Minggu 19 Januari 2020, 04:30 WIB

Menghidupkan Sanento Yuliman

Bus/M-4 | Weekend
Menghidupkan Sanento Yuliman

MI/BAGUS PRADANA
KRITIKUS SENI: Beberapa karya Sanento Yuliman Hadiwardoyo (1941-1992).

TIDAK ada seorang seniman pun yang meragukan kritik-kritik seni yang diutarakan Sanento Yuliman Hadiwardoyo (1941-1992). Sanento merupakan manusia yang serbabisa, ia dikenal sebagai seorang pelukis, kartunis, bahkan penyair. Akan tetapi, nama Sanento Yuliman akan selalu terkenang dalam sejarah ­Indonesia sebagai seorang kritikus seni, berjejer dengan nama-nama hebat, seperti S Sudjojono dan Baharuddin Marasutan.

Ketertarikannya terhadap kritik seni mulai muncul saat ia mengenyam pendidikan tinggi di Seni Rupa ITB (1960-1968). Bila rekan satu almamaternya lulus dengan sebuah karya lukis, Sanento punya cara sendiri untuk mendapatkan gelar sarjananya. Ia menulis sebuah karya skripsi yang berjudul Beberapa Masalah dalam Kritik Seni Lukis di Indonesia (1968), karya tersebut kemudian diganjar Anugerah Hamid Bouchouareb dari Seni Rupa ITB dan menjadi salah satu karya akademis terbaik di ITB saat itu. Semenjak lulus, Sanento langsung diangkat menjadi staf pengajar di kampus almamaternya.

Baginya seni rupa selalu membutuhkan medium dari luar dirinya untuk sekadar berefleksi atau mencari konfirmasi, pada titik ini mungkin kritik seni rupa agaknya telah menyita seluruh perhatian Sanento. Ia tidak melihat kritik sebagai sebuah cara untuk mencemooh karya se­seorang, tetapi lebih sebagai sebuah upaya untuk membuka cakrawala baru dalam proses pencarian bentuk seni itu sendiri. Kritikus seni seha­rusnya mengantarkan para penikmat seni untuk memasuki penghayatan artistik dan tugas itu benar-benar Sanento laksanakan dengan baik. Sebagai seorang penulis ia ialah jenis orang sangat berhati-hati, ia tidak akan menulis sesuatu yang tidak ia pahami. Bahkan, dalam menulis kritik seni, ia lebih senang dengan gaya tulisan yang mengakomodasi segala kemungkin­an, terbuka terhadap hal-hal baru, dan tidak seenaknya menghakimi.

Sanento Yuliman merupakan penulis yang sangat produktif, ia pernah menulis beberapa esai penting yang berisi pandangan-pandangannya tentang seni rupa di Indonesia, di antaranya Mencari Indonesia dalam Seni Lukis (1969), Perspektif Baru (1975), Apresiasi Seni Lukis: Jika Cakrawala Diperluas (1981), Dua Seni Rupa (1984), Estetika yang Mera­bunkan (1987), Kemana Seni Lukis Kita? (1990), dan Medan Seni Lukis Kita: Permasalahan (1990).

Pada 1979, ia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi doktoralnya di Prancis, tepatnya di Ecole Des Hautes en Siences Sociales (EHESS) dan mengangkat sosok S Sudjojono sebagai karya disertasi­nya, yang ia beri judul Asal Mula Seni Lukis Kontemporer Indonesia: Peran S Sudjojono di bawah bimbingan Danys Lombard.

Sanento Yuliman juga pernah mendapatkan Anugerah Adam Malik pada 1984 yang mengukuhkannya sebagai kritikus seni rupa terbaik di Indonesia. Ia juga sempat terlibat dalam pengembangan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) pada 1990. Pada 14 Mei 1992, Senanto Yuliman wafat akibat pendarahan di otak yang dialaminya.

Meskipun 28 tahun yang lalu Sanento telah berpulang, semangatnya tetap masih memancar hingga kini, hidup dalam corak dan bentuk lukisan yang didiskusikan. Sanento dengan tulisan-tulisannya turut menghidupkan dunia seni rupa di Indonesia.  

Kumpulan arsip

Bertempat di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengusung sebuah pameran arsip untuk mengenang kembali sang kritikus seni rupa, Sanento Yuliman. Pameran bertajuk Mengingat-ingat Sanento Yuliman ini memamerkan kumpulan arsip dan karya Sanento, baik lukisan, karikatur, maupun esai-esainya yang terdapat di mingguan Mahasiswa Indonesia (1966), koran Mimbar Demokrasi (1967), dan berbagai majalah lainnya. Sebagai sebuah pameran arsip, Pameran Mengingat-ingat Sanento Yuliman memiliki durasi waktu yang cukup lama. Pameran ini digelar pada 12 Desember 2019 hingga 15 Januari 2020.

Hendro Wiyanto selaku kurator pameran tersebut menyebutkan bahwa sosok ‘maestro’ yang karya-karya ia sajikan itu merupakan seniman yang lengkap. “Kita tahu bahwa Sanento sudah lama berkarier kan sebagai kritikus seni rupa, esais, penyair, dan lain sebagainya sehingga arsipnya banyak banget karena itu kita tampilkan disini,” terang Hendro Wiyanto kepada Media Indonesia, Rabu (15/1). (Bus/M-4)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More