Selasa 21 Januari 2020, 17:29 WIB

Anak Garuda, Film Coming Age Tujuh Muda-Mudi nan Inspiratif

Galih Agus Saputra | Weekend
Anak Garuda, Film Coming Age Tujuh Muda-Mudi nan Inspiratif

Dok. Butterfly Pictures
Salah satu adegan dalam syuting film Anak Garuda.

Yohana, Sheren, Olfa, Wayan, Dilla, Sayyida, dan Robet ialah tujuh anak muda dengan latar belakang berbeda. Mulai dari kultur, kepercayaan, hingga lika-liku hidup. Ada yang menjadi korban perpecahan rumah tangga (broken home), penyintas bencana alam, konflik horizontal, hingga kenakalan remaja. Namun, mereka kebanyakan berasal dari kalangan kurang mampu.

Banyak pihak yang meragukan masa depan mereka. Sampai-sampai, mereka pun kerap diselimuti rasa putus asa atau pesimisme pada kehidupannya. Namun, secercah optimisme timbul dan berkembang, seiring masa sekolah yang mereka jalani bersama di sekolah milik Julianto Eka Putra, Selamat Pagi Indonesia (SPI), di Malang.

Kisah ketujuh anak muda itu baru-baru ini lantas diangkat menjadi latar belakang film layar lebar berjudul 'Anak Garuda'. Sederet aktor muda terlibat dalam film tersebut seperti Rania Putrisari (sebagai Sheren), Rebecca Klopper (Dilla), Tissa Biani Azzahra (Sayyida), Clairine Clay (Olfa), Ajil Ditto (Robet), dan Violla Georgie (Yohana), serta Geraldy Kreckhoff (Wayan).

Tak sekadar menyuguhkan hiburan, film ini juga pertanda kesuksesan di dunia nyata bagi ketujuh anak muda tersebut pascalulus dari SPI, atau lebih tepatnya di rumah produksi yang mereka dirikan, yaitu Butterfly Pictures.

Dalam proses produksi film berdurasi 130 menit itu, Yohana dkk. bekerja sama dengan Verdi Solaiman. Tak hanya menjadi produser, aktor yang mulai terlihat di kancah perfilman Tanah Air sejak 2000-an itu, juga menjadi pemeran sosok panutan Yohana dkk, yaitu Julianto alias Koh Jul.

Naskah film ditulis Alim Sudio, sementara sutradaranya adalah Faozan Rizal yang dewasa ini sudah terkenal dengan sejumlah karyanya mulai dari Perahu Kertas 1 dan 2, hingga Habibie & Ainun, serta Soekarno: Indonesia Merdeka.

Plot 'Anak Garuda' sendiri bercerita tentang proses jatuh-bangun Yohana dkk khususnya saat mengelola kelompok usaha yang mereka rintis dan menjadi bagian dari industri kreatif SPI. Berangkat dari rasa saling membutuhkan dan berbagai kepentingan bersama, mereka lantas tergabung dalam sebuah institusi yang tampak begitu organis. Seperti Yohana, misalnya, ia dipercaya oleh Koh Jul sebagai ketua yang harus memonitor seluruh kerja atau proses produksi teman-teman lainnya. Ada juga Shereen yang harus memimpin divisi di bagian seni pertunjukan, atau Dilla yang bertanggungjawab atas berbagai cenderamata.

Berbagai macam drama juga menjadi bagian yang tidak kalah menonjol dalam film ini. Layaknya anggota di dalam suatu organisasi, Yohana dkk. juga kerap bertemu dengan masalah yang tentunya menuntut solusi. Mulai dari perselihan antaranggota karena berbagai macam kasus, termasuk perundungan, hingga masalah-masalah yang berhubungan dengan kebutuhan produksi. Namun demikian, dari sinilah rupanya segenap kru produksi dari Butterfly Pictures ingin menunjukkan bahwa dalam suatu organisasi, selalu ada aspek manajerial yang harus dikuasai.

Layaknya milenial yang dewasa ini selalu dipandang dekat dengan berbagai macam perangkat digital, film Anak Garuda juga menyuguhkan fenomena serupa. Hal itu terlihat jelas dari persona Robet yang bertanggungjawab atas konten digital maupun kebutuhan teknologi dan informasi (TI), yang di sisi lain juga mendukung kerja produksi teman-teman di divisi lainnya. Perosalan yang satu ini seakan memberi kesegaran dalam film, yang mana masa kelahirannya juga tak jauh dengan berbagai macam inovasi di bidang sociopreneur hingga bisnis rintisan (start up).

Film ini pada dasarnya dapat ditonton oleh segala usia. Hanya saja, ia sangat cocok untuk para remaja yang barang tentu masih dalam proses menuju dewasa atau sedang dalam masa pencarian jati diri. Anak Garuda memberikan begitu banyak contoh atau pesan kemandirian lewat sosok Koh Jul yang kerap memberikan wejangan kepada para siswa SPI yang tengah 'menapaki jalan'. Tak hanya memberikan wejangan, pria itu bahkan juga menguji Yohana dkk. secara langsung melalui berbagai macam kasus yang ditemui di lapangan.

Syuting Anak Garuda yang berlatar di dua tempat, Indonesia dan Prancis, dikonstruksi secara menarik oleh Fauzan layaknya sebuah gim petualangan yang terdiri dari beberapa level (tahapan).

Pada tahap pertama, ketika Yohana dkk. dapat menyelesaikan tugas dari Koh Yul untuk menjaga dan mengelola seluruh proses produksi SPI, mereka lantas mendapat hadiah liburan ke Prancis. Perjalanan mereka menuju ke Eropa itu, meskipun pada awalnya dianggap sebagai liburan, sebenarnya juga memiliki banyak tantangan mulai dari masalah kepemimpinan, egosentris tiap personal, sampai harapan yang gagal diwujudkan.

Anak Garuda kini tengah tayang di jaringan bioskop Tanah Air. Akhir cerita terkesan cukup 'ngambang', seperti sejumlah harapan dari beberapa sosok yang belum tuntas, atau subplot yang tampak sengaja 'tidak diselesaikan'. Namun demikian, hal ini barangkali menjadi strategi tersendiri bagi Yohana dan teman-teman di Butterfly Pictures untuk memancing rasa penasaran para penonton, agar menanti-nantikan lanjutan kisahnya sekuel Anak Garuda. (M-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More