Rabu 22 Januari 2020, 22:25 WIB

Pemberontak Thailand Lakukan Pembicaraan Damai

Pemberontak Thailand Lakukan Pembicaraan Damai

AFP
Tentara Thailand

 

KELOMPOK pemberontak utama atau yang dikenal Barisan Revolusi Nasional (BRN) yang merupakan pelaku dibalik pemberontakan 16 tahun di Thailand Selatan, telah bertemu dengan kepala perundingan kerajaan untuk pertemuan resmi pertama dalam pembicaraan damai mereka.

Pengamat melihat dialog yang terjadi merupakan harapan terbaik untuk mengakhiri konflik yang telah menewaskan ribuan orang di tiga provinsi paling selatan Thailand.

Wilayah itu telah berada dalam cengkeraman pemberontakan yang pecah sejak 2004, dengan bentrokan antara pemberontak melayu-muslim dan Thailand yang mayoritas penduduk Buddha.

BRN telah lama menolak pembicaraan damai dengan para pejabat Thailand. Mereka mengklaim berjuang untuk kemerdekaan setelah Thailand mencaplok tiga provinsi di selatan Thailand, yakni Pattani, Yala, dan Narathiwat lebih dari seabad yang lalu.

Namun, saat kedua belah pihak mengadakan pertemuan resmi pertama, Senin (20/1) dengan pejabat Thailand dan Malaysia sebagai fasilitator, BRN mengatakan dalam sebuah pernyataan resmi kedua belah pihak sepakat menyelesaikan konflik bersenjata.

“Setelah bertahun-tahun menyalurkan kembali kedua belah pihak untuk menyelesaikan konflik bersenjata melalui resolusi politik,” kata BRN dalam pernyataan resmi.

Dewan Keamanan Thailand juga merilis pernyataan yang mengatakan mereka siap bekerja dengan setiap pemangku kepentingan.

Sebuah foto dari pertemuan tersebut terlihat Kepala Panel Dialog Perdamai­an Thailand, Wanlop Rugsanaoh, dan perwakilan BRN Anas Abdulrahman bergenggam tangan dengan mantan Inspektur Jenderal Polisi Malaysia Abdul Rahim Noor di tengah.

“Mereka telah sepakat untuk menyelesaikan masalah melalui perdamaian dan tidak untuk melawan, itu bisa dilakukan,” ucap Abdul Rahim Noor kepada AFP, Selasa (21/1).

Kedua pihak juga sepakat akan melakukan pertemuan lain pada bulan depan. Pengamat dari International Crisis Group, Matthew Wheeler, menyambut baik harapan baru atas konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun dan memperingatkan bahwa perjalanan panjang masih tetap ada.

“Sesulit prosesnya sampai pada titik ini, pekerjaan yang paling sulit masih harus dilakukan,” tukas Wheeler. (AFP/Rif/I-1)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More