Selasa 21 Januari 2020, 13:47 WIB

Sabu 70 Kg dari Malaysia Diselundupkan dengan Ikan Asin dan Kopi

Tri Subarkah | Politik dan Hukum
Sabu 70 Kg dari Malaysia Diselundupkan dengan Ikan Asin dan Kopi

MI/PIUS ERLANGGA
Karo Penmas Divisi Humas Polri Kombes Argo Yuwono (kanan) menjelaskan pengiriman narkoba jaringan internasional Malaysia-Sumatera-Jakarta.

 

KEPALA Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono mengungkap modus operandi yang digunakan dalam penyelundupan sabu seberat 70 kg. Jaringan sabu dari Malaysia-Sumatera-Jakarta tersebut menggunakan ikan asin dan kopi untuk mengelabui petugas.

Saat menangkap dua tersangka, yakni DN alias AH, 32, dan SB alias KB, 34, polisi mendapati tumpukan kopi dan ikan asin di dalam kardus yang berisi sabu.

"Ternyata isinya ada narkotika jenis sabu. Jadi ini modus mengangkut atau membawa narkotika dengan kopi dan ikan asin," kata Argo di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (21/1).

Menurut Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Kombes Krisno Halomoan Siregar, ikan asin dan kopi juga digunakan untuk menutupi barang haram tersebut dari Sumatera. Dari Malaysia, sabu seberat 70 kg itu diketahui dikirim melaui perairan Selat Sunda menuju Bengkalis.

Baca jugaKasus Pabrik Narkoba, 5 Tersangka Terancam Hukuman Mati

"Lalu dari Bagansiapiapi tujuan akhirnya adalah Jakarta. Kenapa ada kopi dan ikan? Dugaan kami itu untuk mengelabui mungkin pengecekan apakan dari Lampung atau setelah sampai Jawa di Banten," ungkap Krisno.

Dari hasil penangkapan kedua kurir tersebut, total barang bukti yang berhasil disita polisi adalah 70 kg sabu, dua kardus ikan asin, dan satu kardus kopi bubuk. Menurut Krisno, sabu-sabu tersebut nantinya akan diedarkan ke wilayah Jakarta.

Para tersangka dikenakan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (Tri/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More