Jumat 24 Januari 2020, 00:30 WIB

Bertahap dengan Pupuk Kandang

Akhmad Safuan | Nusantara
Bertahap dengan Pupuk Kandang

ANTARA
Pengelolaan pupuk kandang

 

PASOKAN kotoran sapi yang berlimpah membulatkan tekad sejumlah petani di Desa Bajo, Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, untuk bertani organik. Meski baru memulainya pada awal 2019, secara bertahap lahan pertanian di desa itu meninggalkan pupuk kimia.

"Pada awalnya, hanya 2,4 hektare lahan yang menerapkan pertanian organik. Pada musim tanam berikutnya meningkat menjadi 4,2 hektare dan musim ini sudah menjadi 10 hektare," ungkap Surat, Ketua Kelompok Tani Bina Alam Sri, di Desa Bajo, kemarin.

Jumlah petani penanam organik juga bertambah dari semula hanya 21 orang, kini 40 orang. Meski di sejumlah wilayah pertanian organik belum menarik karena sejumlah kendala, petani di Bajo justru mendapat sejumlah keuntungan dengan bertanam organik.

"Pupuk kandang membuat kami bisa menekan biaya produksi hingga 48%, dari rata-rata per hektare membutuhkan Rp6 juta dengan menggunakan pupuk kimia. Hasilnya juga tidak mengecewakan karena dari 7 ton dengan pupuk kimia, sekarang bisa 8-9 ton per hektare," tambah Surat.

Batangan tanaman dapat tumbuh hingga 80-100 anakan, sedangkan pupuk kimia hanya 25 anakan.

Di pasaran harga beras organik sudah mencapai Rp20 ribu per kilogram. "Kami bisa mendapat untung banyak," ujar Haryono, petani di Sale, Kabupaten Rembang.

Tidak hanya di lahan padi, di Desa Bango, Demak Kota, Kabupaten Demak, pupuk kandang digunakan untuk meningkatkan tanaman semangka. "Hasil panen meningkat dua kali lipat. Dengan pupuk organik, biaya produksi bisa ditekan dari Rp25 juta menjadi Rp15 juta per hektare," ujar Nurhadi, 47, petani semangka di Bango.

Para pemimpin di daerah pun sepakat meningkatkan luasan areal tanaman organik. Di Rembang, pertanian organik mulai disentuh sejak 2016 lalu, dengan luasan 18,6 hektare.

"Saat ini penanaman padi organik sudah dilakukan di puluhan hektare lahan. Ke depan, kami bertekad untuk terus mengembangkannya," ujar Wakil Bupati Bayu, Andriyanto.

Bupati Demak Natsir juga mengaku terus mendorong warganya bertani organik. "Sudah cukup lama petani kami imbau untuk menggunakan pupuk organik sehingga kesuburan tanah tetap terjaga."

Senada, Bupati Blora Djoko Nugroho mengaku sudah turun tangan mengurusi padi organik, terutama dalam hal pemasaran. "Petani melirik karena sadar kesuburan tanah terjaga dengan pupuk organik. Selain itu, tentu saja karena hasil panen yang lebih besar."

Tidak hanya di Pulau Jawa, sambutan juga datang dari Bangka Tengah, Bangka Belitung. Sang bupati, Ibnu Saleh, mengaku terus mendorong petani mengurangi penggunaan pupuk kimia. "Saya bertekad menjadikan Bangka Tengah sebagai kabupaten organik pada 2021."

Petani, lanjutnya, kalau ingin maju harus mengubah cara bertanam, terutama dalam penggunaan pupuk dan bibit. Pupuk organik bisa dipilih untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Tidak seperti di Jawa Tengah yang petaninya memiliki banyak sapi, Bangka Tengah bergantung pada pupuk organik buatan pabrik. "Kami akan siapkan pabrik pupuk khusus organik sehingga harganya lebih terjangkau."

Di daerah ini, penggunaan pupuk organik cair MA11 sudah digunakan Kelompok Tani Citra Trubus, di Kecamatan Lubuk Besar, yang membudidayaan cabai merah. Lahan mereka seluas 3 hektare.

"Kami memanfaatkan lahan kosong dan lahan tidur. Tahun lalu, kami menanam 10 ribu batang dan bisa panen dengan keuntungan hingga Rp150 juta. Kini kami punya 50 ribu batang pohon cabai yang siap panen," kata Ketua Kelompok Tani, Acoi. (RF/Ant/N-2)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More