Rabu 22 Januari 2020, 04:20 WIB

Era Disrupsi Media Diantisipasi

(Ifa/H-1) | Humaniora
Era Disrupsi Media Diantisipasi

ANTARA FOTO/Reno Esnir
RAPAT KERJA MEDIA DEWAN PERS: rapat kerja antar lembaga Pers di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa (21/1/2020

 

ERA disrupsi digital memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan media arus utama sebagai pilar yang mengedepankan informasi berkualitas (good journalism). Dengan latar belakang tersebut, Dewan Pers membentuk Kelompok Kerja Keberlanjutan Media (Taskforce Media Sustainability) yang diresmikan kemarin, Selasa (21/1), di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat.

Menurut Ketua Komisi Hubungan Antarlembaga dan Internasional Dewan Pers Agus Sudibyo, kelompok kerja ini akan melakukan studi, riset, serta diskusi untuk membicarakan aspek-aspek yang terkait dengan persoalan keberlanjutan media di era disrupsi media. "Ada banyak hal, baik yang terkait dengan profesionalisme media maupun terkait bisnis media," ujarnya.

Terdapat enam tugas yang akan diemban pokja ini, berdasarkan surat keputusan Dewan Pers tentang media sustainability. Pertama adalah mengidentifikasi masalah-masalah keberlanjutan media yang sedang dihadapi pers nasional dewasa ini terkait dengan perkembangan digitalisasi. "Masalah dimaksud, misalnya tentang sharing konten antara news aggregator dan news publisher, terkait dengan transparansi algoritma, monopoli akses informasi, dan lainnya," jelas Agus.

Kedua, mengkaji bentuk-bentuk regulasi tentang keberlanjutan media di negara demokratis, misalnya Uni Eropa, Inggris, Jerman, dan AS. "Mengkaji ini bukan mengadopsi 100%. Jadi mempelajari secara kritis," tuturnya.

Ketiga, merumuskan prinsip-prinsip keberlanjutan media yang sesuai dengan amanah UU Pers No 40 Tahun 1999. Keempat, merumuskan inisiatif regulasi tentang keberlanjutan media. Kelima, mengomunikasikan prinsip-prinsip regulasi keberlanjutan media dengan pihak pemerintah, DPR, dan lainnya. Terakhir, menyampaikan laporan tentang kinerja Pokja Keberlanjutan Media kepada Dewan Pers.

Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh menilai keputusan ini tidak terlepas dari dunia media yang berubah. "Itu bisa dilihat dari data tentang pembaca, pemirsa, dan seterusnya. Padahal, esensinya itu menyajikan informasi yang berkualitas," ujarnya pada kesempatan yang sama.

Menurut Nuh, harus ada transformasi model bisnis supaya media bisa tetap bertahan. "Dari situlah Dewan Pers membentuk tim untuk memikirkan, mengidentifikasi apa saja perkara yang sekarang dihadapi dan yang harus dilakukan agar media ini tetap sustain. Karena kalau tidak, akan diambil alih oleh sektor lain yang pertanggungjawabannya tidak bisa dipegang." (Ifa/H-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More