Sabtu 18 Januari 2020, 03:00 WIB

Robet Betesda: Beda Nasib dan Takdir

Gas/M-4 | Weekend
Robet Betesda: Beda Nasib dan Takdir

MI/PIUS ERLANGGA
Robet Betesda

SELAIN Sayyida dan Yohana, alumnnus SPI yang punya kisah hidup inspiratif ialah Robet Betesda. Lelaki asal Pacitan, Jawa Timur, itu, dulunya pernah terjerumus dalam kenakalan. Ia pernah terlibat tawuran, mengonsumsi narkoba, minuman keras, bahkan pernah mencuri hingga keluarganya dihakimi warga desa.

Namun, tidak ada yang menyangka bahwa hidup Robet kini telah berubah 180 derajat. Setelah masuk SPI, ia kemudian berhasil membuktikan diri dengan menjadi pemimpin dua perusahaan dan mengepalai Divisi Multimedia, Transformer Center, SPI.

Robet berasal dari keluarga kurang mampu. Ekonominya cukup tertekan. Ayahnya seorang penjual cilok, sementara ibunya sebagai ibu rumah tangga. Karena merasa tidak pernah mendapatkan kebahagiaan di rumah, kala itu Robet kemudian berusaha mencari kebahagiaan di luar hingga terjerumus ke lubang hitam.

Pada masa awal masuk SPI pun, Robet mengatakan bahwa dirinya masih sangat kacau sebab keberangkatannya ke Batu kala itu juga didukung dengan niat atau motivasi yang kurang baik. Ia ­ingin jauh dari orangtua agar lebih bebas untuk mencoba segala hal yang ia inginkan.

“Setelah sampai di sana ternyata jebakan Batman karena sekolahnya asrama. Apanya yang bebas ini? Tidak pernah terjadi. Tapi dari situ saya juga bersyukur karena berubah, meskipun saya juga pernah hampir dikeluarkan karena membawa nilai-nilai yang buruk dari luar,” tuturnya.

Dihakimi warga

Menurut Robet, selama ini orang-orang di SPI sangat sabar dan terbuka dengan semua orang. Atas dasar sikap seperti itulah Robet ­akhirnya benar-benar berubah. Tak hanya itu, ia saat ini juga mengingat pengalaman orangtuanya yang dihakimi warga karena perbuatan buruknya. Oleh karena itulah, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bersekolah yang ia ­miliki agar tumbuh ­menjadi ­pribadi yang semakin sukses.

Robet mengaku bahwa semangat yang diberikan Koh Jul benar-benar mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Pada suatu saat, pendiri SPI itu memberikan motivasi yang sangat inspiratif. “Koh Jul pada waktu itu bilang, kita harus bisa bedakan nasib dan takdir. Takdir adalah otoritas Tuhan. Nasib itu ada di tanganmu sendiri. Kalau kamu lahir di tengah-tengah keluarga miskin, kaya, etnik ­Tionghoa atau pribumi, kamu tidak bisa memilih. Itu semua Tuhan yang berikan. Tetapi kalau kamu lahir miskin dan mati tetap miskin, goblokmu dewe,” tuturnya, meniru gaya ceramah Koh Jul sambil tertawa. (Gas/M-4)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More