Kamis 23 Januari 2020, 07:15 WIB

Abdul Basith Didakwa Rencanakan Kerusuhan

Kautsar Bobi | Politik dan Hukum
Abdul Basith  Didakwa Rencanakan Kerusuhan

ANTARA/Muhammad Adimaja
Terdakwa pemasok bom molotov Abdul Basith.

 

MANTAN dosen  Abdul Basith didakwa menjadi salah satu orang yang ikut merencanakan kerusuhan di depan Gedung DPR/MPR menggunakan bom molotov.

Ia disebut berperan menyetujui pembuatan bom molotov.

"Pada Selasa, 24 September 2019 sekitar pukul 22.00 WIB, melakukan atau turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan atau banjir, yang menimbulkan bahaya bagi nyawa orang lain, perbuatan tersebut dilakukan oleh Terdakwa (Abdul Basith)," ujar jaksa pada Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, Yogi Budi, saat membacakan dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (22/1).

Baca juga: Yasonna Minta Maaf ke Warga Priok

Jaksa menjelasakan kronologis kejadian bermula pada 20 September 2019, Abdul Basith melalui pesan singkat Whatsapp menghubungi Yudi Firdian alias Ustaz Yudi alias Abu Faqih untuk bertemu. Keduanya setuju menggelar pertemuan di rumah Mayjend TNI (Purn) Sunarko di Jalan WR. Supratman No 111 Ciputat, Tangerang Selatan. Pertemuan tersebut juga dihadiri Okto Siswantoro dan beberapa orang lainya.

"Bahwa dalam pertemuan membahas relawan dalam aksi demonstrasi di DPR/ MPR," tuturnya.

Kemudian Mayjend TNI (Purn) Sunarko dan Laksda (Pum) Soni Santoso memaparkan rencana pendomplengan demonstrasi mahasiswa pada 24 September 2019. Rencana itu bertujuan agar terjadinya kerusuhaan.

Esok harinya, 21 September 2019, Yudi Firdian mempunyai ide membuat bom molotov untuk dilemparkan saat demo berlangsung. Akal busuknya disampaikan melalui pesan Whatsapp kepada Abdul Basith dan disetujui menggunakan kode mainan.

"Bagainmana kalau saya buat mainan (bom molotov)? Kemudian dijawab terdakwa Abdul Basith ya sudah buat saja, dananya minta dengan dokter Efi Afifah," tuturnya.

Selanjutnya, pada 23 September 2019, kurang lebih pukul 20.00 WIB, di kediaman Umar Syarif, Yudi Firdian menghubungi dokter Efi Afifah melalui pesan Whatsapp untuk meminta uang. Dokter Efi dibantu suaminya Abdal Hakim berperan mengelola keuangan untuk relawan yang terkumpul.

"Bu dokter, saya perlu dana untuk membuat mainan bom molotov, sekaligus untiuk bekal relawan saya di rumah," tulis Yudi Firdian.

"Butuh berapa?" jawab dokter Efi.

"Empat ratus saja bu, cukup," timpal Yudi.

Terdakwa juga meminta uang sejumlah Rp400 ribu digunakan untuk membiayai relawan.

Selanjutnya, suami dokter Efi, Abdal Hakim mentransfer uang Rp800 ribu melalui elektronik banking ke rekening Umar Syarif. Abdal lalu memberikan bukti transfer kepada Yudi Firdian.

"Yudi menunjukan bukti transfer ke Umar, lalu Umar memberikan uang sebesar Rp800 ribu dari dompetnya kepada Yudi," tuturnya.

Yudi kemudian bertanya kepada Umar ihwal lokasi pembuatan bom molotov. Diarahakan untuk menggunakan rumah Hilda Winar yang beralamat Jalan Raya Cilangkap Nomer 1 RT03/RW 06, Jakarta Timur.

Yudi bersama Umar, Ari Saksono, dan Joko Kristianto menggunakan halaman belakang rumah Hilda, tepatnya di lantai dasar, sebagai lokasi pembuatan bom molotov. Yudi kemudian mencari bahan pembuat, berupa botol, bensin, dan kain bekas untuk sumbu bom molotov.

Pada 24 September 2019, mereka melancarkan aksi di fly over Penjompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Bom tersebut sempat mengenai salah satu anggota kepolisian Jakariah, yang tengah berjaga.

"Bertempat di jembatan fly over Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat Yudi Firdian dengan cara membakar sumbu bom molotov melemparkannya ke arah petugas kepolisian yang berada di atas fly over Pejompongan, Tanah Abang hingga meledak dan terbakar sehingga saksi Jakariah yang sedang bertugas celananya terbakar," jelas jaksa. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More