Rabu 22 Januari 2020, 19:23 WIB

Program BPNT Diklaim Turunkan Angka Kemiskinan

Ihfa Firdausya | Humaniora
Program BPNT Diklaim Turunkan Angka Kemiskinan

NTARA FOTO/Galih Pradipta
Menteri Sosial Juliari Batubara menyampaikan arahan saat sosialisasi program sembako di Jakarta, Rabu (22/1)

 

MENTERI Sosial, Juliari P Batubara, mengklaim program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) berdampak terhadap penurunan angka kemiskinan sebesar 0,195 pada 2019.

Juliari memandang garis kemiskinan makanan memiliki pengaruh besar pada garis kemiskinan. "Ini sangat menggembirakan. Pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Amin Ma’ruf, angka kemiskinan bisa turun sebesar 0,19% menjadi 9,22% pada September 2019," ujar Juliari, dalam keterangan resmi, Rabu (22/1)

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2018 menunjukkan komoditas beras paling berpengaruh terhadap kemiskinan, yaitu 20,95% di perkotaan dan 26,79% di perdesaan. Adapun telur memiliki kontribusi terhadap kemiskinan sebesar 4,09% di perkotaan dan 3,28% di perdesaan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Sosial menaikkan indeks bantuan BPNT dari semula Rp110 ribu/KPM/bulan menjadi Rp150 ribu/KPM/bulan.

Kenaikan itu juga disertai penambahan bantuan lainnya. Dari sumber karbohidrat, terdapat beras atau bahan pangan lokal lain, seperti jagung pipilan dan sagu. Sumber protein hewani mencakup telur, ayam, daging sapi dan ikan segar. Kemudian sumber protein nabati meliputi kacang-kacangan termasuk tempe dan tahu. Adapun sumber vitamin dan mineral seperti sayur-mayur dan buah-buahan.

Baca juga: BPS: Angka Kemiskinan Indonesia Turun Jadi 9,22 Persen

"Bahan pangan tambahan selain beras dan telur, dapat melihat kebutuhan KPM di daerah setempat. Misalnya di daerah Papua banyak Ikan segar dan sukanya sagu. Lalu di Nusa Tenggara Timur populernya Jagung atau di Jawa nyamannya tempe dan tahu," jelasnya.

Menurut Juliari, penambahan bahan pangan pada program sembako turut mendukung Program Nasional Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting). Mensos mengatakan bahan pangan tambahan seperti sayur-mayur, buah-buahan, ikan segar, daging atau kacang-kacangan, dapat diolah menjadi Makanan Pendamping ASI (MPASI). Selain itu, bahan pangan tambahan juga dapat meningkatkan varian gizi yang didapat oleh ibu hamil.

Lebih lanjut, dia berharap keluarga penerima manfaat (KPM) BPNT juga mendapatkan edukasi pemanfaatannya. Untuk itu, perlu kerja sama semua pihak agar program ini berjalan sukses.

"Jangan sampai pemanfaatan program sembako dibelanjakan beras saja. Bahan pangan lain juga perlu untuk meningkatkan gizi KPM," pungkasnya.(OL-11)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More