Jumat 24 Januari 2020, 04:30 WIB

Nicholas Saputra Merawat Semesta Menjaga Indonesia

Indrastuti | Humaniora
Nicholas Saputra Merawat Semesta Menjaga Indonesia

Dok. MI
Aktor Nicholas Saputra

 

ANCAMAN krisis ekologi di Indonesia bukan bualan, melainkan kenyataan. Itu juga menjadi alasan Nicholas Saputra membuat film dokumenter berjudul Semesta yang akan tayang di bioskop Indonesia, mulai 30 Januari 2020 mendatang.

"film Semesta ini memberikan inspirasi untuk berbuat sesuatu sekecil apa pun itu sebab apa pun latar belakang agama, budaya, profesi, dan tempat tinggalmu, kita tetap bisa berbuat sesuatu untuk alam Indonesia dan dunia yang sekarang tengah mengalami krisis," kata Nicholas saat screening film Semesta di Jakarta Selatan, yang juga dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Rabu (22/1).

Selain Menteri Siti, gala premiere film Semesta turut dihadiri Wakil Menteri LHK Alue Dohong, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki, perwakilan lembaga donor internasional, hingga tokoh pengendalian perubahan iklim.

Semesta adalah hasil kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan PT Talamedia, tempat Nicho--panggilan akrab Nicholas-- menjadi komisarisnya.

Pemeran Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta itu mengaku sangat bersemangat memproduseri film itu bersama Mandy Marahimin, yang kisahnya diambil dari tujuh pejuang lingkungan dari berbagai penjuru Indonesia.

Film yang disutradarai Chairun Nissa ini bercerita tujuh pejuang lingkungan dari Bali, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Aceh, Papua Barat, Yogyakarta, dan Jakarta. Rangkaian kisah tujuh sosok inspiratif ini ikut menampakkan kekayaan alam Indonesia mulai ujung Barat di Desa Pameu Aceh hingga Kampung Kapatcol Papua di Timur.

 

Kepincut gajah

Dalam akun Instagram-nya, aktor terbaik dalam perannya di film Soe Hok Gie (2005) itu sempat mengunggah salah satu kisah inspiratif dari Desa Pameu, satu dari tujuh kisah yang dihadirkan dalam Semesta. Di Desa Pameu, di pedalaman Aceh, kata Nicho, masyarakat di sana memiliki cara sendiri untuk hidup berdampingan dengan hutan yang merupakan habitat gajah sumatra.

Menurutnya, kisah ini menjadi refleksi terus menurunnya populasi gajah sumatra di alam liar dewasa ini akibat perburuan dan hilangnya habitat alami mereka. Belum lagi seringnya terjadi konflik antara manusia dan gajah yang biasanya berakhir dengan gajah mati diracun atau ditembak.

Bukan tanpa alasan Nicho mengangkat kisah penyelamatan gajah sumatra. Ia mengaku telah jatuh cinta pada hewan yang memiliki nama latin Elephas maximus sumatranus itu sejak lama.

"Saya selalu ingat pertama kali melihat dari dekat mata seekor gajah. Ini yang membuat saya akhirnya jatuh cinta kepada ciptaan Tuhan yang sangat istimewa ini," ungkap Nicho, dalam sebuah foto yang memperlihatkan tatapan tajam seekor gajah di Instagram-nya.

Semesta telah melakukan World Premiere di Suncine International Environmental Film Festival di Barcelona, Spanyol, yang digelar 6-14 November 2019. Festival ini khusus menayangkan film dokumenter bertemakan lingkungan.

Menteri Siti Nurbaya mengatakan, pesan yang disampaikan dalam Semesta sangat relevan, dalam upaya penanggulangan perubahan iklim. Dari tujuh kisah nyata di Semesta, masyarakat diedukasi untuk lebih peduli tentang perubahan iklim yang kini mulai terasa dampaknya.

"Film Semesta sangat bagus dan kuat secara konteks budaya dan agama dalam kaitannya pada upaya penanggulangan perubahan iklim berdasarkan way of life atau cara hidup masyarakat Indonesia sendiri," ujar Siti. (Medcom.id/H-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More