Kamis 23 Januari 2020, 07:50 WIB

Pemangsa Warga itu pun Dilepasliarkan ke Hutan

Thomas Harming Suwarta | Nusantara
Pemangsa Warga itu pun Dilepasliarkan ke Hutan

MI/Dwi Apriani
Satu ekor harimau Sumatra masuk perangkap yang dipasang BKSDA Sumsel.

 

HARIMAU dewasa muda seberat 90 kg itu tiba di kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Kabupaten Pesisir Utara, Provinsi Lampung, pada pukul 02.30 WIB kemarin.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Sumatra Selatan berhasil mengamankannya karena meresahkan warga di daerah Pagar Alam, Muara Enim, Lahat, dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.

"Setiba di TWNC, sang harimau jantan yang telah membunuh 5 warga dan melukai 9 orang sejak tiga bulan lalu itu langsung diperiksa tim medis hingga pukul 08.00, selanjutnya dipindahkan ke TWNC untuk dilakukan pemeliharaan, perawatan, dan pelestarian hewani," kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumatra Selatan, Martialis Puspito.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Selatan, Genman Hasibuan, mengatakan harimau sumatra itu masuk ke perangkap di Desa Plakat, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan yang dipasang tim BKSDA, TNI, Polri, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan bersama warga dengan umpan satu kambing, Selasa (21/1). Binatang buas itu kemudian dievakuasi ke Lampung.

Saat diidentifikasi tim medis, harimau itu tampak berbaring tenang, tidak agresif, dan napasnya teratur. Setelah diberi rangsangan pun ia duduk dengan tenang.

"Responsnya sangat baik saat diberi rangsang," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Selatan Genman Hasibuan.

Sebelum dilepasliarkan ke kawasan taman nasional, harimau yang selama ini menjadi perhatian publik itu diserahterimakan kepada Gubernur Lampung Arinal Djunaidi.

Acara serah terima dilakukan di Bandara Raden Inten, Lampung, oleh Martialis Puspito dengan disaksikan Komisaris Utama TWNC Hana Lilies dan Kapolda Lampung Irjen Purwadi Arianto.

"Hari ini kita terima harimau sumatra ini sebagai langkah pengamanan, baik untuk manusia maupun  hewannya karena kita kan punya Taman Nasional Bukit Barisan, di wilayah Tambling yang memenuhi persyaratan tempat harimau ini bisa hidup. Harapannya ia bisa menemukan kehidupan lebih baik. Jadi, masyarakat selamat, satwanya juga aman," kata Arinal.

Rentetan peristiwa penyerangan harimau sumatra itu, lanjutnya, terjadi sejak November 2019 sampai akhirnya bisa ditangkap dua hari lalu.

"Peristiwa itu sebenarnya tidak perlu terjadi jika keseimbangan alam tetap terjaga. Pada dasarnya harimau tidak menyerang manusia. Namun, karena ketersediaan makanannya berkurang akibat aktivitas perburuan, hewan buas itu pun menyerang manusia. Selama di Tambling, kesehatan harimau itu akan diobservasi sampai pada saatnya kembali dilepas." (Thomas Harming Suwarta/Ant/X-7)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More