan kekompakan agar menghasilkan pertunjukan menarik.

"Ternyata sulit. Saya tadi bingung gimana cara memainkan agar mulutnya kebuka dan matanya berkedip," katanya.

Lebih lanjut, Ganjar mengatakan kekayaan budaya dari agama, suku, ras, dan golongan di Indonesia berlimpah, apalagi masing-masing memiliki tradisi, seni, serta budaya menarik.

"Seperti saat Imlek ini, ditunjukkan seni budaya dari Tionghoa yang disambut meriah masyarakat. Ini bagian dari kekayaan kita yang harus kita rawat dan lestarikan," ujar suami Siti Atiqoh Supriyanti ini.

Pertunjukan-pertunjukan semacam itu, lanjut Ganjar, harus dilestarikan bahkan dikembangkan sehingga akan menjadi magnet bagi para wisatawan untuk datang.

"Sam Poo Kong saja setiap tahun sekarang 900.000 wisatawan berkunjung, 100.000-nya adalah wisatawan asing. Mudah-mudahan semua bisa merawat dengan baik," pungkas Ganjar.

 

Dapat tenong

Sehari sebelumnya Ganjar bersilaturahim dengan komunitas Tionghoa di Kota Semarang menjelang Tahun Baru Imlek 2571. Di gedung Rasa Dharma beliau  menghadiri undangan jamuan makan dari Perkoempoelan Sosial Rasa Dharma atau Boen Hian Tong di Jalan Gang Pinggir Kota Semarang, seusai melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid An Nur Diponegoro yang menjadi satu-satunya masjid di kawasan pecinan.

Saat berada di lokasi, Ganjar langsung diajak Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopi Semawis) untuk menengok altar, sinchi, prasasti doa untuk mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan berbagai hidangan yang tersedia di depan altar.

Setelah keliling dan berfoto di dalam gedung Rasa Dharma tersebut, Ganjar lantas dipersilakan santap siang.

Ketika hendak berpamitan, beberapa ibu-ibu memanggil sehingga menghentikan langkah gubernur berambut putih itu, untuk memberi tenong, bingkisan berisi makanan. Ibu-ibu itu kemudian menjelaskan tiap-tiap dari kudapan dalam tenong itu memiliki makna sendiri-sendiri.

"Di dalam ini semuanya bermakna, jajanan manis biar hidupnya manis, kue lapis biar rezekinya berlapis, kue keranjang biar rezekinya masuk ke keranjang," kata ibu-ibu pengurus Rasa Dharma itu. (Ant/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More