Sabtu 25 Januari 2020, 15:27 WIB

Penanggulangan Stunting Sejak Pranikah

Ardi Teristi | Nusantara
Penanggulangan Stunting Sejak Pranikah

ANTARA
Bayi diberi imunisasi polio.

 

Stunting salah satu persoalan yang harus dihadapi di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Pasalnya, di desa ini masih banyak ditemukan kasus stunting.

"Sosialisasi soal stunting terus kami lakukan. Kemarin kami baru saja kembali melakukan sosialisasi," kata Kepala Desa Muntuk, Dlingo, Bantul, Kelik Subagyo saat kegiatan penanggulangan stunting di desa Muntuk Kecamatan Dlingo, Bantul bersama PT Tripatra Engineers and Constructor, Kamis (23/1). Sosialisasi penanggulangan stunting dilakukan sejak pranikah.

Ia menyebut, stunting di desanya berawal dari banyaknya pernikahan dini lalu kemudian berakibat pada kekurangsiapan berumah tangga sehingga
memunculkan gizi buruk. Selain perbaikan gizi untuk ibu hamil dan anak, upaya pencegahan gizi buruk juga lewat sosialisasi untuk meminimalkan
pernikahan dini.

"Bagi saya sebagai lurah, intinya kesadaran orang tua, agar sadar terkait gizi bagi anak anak, kesadaran pola hidup, dan pengetahuan ttg stunting itu, sumberdaya memang memengaruhi, mulai dari saat hamil, merawat anak anak, hingga pemenuhan terkait gizi," kata dia.

Kepala Puskesmas Dlingo 2, dr Ahmad Riyanto mengatakan, sosialisasi merupakan bekal awal dalam penanggulanangan Stunting. Lima tahun ke depan, kata dia, akan terlihat hasil dari kualitas sumberdaya manusia.

Pencegahan stunting dimulai dari persiapan sejak sebelum hamil atau pra nikah, awal kehamilan, hingga pemeliharan anak saat usia 0,6 bulan hingga 2 tahun. "Kita juga kerja bareng dengan pemerintah desa dan warga juga Tripatra untuk kegiatan ini," kata dia.

Head ofCorporate Communications & CSR PT Tripatra Engineers and Constructor, Ninesiana Saragih menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka Hari Gizi Nasional pada 25 Januari. Desa Muntuk Kecamatan Dlingo, Bantul dipilih menjadi lokasi kegiatan penanggulangan stunting karena termasuk lokus (lokasi khusus) yang ditetapkan pemerintah sebagai fokus stunting, satu dari 60 kabupaten/kota prioritas stunting di Indonesia.

"Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian CSR bertajuk “Kesehatan yang Baik, Ciptakan SDM Unggul," jelas dia dalam acara yang diikuti sebanyak 105 peserta dari 3 desa di Kecamatan Dlingo. Ia menegaskan PT Triparta mendukung program pemerintah dalam menanggulangi stunting. Dari hasil Riskesda (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018, angka penderita stunting atau kerdil balita di Bantul mencapai 22.89%. (AT/OL-10)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More