Selasa 21 Januari 2020, 09:25 WIB

Harga Rumah Perlu Terjangkau untuk Milenial

Dero Iqbal Mahendra | Nusantara
Harga Rumah Perlu Terjangkau untuk Milenial

ANTARA/IGGOY EL FITRA
Rumah khusus nelayan yang baru selesai dibangun Kementerian PU-Pera di Pariaman, Sumatra Barat, Minggu (19/1)

 

PERSOALAN kebutuhan rumah masih menjadi masalah yang tak kunjung usai, terutama kaitannya dengan harga rumah yang belum dapat dijangkau masyarakat. Terlebih, persoalan harga bagi kalangan milenial menjadi salah satu pertimbangan mereka untuk memiliki rumah.

Terkait dengan hal itu, Wakil Sekretaris Jenderal DPP REI bidang Komunikasi, Promosi, dan Pameran Bambang Eka Jaya menyampaikan apabila melihat best practice di negara lain seperti Singapura yang mampu memberikan harga murah lantaran pemerintah menyubsidi langsung serta menjaga agar harga rumah terjangkau dengan ketentuan yang ketat.

“Berbeda dengan Indonesia, menjadi anomali karena rumah rakyat sebagai bisnis tersendiri yang mampu memberikan insentif serta kemudahan bagi pengusaha yang ingin mengembangkan perumahan rakyat,” terang Bambang kepada Media Indonesia, kemarin.

Namun, pengusaha menjadi sangat bergantung pada subsidi yang diberikan untuk dapat menekan harga rumah agar bisa terjangkau masyarakat kecil. Saat subsidi seperti fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) yang habis sebelum tahun berjalan prog­ram, program itu menjadi macet lantaran besaran dana tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan.

Di sisi lain, rumah tapak terjangkau juga tak dapat diadakan di Jakarta dan harus di pinggiran kota. Namun, agar rumah tersebut dapat memudahkan penghuninya, perlu didukung dengan akses dan infrastruktur yang mumpuni.

“Kuncinya aksesibilitas, khususnya jalur kereta api kalau bisa sehingga ada kepastian waktu perjalanan dari rumah ke tempat kerja. Begitu pula sebaliknya,” jelas Bambang.

Untuk itu, dia menyarankan, pemerintah harus memiliki land bank untuk pembuatan transportasi dan bekerja sama dengan pengembang rumah murah dengan harga yang sudah diatur dan zonasi yang sudah dikunci.

Bambang pun menyebutkan konsep apartemen sebetulnya cukup menarik bagi kalangan milenial. Terlebih untuk apartemen kelas menengah, khususnya yang berkonsep transit oriented development (TOD).

“Segmen itu masih banyak diminati end user ataupun pihak yang membeli untuk menggunakan unit mereka,” ujar Bambang.

Platform digital

Bambang menambahkan penggunaan platform digital juga dibutuhkan untuk mendekatkan milenial dengan sektor properti. Dengan kata lain, sektor properti harus bertransformasi di tengah era digital.

“Saat ini era milenial jadi market utama. Kaum milenial pendekatannya tentu lebih dengan marketing digital,” terang Bambang.

Seperti dikembangkan Rentfix sebagai perusahaan marketplace properti yang memfokuskan diri pada layanan penyewaan properti. Chief Executive Officer PT Real Estate Teknologi (Rentfix.com) Effendy Tanuwidjaja mengatakan Rentfix antara lain menyediakan layanan sewa properti bagi kalangan milenial, termasuk mereka yang baru menikah melalui platform digital.

“Harga sewa rumah yang ditawarkan pun terbilang terjangkau, mulai harga sewa rumah Rp600 ribu per minggu di Amirah House, Cibubur, dengan luas 150 meter persegi hingga sewa Rp2 juta per bulan di wilayah Cijantung, Jakarta Timur,” ujar dia.

Di sisi lain, BUMN properti seperti Perumnas pun berencana menyediakan rumah terjangkau bagi kalangan milenial yang dibanderol dengan harga Rp300 jutaan serta cicilan Rp2 jutaan. Salah satunya ada di Kemayoran, yakni Alonia Kemayoran, yang berada di lokasi strategis di tengah Kota Kemayoran, serta terintegrasi dengan Trans-Jakarta dan stasiun kereta api. (S-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More