Senin 20 Januari 2020, 12:20 WIB

Setelah 100 Tahun, ITB Dipimpin Rektor Perempuan

Bayu Anggoro | Humaniora
Setelah 100 Tahun, ITB Dipimpin Rektor Perempuan

MI/Bayu Anggoro
Prof Reini Wirahadikusumah Ph.D, rektor perempuan pertama Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dilantik hari ini, Senin (20/1/2020).

 

REINI Wirahadikusumah resmi memimpin Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk periode 2020-2025. Profesor berusia 52 tahun ini menjadi perempuan pertama yang menakhodai perguruan tinggi tersebut. Pelantikan Reini dilakukan oleh Majelis Wali Amanat (MWA) ITB yang dipimpin Yani Panigoro, di aula barat ITB, Bandung, Senin (20/1).

"Saya menyatakan dengan sungguh-sungguh, bahwa saya akan setia dan taat kepada negara Republik Indonesia. Saya akan memegang sesuatu yang harus saya rahasiakan karena jabatan saya," demikian petikan ikrar sumpah jabatan  yang dibacakan Reini di depan MWA.

Dalam sambutannya, sarjana Teknik Sipil ITB yang lulus pada 1991 ini mengaku akan melanjutkan berbagai program yang telah dijalankan rektor sebelumnya, Kadarsah Suryadi.

"Saya siap dan akan senantiasa untuk memberi kinerja terbaik, seperti yang telah diteladankan rektor sebelumnya," kata dia.

Terlebih, selama ini menurutnya banyak capaian-capaian positif yang sudah diraih kampus yang sudah berusia 100 tahun ini. Namun, menurutnya dalam setiap generasi terjadi perubahan tantangan yang harus direspons secara kritis, kreatif, inovatif, integritas, dan berkedaulatan.

Oleh karena itu, dirinya mengaku sudah menyusun langkah-langkah tranformasi yang akan ditempuh untuk mewujudkan kemajuan ITB pada 2025 mendatang. Langkah tersebut di antaranya sistem tridharma yang memfasilitasi seluruh komponen civitas akademika, institusi yang memiliki reputasi kebangsaan, memiliki reputasi akademik yang terpandang dan setara dengan mitra-mitra internasional, lulusan yang berkualitas internasional, serta keberlanjutan pimpinan ITB yang siap bertransformasi.

Untuk mencapainya, menurut dia pihaknya sudah menyusun rencana induk pengembangan yang siap ditempuh selama lima tahun ke depan. Pertama, penataan struktur organisasi agar mampu bergerak dengan gesit. Kedua, peningkatan pendapatan melalui cara-cara kreatif dan inovatif. Ketiga, adopsi paradigma pendidikan 4.0 yang terhubung dalam
pembelajaran, dan perluasan pengalaman belajar. Keempat, penguatan sistem/fondasi ITB dengan penguatan budaya ilmiah yang unggul.

"Kelima, tidak kurang penting dari semua langkah lainnya adalah manajemen perubahan. Partisipasi dari seluruh unsur ITB adalah hal penting dalam transformasi ITB," katanya.

Saat disinggung dirinya sebagai perempuan pertama yang menjabat rektor ITB, menurut dia tidak ada hal yang luar biasa. Menurutnya, lelaki ataupun perempuan sama-sama memiliki keinginan yang luhur terhadap pendidikan.

"Wanita itu adalah komponen yang sama besarnya dengan laki-laki. Kita sama ingin berkontribusi yang sama besarnya," kata dia.

Menurutnya pun tidak ada kata terlambat meski rektor perempuan ITB baru ada setelah usia seabad.

"Tak pernah terlambat, setelah 100 tahun ada rektor perempuan. Ini sudah keputusan yang di atas.  InsyaAllah saya bisa menjalankan amanah," katanya.

baca juga: Grace Batubara Pastikan Kemensos Bantu yang Terdampak Bencana

Ketua MWA ITB, Yani Panigoro, berharap era baru ini membawa perubahan yang lebih baik lagi bagi kampus tersebut.

"Mari kita songsong era baru ITB dengan semangat dan keyakinan baru.  Semoga Allah SWT meridhoi," ujar Yani. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More