Jumat 24 Januari 2020, 07:55 WIB

Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga Dinilai Tepat

Mir/X-8 | Ekonomi
Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga Dinilai Tepat

ANTARA/SIGID KURNIAWAN
Gubernur BI Perry Warjiyo

 

RAPAT Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 Januari 2020 mempertahankan BI 7-day reverse repo rate sebesar 5,00%. Keputusan itu dinilai tepat.

Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin, mengatakan keputusan mempertahankan suku bunga acuan tersebut akomodatif dan konsisten beriringan dengan fundamental ekonomi nasional yang kuat dan terus meningkat. Suku bunga deposit facility pun dipertahankan 4,25% dan suku bunga lending facility 5,75%.

"Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran, stabilitas eksternal yang terjaga, serta upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik," ujar Perry.

Ditambahkan, strategi moneter akan terus dilakukan BI guna mendukung kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan makroprudensial yang akomodatif. "Ke depan, BI akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik untuk menjaga terkendalinya inflasi dan stabilitas, serta turut mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.''

Perry menegaskan koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait akan dioptimalkan. Tujuannya ialah untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, meningkatkan ekspor, pariwisata, serta modal asing.

Ekonom dari Permata Bank, Josua Pardede, menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5% tepat dan konsisten dengan ekspektasi inflasi dan terjaganya stabilitas rupiah. Dikatakannya, siklus ekonomi Indonesia telah melewati titik terendah dan diperkirakan akan terus meningkat setelah tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok yang memberikan optimisme perekonomian global.

Hal itu terindikasi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2020 yang direvisi BI dari 3,1% menjadi 3,2%. Selain itu, solidnya konsumsi domestik yang diikuti tingginya investasi infrastruktur mendorong perbaikan ekonomi tahun ini.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, menyatakan keputusan BI didasarkan pertimbangan yang matang.

Menurutnya, bank sentral sebetulnya masih memiliki ruang untuk melanjutkan penurunan suku bunga acuan karena nilai tukar rupiah memiliki tren penguatan dan tingkat inflasi yang rendah.

"Namun, BI tampaknya memilih memberi waktu kepada perbankan untuk merespons terlebih dulu penurunan suku bunga acuan sebelumnya. Sampai saat ini penurunan suku bunga kredit masih sangat lambat," tutur Piter. (Mir/X-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More