Selasa 21 Januari 2020, 16:44 WIB

Cegah Antraks, Gunungkidul Vaksinasi Ternak di Tiga Kecamatan

Agus Utantoro | Nusantara
Cegah Antraks, Gunungkidul Vaksinasi Ternak di Tiga Kecamatan

ANTARA
Petugas menyiapkan vaksin antraks di kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Jumat (17/1/2020)

 

SEBANYAK 11.616 ekor hewan ternak di Kecamatan Playen, Kecamatan Semanu dan Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Daerah Istimewa Yogyakarta mendapat vaksinasi dan pemberian antibiotik.

"Kami fokus pemberian vaksin dan pemberian antibiotik di tiga kecamatan yang terpapar antraks agar tidak menyebar luas," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul Bambang Wisnu Broto di Gunung Kidul, Selasa (21/1).

Pemberian antibiotik dibagi dalam dua zona. Yaitu zona merah dan zona kuning. Zona merah untuk Desa Gombang, Kecamatan Ponjong dengan pemberian vaksin kepada hewan ternak sapi sebanyak 579 ekor, dan kambing 1.458 ekor. Sedangkan zona kuning antara lain di Desa Sidorejo, Kecamatan Ponjong, dengan pemberian antibiotik dan vaksin terhadap 2.500 ekor sapi dan 2.000 ekor kambing. Kemudian di  Desa Dapayu, Kecamatan Semanu, diberikan vaksin untuk 335 ekor sapi, 803 ekor kambing.

Zona kuning berikutnya Desa Semanu dan Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu. Desa Semanu sebanyak 825 ekor sapi, dan 1.805 ekor kambing. Desa Ngeposari sebanyak 552 ekor sapi, dan 759 ekor kambing. Untuk pencegahan antraks, hewan ternak semula diberi antibiotik, dan dua minggu kemudian baru divaksin. Kemudian setelah 20 hari divaksin, hewan ternal boleh dibawa ke luar daerah.

Bambang mengatakan DPP juga akan membangun kolam pembersihan yang berisi disinfektan di dua pasar hewan besar, yakni Siyono dan Semanu. Harapannya dengan adanya kolam ini bisa meminimalisir penyebaran bakteri antraks dan penyakit hewan lainnya.  Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Gunung Kidul, Dewi Irawati mengatakan kondisi 27 warga positif antraks kini sudah mulai membaik. Adapun 27 warga yang kini masih dirawat di rumah sakit merupakan warga Gombang, Kecamatan Ponjong, wilayah endemik antraks.

"Mereka tidak diisolasi, karena penularan antraks tidak terjadi dari manusia ke manusia, tetapi dari hewan terpapar ke manusia," kata Dewi.

Hanya saja, mereka akan tetap dipantau hingga 2 x 60 hari sesuai dengan prosedur penanganan kesehatan.

baca juga: Awal 2020, Pembangunan Tol Pekanbaru-Padang Dipercepat

"Kenapa dua kali 60 hari atau 120 hari? Karena inkubasi kuman antraks itu masuk dan timbul gejala mulai dari 1 sampai 60 hari," tambah Dewi.

Menyinggung warga Semin yang terpapar antraks, Dewi mengaku belum mengetahuinya.

"Memang masuk laporan ada orang yang mengalami gejalan seperti terpapar antraks, masih kita lakukan penelusuran," pungkasnya. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More