Rabu 22 Januari 2020, 11:37 WIB

Fase Pertama Pembangunan Jembatan CSW-ASEAN Habiskan Rp30 Miliar

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Megapolitan
Fase Pertama Pembangunan Jembatan CSW-ASEAN Habiskan Rp30 Miliar

ANTARA/Aprillio Akbar
Rangkaian kereta MRT melintas di bawah Halte Transjakarta Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) koridor 13 di Jakarta.

 

DIREKTUR Utama PT Transportasi Jakarta Agung Wicaksono mengumumkan jembatan layang yang akan terintegrasi dua moda transportasi yakni Halte Trans-Jakarta CSW dan Stasiun MRT ASEAN di simpang Centrale Stichting Wederopbouw (CSW), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan menelan biaya hingga Rp30 miliar.

"Mengenai biaya, itu menelan biaya Rp30 miliar yang kita targetkan rampung pada Agustus 2020," kata Agung saat ditemui dalam pencanangan grondbreaking atau peletakan batu pertama di Stasiun MRT ASEAN, Rabu (22/1).

"Bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan maka di bulan itu juga kita merdeka dari situasi yang tidak terintegrasi," lanjutnya.

Baca juga: Anies Groundbreaking Jembatan Layang CWS-ASEAN

Dana itu, menurutnya, hanya akan hanya digunakan untuk fase pertama pembangunan. Sedangkan pekerjaannya ini total dilakukan dua fase yang memakan biaya Rp55 miliar.

"Kita upayakan semaksimal mungkin, anggaran kita siapkan untuk tahun ini juga. Tapi kalau penyelesaiannya tergantung dari fase satu ini kita upayakan di Desember tahun 2020 selesai," kata Agung.

Ia pun mengatakan, proyek pembangunan ini pun bukan hanya penghubung antarorang yang akan berpindah dari satu moda transportasi ke moda transportasi lainnya melainkan memberikan kenyamanan pengguna transportasi publik, baik lansia, anak-anak maupun disabilitas.

"Sekarang kita lihat pakai tangga kalau mau ke halte tersebut, nantinya akan ada eskalator sehingga memudahkan kita semua," tandas Agung.

Tidak hanya itu, konsep ini juga menyediakan tersedia area komersial (resto, coffe shop, dan lainnya), toilet, musala, akses difabel berupa lift, dan akses escalator untuk umum.

Kemudian nantinya, ada beberapa tempat yang berperan sebagai pendapatan nontiket bagi Trans-Jakarta.

"Karena kita tahu juga ke depannya transportasi publik selain mendapat pendapatan dari tiket, dukungan pemerintah melalui PSO, tapi kita mendorong pendapatan nontiket dihasilkan dari tempat ini tentunya dengan bekerja sama dengan MRT selaku pengelola kawasan TOD di Blok M," pungkasnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More