Jumat 24 Januari 2020, 00:55 WIB

Terdesak Kebutuhan di Depan Mata

MI | Nusantara
Terdesak Kebutuhan di Depan Mata

ANTARA
Pertanian organik

 

EMPAT tahun lalu, Kementerian Desa menunjuk empat kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi lokasi percontohan pertanian organik. Salah satunya di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Matesih.

Lima desa lainnya ialah Desa Balong dan Desa Seloromo di Kecamatan Jenawi, Desa Pereng dan Desa Gentungan di Kecamatan Mojogedang, dan Desa Ngemplak di Kecamatan Karangpandan.

Namun, seperti diakui Kepala Desa Ngadiluwih Rusdiyanto Purwanto, bertani organik untuk menghasilkan tanaman pangan organik bernutrisi bukan perkara mudah. Kendalanya mulai biaya yang besar, hasil tanaman yang belum sebanyak pertanian dengan pupuk kimia, hingga pemasaran yang masih terbatas.

"Petani yang mengelola padi organik masih sedikit. Kebanyakan memilih kombinasi antara pupuk organik dan pupuk kimia," jelasnya, kemarin.

Di Ngadiluwih, penanaman padi organik hanya dilakukan di lahan seluas 50 hektare. Mereka sudah beberapa kali panen padi organik varietas IPB 3S.

Tersendatnya pertanian organik di wilayahnya, ujar Rusdianto, dipastikan bukan karena bermasalah dengan pasokan pupuk kandang. "Pupuk kandang berlimpah karena banyak petani punya sapi dan kambing."

Bupati Karanganyar Juliyatmono berjanji akan terus mendorong petani di wilayahnya memilih bertani organik. "Ini cara kami untuk membangun kawasan perdesaan dengan mendorong produksi ekonomi yang memiliki nilai tambah."

Kesulitan yang sama juga terjadi di wilayah lumbung padi Jawa Barat, Kabupaten Indramayu. Wakil Ketua Kontak Nelayan Andalan Sutatang mengklaim, penggunaan pupuk organik masih di bawah 10% dari luas tanaman padi rata-rata 130 ribu hektare per musim tanam.

"Masih jauh dari harapan. Petani masih melihat penggunaan pupuk kimia bisa lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak," tambahnya.

Sosialisasi penggunaan pupuk organik bukan tidak pernah dilakukan di Indramayu. Sosialisasi terus-menerus, termasuk dengan pemberian bantuan pupuk organik sudah dilakukan, tapi hasilnya tidak maksimal.

Pemerintah belum kendur. Tahun ini, pemkab memprogramkan areal percontohan penggunaan pupuk organik seluas 3.000 hektare, yang tersebar di 31 kecamatan. Setiap kecamatan ditargetkan memulai di lahan 100 hektare.

"Ke depan, kami berharap banyak yang menggunakan pupuk organik sehingga masa depan keberlangsungan tanah akan lebih baik," tandas Sutatang. (WJ/UL/N-2)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More