Minggu 19 Januari 2020, 07:40 WIB

UI Kukuhkan Dua Guru Besar Kedokteran

Ihfa Firdausya | Humaniora
UI Kukuhkan Dua Guru Besar Kedokteran

Wikipedia
Gedung FKIU.

 

UNIVERSITAS Indonesia (UI) mengukuhkan dua guru besar untuk Fakultas Kedokteran (FKUI). Keduanya ialah Profesor Dr dr Achmad Fauzi Kamal, SpOT(K) dengan kepakaran ortopedi dan Profesor dr Chaidir Arif Mochtar, SpU(K), PhD di bidang urologi.

Upacara pengukuhan guru besar tetap FKUI itu dipimpin Rektor UI, Profesor Ari Kuncoro, SE, MA, PhD di Aula lMERl FKUl Kampus Salemba, Jakarta, kemarin. Pada kesempatan itu, Fauzi menyampaikan pidato ilmiah berjudul Limb Salvage Surgery untuk Meningkatkan Fungsi Ekstremitas dan Psikologis Pasien Osteosarkoma pada Era Jaminan Kesehatan Nasional.

Osteosarkoma, terang Fauzi, ialah tumor ganas tulang primer nonhemopoelik yang paling sering ditemukan. Sebagai informasi, Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo telah menangani 219 pasien osteosarkoma selama 13 tahun (1995-2007) atau rata-rata sebanyak 17 pasien per tahun.

Menurutnya, hingga kini penyebab osteosarkoma belum diketahui. “Faktor genetik dan riwayat keluarga penderita osteosarkoma memiliki peranan terhadap timbulnya penyakit ini,” urainya.

Fauzi melanjutkan, masa Jamkesmas (2008-2014) dan JKN BJPS Kesehatan (2014 hingga sekarang) menjadi era yang luar biasa bagi pasien osteosarkoma. Pasalnya, pasien mendapatkan kemudahan dalam konsultasi, pemeriksaan laboratorium, radiologi, kemoterapi, dan LSS.

Sementara itu, Chaidir menyampaikan pidato ilmiah berjudul Perkembangan Pembedahan Minimal Invasif dalam Bidang Urologi di Indonesia: Tantangan dan Kesempatan pada Era Revolusi Industri 4.0. Dia memaprkan, teknik bedah terbuka dalam bidang urologi yang memiliki banyak kekurangan mulai digantikan dengan teknik pembedahan minimal invasif, yakni laparoskopi.

Namun, kata Chaidir, laparoskopi memiliki kurva pembelajaran yang lebih landai dan panjang dan selama waktu pembelajaran berbagai komplikasi dapat terjadi.

“Untuk mengatasi hal itu, dikembangkanlah teknik bedah robotik yang tidak hanya dapat meniru gerakan tangan ope­rator, tetapi juga memiliki banyak keuntungan lainnya, seperti menurunkan nyeri pascaoperasi, menurunkan lama waktu rawat pascaoperasi, dan menurunkan risiko infeksi,” pungkasnya. (Ifa/N-3)

Baca Juga

MI/Andri Widiyanto

Jokowi: 14 Ribu Orang Mudik Lebih Awal

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Senin 30 Maret 2020, 14:03 WIB
Pemudik yang berasal dari Jakarta dan wilayah sekitar berpotensi meningkatkan penyebaran virus...
ANTARA

Semprot Disinfektan ke Manusia Ternyata tak Efektif Basmi Virus

👤Atalya Puspa 🕔Senin 30 Maret 2020, 12:33 WIB
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam menilai penyemprotan disinfektan secara langsung ke tubuh manusia tidak...
Antara/Sigid Kurniawan

Presiden Minta Kepala Daerah Lebih Tegas Batasi Mudik

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Senin 30 Maret 2020, 12:29 WIB
Agar penyebaran covid-19 tidak semakin meluas, Presiden Joko Widodo meminta kepada daerah lebih tegas membatasi arus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya