Selasa 21 Januari 2020, 16:58 WIB

Polisi Ungkap Perdagangan Anak di Bawah Umur jadi Pekerja Seks

Sri Utami | Megapolitan
Polisi Ungkap Perdagangan Anak di Bawah Umur jadi Pekerja Seks

Medcom
Ilustrasi perdagangan manusia

 

POLDA Metro Jaya mengungkap tindak perdagangan manusia. Sebanyak enam pelaku diringkus beserta barang bukti, sementara 10 korban perdagangan anak sudah diserahkan ke Kementerian Sosial untuk diberikan trauma healing.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan tersangka D alias F dan TW mencari anak berusia 14-18 tahun melalui media sosial untuk dijadikan pekerja seks komersial.

"Pelaku memancingnya lewat media sosial. Caranya dengan diimingi kerja yang bagus lalu sesuai kesepakatan mereka ketemu, terus ditampung di tempat penampungan. Kami masih dalami apakah ada tindak kekerasan saat di tempat penampungan," kata Yusri, Selasa (21/1).

Kedua tersangka menjual anak di bawah umur tersebut kepada dua muncikari yakni R alias A dan T alias A senilai Rp750 ribu hingga Rp1,5 juta. Tersangka R merupakan pemilik kafe Kahyangan di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Kafe tersebut menjadi tempat anak di bawah umur bekerja melayani tamu.

"Yang kami baru ketahui sepuluh anak jadi korban. Tersangka mami ini yang memaksa anak-anak untuk melayani para tamu dengan bayaran Rp150 ribu," ucapnya.

Dari pembayaran tersebut, tersangka memberikan upah Rp60 ribu per anak. Uang tersebut akan dibayarkan setelah sang anak bekerja selama dua bulan dan minimal sepuluh kali melayani tamu dalam satu hari. 

"Jadi korban hanya terima uang Rp60 ribu, sisanya diambil maminya dan dibayarkan setelah dua bulan. Kalau tidak mencapai target maka kena denda lagi," tukasnya.

Baca juga: KPAI Minta Serius Tangani Korban Perdagangan Anak di Situbondo

Tidak hanya itu, para korban juga akan dikenakan denda Rp1,5 juta jika ingin keluar dari aktivitas tersebut. 

"Aktivitas ini sudah dua tahun berjalan dan omsetnya Rp2 miliar," imbuhnya. 

Kabag Binopsal Polda Metro Jaya AKBP Pujiyarto mengungkapkan tersangka menerapkan aturan yang keji terhadap korban. 

"Korban tidak boleh menstruasi dan tidak ada pemeriksaan kesehatan," ungkap Pujiyarto. 

Beberapa korban yang berasal dari berbagai daerah tersebut sudah terkena infeksi penyakit yang ditularkan dari aktivitas seksual.(OL-5)

Baca Juga

Dok MI

Bukannya Diam di Rumah, Warga Malah Tawuran di Tebet

👤Jufriansyah 🕔Kamis 02 April 2020, 00:29 WIB
Bosan tinggal di rumah selama pandemi korona bukan berarti harus...
Antara

Polri Usut 63 Kasus Hoaks Soal Covid-19

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Rabu 01 April 2020, 21:46 WIB
"Polri bakal terus melakukan patroli siber untuk mencegah beredarnya berita-berita hoaks di media sosial yang meresahkan dan menindak...
Antara/Aprilio Akbar

Kemenhub Sebut Surat Edaran BPTJ Bersifat Rekomendasi

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Rabu 01 April 2020, 21:14 WIB
Surat edaran tersebut bertujuan memberikan rekomendasi kepada daerah apabila sudah dikategorikan sebagai daerah yang diperkenankan untuk...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya