Jumat 24 Januari 2020, 08:53 WIB

Banyak Bank Sentral Akan Keluarkan Mata Uang Digital Sendiri

Antara | Ekonomi
Banyak Bank Sentral Akan Keluarkan Mata Uang Digital Sendiri

AFP
Facebook menjadi pelopor pengeluaran mata uang digital. Tahun ini Facebook akan meluncurkan mata uang kripto Libra.

 

BANYAK bank sentral di berbagai negara kemungkinan akan mengeluarkan mata uang digital sendiri dalam beberapa tahun mendatang. Penelitian yang dilakukan oleh Bank for International Settlements (BIS) dan dikeluarkan pada Kamis (23/1), menunjukkan pada minat pada teknologi cukup memanas, sehingga bank-bank sentral ingin mengeluarkan mata uang digital sendiri.

Sekitar 20 persen dari 66 bank sentral yang disurvei oleh BIS mengatakan mereka kemungkinan akan mengeluarkan mata uang digital dalam enam tahun ke depan. Jumlah itu naik sekitar 10 persen dari tahun sebelumnya. Satu dari 10 bank mengatakan mereka akan melakukannya dalam tiga tahun ke depan.

Secara keseluruhan, 80 persen bank sentral mengatakan mereka melihat teknologi tersebut, naik dari tujuh, dari 10 yang disurvei tahun lalu. Ketika upaya Facebook untuk meluncurkan mata uang kripto Libra-nya memicu debat mengenai siapa yang akan mengendalikan uang di masa depan, negara-negara besar telah meningkatkan kecepatan mereka dalam melihat mata bank sentral mata uang digital (CBDC).
 
CBDC adalah uang tradisional, tetapi dalam bentuk digital, dikeluarkan dan diatur oleh bank sentral negara. Sebaliknya, mata uang kripto seperti bitcoin diproduksi dengan memecahkan teka-teki matematika yang rumit, dan diatur oleh komunitas daring yang berbeda alih-alih lembaga yang terpusat.  Lima bank sentral, termasuk di Jepang, Inggris dan zona euro, mengatakan pada Selasa (21/1/2020) mereka bergabung untuk melihat kasus penerbitan CBDC.

Sebelum Facebook meluncurkan Libra pada Juni, bank-bank sentral telah optimistis tentang mata uang kripto, sebagian besar karena pasar mereka yang relatif kecil dan penggunaan yang terbatas oleh publik.

Tetapi prospek Libra yang akan diluncurkan tahun ini cukup menjanjikan. Apalagi saat ini pengguna Facebook mendekati 2,5 miliar. Hal itu telah memicu kekhawatiran tentang dampak mata yang kripto yang banyak digunakan dan dikelola secara pribadi terhadap kontrol negara atas kebijakan moneter. Namun dari penelitian BIS ternyata hanya 10 persen yang menggunakan, dan semuanya dari pasar ekonomi negara berkembang.

"Tidak ada bukti gerakan luas atau umum untuk memperluas penelitian ini menjadi eksperimen dan pilot percontohan," katanya.

baca juga: Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga Dinilai Tepat
 
Dari bank sentral yang disurvei oleh BIS, sekitar sepertiga berasal dari negara maju dan sisanya dari pasar negara berkembang. Mereka yang berasal dari negara berkembang cenderung memiliki motivasi yang lebih kuat untuk mengeluarkan CBDC yang dapat bertindak sebagai pengganti atau pelengkap uang kertas. Sebagian karena
kekhawatiran atas efisiensi dan keamanan pembayaran menggunakan uang tunai tradisional. Dua bank sentral yakni Bank sentral Hong Kong dan Thailand telah siap menggunakan CBDC untuk pembayaran lintas batas karena lebih efisien. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More