Selasa 21 Januari 2020, 07:30 WIB

DWS Kurang Berfungsi, PDIP: Pemprov Jangan Hanya Hobi Beli Alat

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
DWS Kurang Berfungsi, PDIP: Pemprov Jangan Hanya Hobi Beli Alat

MI/ANDRI WIDIYANTO
Warga berjalan menembus banjir di kawasan perumahannya di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta.

 

KELUHAN warga soal minimnya peringatan dini banjir dari Disaster Warning System (DWS) sampai ke telinga Ketua Fraksi PDIP di DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono.

Ia pun menilai Pemprov DKI kurang maksimal dalam pemeliharaan dan pengoperasian alat.

Untuk itu, dalam pengadaan enam set DWS senilai Rp4,3 miliar pada tahun ini, Gembong mendesak Pemprov DKI agar juga memfungsikan maksimal alat DWS yang sudah ada.

"Kita kan hobinya beli. Tapi menggunakan alatnya malah nggak maksimal," kata Gembong saat dihubungi, Senin (20/1).

Baca juga: Revitalisasi Monas Picu Masalah

Pada 2019, sudah ada 14 DWS yang dipasang di 14 titik. DWS itu dipasang di antaranya di Ulujami dan Cipulir (Jakarta Selatan) yang menjadi DAS Kali Pesanggrahan, Bidara Cina dan Kampung Melayu (Jakarta Timur) yang menjadi DAS Kali Ciliwung, dan Rawa Buaya Jakarta Barat yang menjadi DAS Kali Mookervart.

"Ya kalau bisa yang sudah dibeli tahun lalu dioperasikan. Jadi yang enam set baru itu untuk menambah yang sudah ada. Bukan beli baru lantas yang lama mati," tegasnya.

Anggota Komisi A bidang pemerintahan dan perlindungan masyarakat itu juga menambahkan Badan Penanggulangan Bencana Daeragh (BPBD) DKI harus memaksimalkan peringatan dini melalui DWS agar warga bisa segera mengungsi sebelum banjir datang.

Sebelumnya, BPBD melalui Pusat Data dan Informasi Kebencanaan (PDIK) mengeposkan pengadaan alat DWS senilai Rp4,3 miliar tahun ini.

Total anggaran yang diposkan untuk nomenklatur ini senilai Rp4.362.501.441 dengan rincian Rp165 juta untuk pemeliharaan.

Sementara itu, sebesar Rp123.600.000 dibelanjakan untuk tenaga ahli programer S1 sebanyak 2 orang untuk 2 bulan senilai Rp14 juta, tenaga ahli programer D3/D4 2 orang untuk dua bulan senilai Rp10 juta, dan honor edukasi pemakaian alat dengan 8 narasumber untuk 8 kali pertemuan sebesar Rp89,6 juta.

Belanja yang terbesar adalah Rp4.073.901.441 untuk membangun satu stasiun ekspansi peringatan dini bencana transmisi Vhf Radio yang membutuhkan enam set alat senilai Rp3.122.391.373.

Untuk melengkapi stasiun itu, PDIK kemudian menganggarkan berbagai kelengkapannya seperti:

- Enam set tiang sebesar Rp 353.096.528,

- Enam set modifikasi software untuk Telementry dan Warning Console menggunakan tipe yang sudah ada dengan Amplifier 100W senilai Rp416.215.800,

- Enam set Coaxial arrester senilai Rp14.124.172,

- Enam 30W Horn speaker buatan lokal Rp7.062.086

- Enam Storage battery 20 Ah, 24V Rp70.618.918

- 3-element yagi antenna Rp90.392.564 (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More