Rabu 22 Januari 2020, 17:40 WIB

Perajin Dodol Cina Keluhkan Menurunnya Permintaan

Reza Sunarya | Nusantara
Perajin Dodol Cina Keluhkan Menurunnya Permintaan

MI/Reza Sunarya
Produksi rumahan kue keranjang di Purwakarta, Jawa Barat.

 

Jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2571 yang jatuh pada 25 Januari tahun 2020, kue keranjang atau lebih dikenal dengan nama dodol cina adalah salah satu kuliner khas yang menjadi sajian wajib bagi masyarakat Tionghoa.

Makanan berbahan utama tepung beras ketan dan gula pasir ini memang bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari negeri Tionghoa. Namun, kue keranjang ini sudah masuk ke Tanah Air sejak zaman penjajahan dulu.

Setiap tahun menjelang perayaan Imlek, pembuat kue keranjang selalu kebanjiran pesanan. Namun, tahun ini angkanya menurun. Perajin kue keranjang asal Kabupaten Purwakarta, Hayati, mengeluhkan soal penurunan pemesanan pada Imlek 2020 ini.

"Tahun sebelumnya bisa produksi hingga 1,8 ton. Tetapi, tahun ini perayaan tinggal 3 hari lagi, produksinya masih kurang dari 1 ton karena menurunnya jumlah permintaan," kata Hayati, Rabu (22/1).

Satu-satunya pembuat kue keranjang di Purwakarta yang sudah ada sejak 1985 itu menjual kue khas itu dengan harga Rp 35 ribu, biasanya berisi 3 buah kue dodol.

Produsen rumahan kue keranjang Tan Pikong yang beralamat di Gang Bayeman (Gang Aster) RT 20/RW 10 Kelurahan Nagri Kaler, Purwakarta, itu mempekerjakan sejumlah warga sekitar untuk membantu menyelesaikan pesanan.

Untuk menghasilkan dodol cina yang bagus, kata Hayati, caranya yaitu mencampur satu kilogram tepung ketan dengan dua kilogram gula pasir. Terus, dicampur air rebusan daun pandan. Dicampur, hingga teksturnya lembut.

"Yang paling utama, mengukusnya harus 15 jam. Jadi, dodolnya matang dengan sempurna. Warnanya, merah kecoklatan. Kue ini bisa bertahan sampai satu tahun, tanpa pengawet," ungkapnya.

Sementara Mulyadi, suami Hayati mengungkapkan, kenapa kue ini dinamai kue keranjang atau kue ranjang karena proses pembuatannya melalui pencetakan berbentuk keranjang.

Pada zaman dulu kue keranjang ini digunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur. Upacara itu dilakukan tujuh hari menjelang tahun baru Imlek dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek.

Menurutnya, kue keranjang ini awalnya juga dipercaya ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa tungku, dengan tujuan dewa tungku membawa laporan yang menyenangkan kepada raja surga (giok hong siang te).

"Selain itu, karena bentuknya yang bulat, kue keranjang ini bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun, dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang," Pungkas Mulyadi. (RZ/OL-10)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More