Selasa 21 Januari 2020, 18:14 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diyakini Tetap Terjaga

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diyakini Tetap Terjaga

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi.

 

KONDISI global yang fluktuatif diprediksi masih berlanjut tahun ini. Hal itu tecermin dalam laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) yang bertajuk World Economic Outlook (WEO).

Dalam laporannya, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2020 sebesar 3,3%, atau turun dari sebelumnya sebesar 3,4%. Pertumbuhan ekonomi di lima negara ASEAN yang mencakup Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, diprediksi terjaga.

Kendati demikian, IMF mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini. Pemangkasan dipengaruhi kinerja ekspor yang berdampak pada permintaan domestik.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia meningkat tipis menjadi 5,8%, dari proyeksi sebelumnya 5,6%. Pada 2021, pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai 5,9%.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Lebih Baik dari Negara Lain

Menanggapi hal itu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir, mengatakan daya tahan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap pada posisi yang baik.

"Walaupun ada revisi pertumbuhan IMF, kita steady state-nya lebih kuat dari negara lain. Bandingkan dengan India yang turun 3,5%. Kita turun juga sedikit saja," kata Iskandar saat ditemui di kantornya, Selasa (21/1).

Kinerja ekspor yang kurang membaik, lanjut Iskandar, juga terjadi hampir di seluruh negara. "Hasil penelitian, dari 120 negara yang diteliti 76% itu ekspor negatif. Bukan hanya tumbuh negatif tapi kontraksi. Negara mana yang bisa survive? Negara yang punya domestic demand terbesar," pungkasnya.

Pemerintah dikatakannya berupaya memperbaiki defisit transaksi berjalan (CAD) pada tahun ini. Hingga kuartal III 2019, CAD Indonesia tercatat US$ 7,86 miliar atau setara 2,66% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Upaya untuk menekan CAD termasuk memperkenalkan program B30, green energy hingga proyek PTPI di Gresik.

"Waktu rakernas kemarin Pak Jokowi minta diplomasi ekonomi. Jadi tugas diplomat bukan hanya sekadar diplomat. Kalau dilihat lagi kita kan sudah ada investasi dari tax holiday sebesar Rp 800 triliun," tutup Iskandar.(OL-11)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More