Senin 20 Januari 2020, 15:55 WIB

Wisata Mengenang Irama Records, Label Rekaman Pertama Indonesia

Fathurrozak | Weekend
Wisata Mengenang Irama Records, Label Rekaman Pertama Indonesia

MI/ Fathurrozak
David Tarigan (kiri) arsiparis musik Irama Nusantara, menjelaskan sejarah Irama Records.

SABTU (18/1), menjelang siang sehabis hujan di Cikini, Jakarta Pusat, Media Indonesia menuju sebuah gedung yang berada di samping sekolah Percik (Perguruan Cikini). Gedung yang kini bertulis CCM itu, dulunya merupakan kantor dan dapur rekaman pertama di Indonesia, Irama Records.

Irama Records merupakan perusahaan rekaman pertama yang sepenuhnya milik orang Indonesia. Berdiri pada 1951, perusahaan ini sekaligus merupakan label rekaman yang pertama pada masa Indonesia merdeka.

Inisiatornya ialah seorang komodor Angkatan Udara, Sujoso Karsono. Mas Yos, sapaan akrabnya, merupakan kakak dari penyanyi Nien Lesmana. Mas Yos juga merupakan penerbang semasa revolusi yang terlibat saat Indonesia mengirim utusan ke India untuk bertemu Jawaharlal Nehru, untuk mendapat pengakuan kemerdekaan.

“Sosok Mas Yos sebagai pemilik, dia sosok yang visioner. Selalu membuat yang pertama. Label rilisan Indonesia pertama, label pertama yang punya pencetak piringan hitam, juga label rekaman stereo pertama itu pada tahun 1961. Dia juga yang mendirikan radio swasta pertama, Elshinta. Juga membuat radio fm pertama, Suara Irama Indah,” terang arsiparis musik Irama Nusantara David Tarigan, saat ikut jelajah sejarah bersama komunitas Ngopi Jakarta (NgoJak), yang bertajuk Pegangsaan; Rock ‘n Roll Anak Gedongan, pada Sabtu, (18/1).

Sampai bubar pada 1967, Irama Records punya peran penting bagi dunia musik populer Indonesia saat itu. Nama-nama besar musik Indonesia, juga pernah rekaman di studio Mas Yos. Mereka diantaranya adalah Nick Mamahit, Bubi Chen and His Fabulous Five.

“Irama juga punya peran dalam melahirkan album kompilasi penting, seperti album kompilasi Pasar Baru, lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud dalam kompilasi Balonku yang dinyanyikan dua orang, Adikarso dan Endi momon,” tambah Indra Pratama dari Ngopi Jakarta.

“Yang menarik dari studio (Irama) ini, terkenal dengan ceritanya yang selalu rekaman malam. Karena dekat dengan rel kereta, maka enggak pernah rekaman pada jam sibuk,” lanjut David soal Irama yang pada awalnya hanya merekam genre jazz.

Dick Tamimi Mengambil Koes Ploes

Irama merupakan label yang pertama kali merekam dan merilis album milik Koes Plus. Sejak Koes berdua, hingga berempat dengan formasi Koes Plus. Namun, saat Koes Plus dipenjara dan setelah keluar, Irama tidak mau lagi merekam karya-karya mereka. “Irama enggak berani lagi rekam Koes Plus. Karena Irama dekat dengan kebijakan Sukarno. Mari Bersuka Ria, Ganjang Malaysia, Paduka yang Mulia, itu yang merekam Irama,” ungkap David.

Ketika Koes Plus tidak lagi diterima Irama, Dick Tamimi, yang pernah jadi sound engineer di label Irama dan juga rekan Mas Yos di AU, menampung Koes Plus dalam label bentukannya, Mesra. Dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia karya Denny Sakrie, Dick Tamimi yang bernama lengkap Mohammad Sidik Tamimi ini mendirikan label Mesra miliknya pada 1954.

“Lalu lahir album To the So Called ‘the Guilties’ yang isinya protes terhadap pemerintah. Kenapa mereka dipenjara tanpa sebab. Album itu keluar pada 1967,” sebut David.

Meski menemukan jalurnya kembali bersama Mesra, Koes Plus kemudian justru berpindah ke Remaco Records, milik Eugenie Timothy. Dick Tamimi pun merasa kesal dengan industri musik Indonesia. Ia pun menutup labelnya pada 1975 sebagai puncak kekecewaannya pada industri.

“Dick Tamimi merupakan tokoh yang lumayan nyentrik. Dia seorang markonis di AU. Buat label rekaman. Namun ia tutup pada 1975. Dia merasa kesal dengan industri musik. Koes yang dia ambil dari Irama membuahkan tujuh album pertama bersama Mesra. Namun malah diambil Remaco. Itu jadi puncak kemarahan, dia pun menutup labelnya, dan membakar semua ketujuh master album Koes Plus," tutupnya. (M-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More