Jumat 17 Januari 2020, 17:30 WIB

Belum Ada Vaksin, Masyarakat Diminta Waspadai Pneumonia Tiongkok

Ihfa Firdausya | Humaniora
Belum Ada Vaksin, Masyarakat Diminta Waspadai Pneumonia Tiongkok

AFP/Wang Zhao
Pada Jumat (3/1), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melaporkan merebaknya pnemonia di Tiongkok.

 

KASUS pneumonia (infeksi/peradangan akut di jaringan paru) berat dari jenis baru Coronavirus merebak di Kota Wuhan, Tiongkok, awal tahun ini. Kasus serupa dilaporkan juga terjadi di Singapura, Seoul, Thailand dan Hongkong.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyarankan masyarakat untuk waspada terhadap gejala-gejala yang berpotensi menyebabkan pneumonia di antaranya demam, lemas, batuk kering dan sesak atau kesulitan bernapas. Pasalnya, belum ada vaksin untuk pneumonia yang terjadi di Wuhan.

Menurut dr. Erlina Burhan dari Pokja Infeksi Pengurus Pusat PDPI, pneumonia di Tiongkok disebabkan oleh virus bernama coronavirus yang juga menjadi pemicu penyakit pernapasan lain seperti Severe Acute Respiratory Infection (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Namun, coronavirus yang ada pada pneumonia Tiongkok adalah jenis baru dari virus tersebut.

"Ini bukan korona virus yang menyebabkan SARS atau MERS sebelumnya, tapi katanya korona virus yang lebih baru lagi. Jadi virus ini terus bermutasi," kata Erlina di Rumah PDPI, Jakarta Timur, Jumat (17/1).

Oleh karena itu, vaksin pneumonia yang ada seperti Vaksi Pneumokokus, Vaksi Pneumokokus PPSV23 dan Vaksin Haemophilus influenzae tyle B (Hib) tidak bisa digunakan untuk menangkal pneumonia baru dari Wuhan.

"Vaksin itu kan tujuannya supaya seseorang punya imunitas terhadap kuman atau virus tertentu. Kalau suatu produk hanya dikhususkan untuk pneumokokus, maka dia akan memberikan imunitas terhadap pneumokokus. Kalau kumannya lain ya enggak (bisa)," ungkapnya.

"Yang sekarang ini, coronavirus baru, yang diidentifikasi sebagai penyebab pneumonia Wuhan ini belum ada vaksinnya. Jadi gak boleh juga masyarakat membabi-buta ke mana-mana minta vaksin," imbuhnya.

PDPI juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik.

"Apakah semua orang yang batuk, demam, sesak itu langsung panik? Tidak juga. Ini kan kasusnya masih terbatas. Apalagi WHO mengatakan kasus ini belum terbukti terjadi penularan dari manusia ke manusia," tuturnya.

"Yang ada baru laporan bahwa orang-orang yang dirawat di Wuhan ini sebagian besar bekerja di fish market yang juga ada unggas di situ. Jadi belum tahu ini dari ikan atau unggasnya," sambung Erlina.

Baca juga: Jepang Waspada Virus Pneumonia

Terpenting, masyarakat harus tetap memperhatikan kesehatan dengan melakukan kebersihan tangan rutin, terutama sebelum memegang mulut, hidung dan mata, serta setelah memegang instalasi publik.

Selain itu, penting untuk mencuci tangan dengan air dan sabun cair serta bilas setidaknya 20 detik.

"Cuci dengan air dan keringkan dengan handuk atau kertas sekali pakai. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, dapat menggunakan alkohol 70-80%," jelasnya.

Dia juga menyarankan untuk menutup mulut dan hidung dengan tisu ketika bersin atau batuk.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum PDPI dr. Agus Dwi Susanto.

"Jadi yang terpenting masyarakat paham, jangan termakan pemasaran harus vaksin. (Itu) Tidak memproteksi terhadap pneumonia Wuhan," ujarnya.

Agus juga menyebut Pneumonia Wuhan ini masuk new emerging desease.

"Ini baru, WHO juga masih menyelidiki," pungkasnya.(OL-5)

Baca Juga

Dok BenihBaik.com

Usaha Mikro Kamojang Berdaya Bersama Pertamina untuk Bangkit

👤Retno Hemawati 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 17:30 WIB
Usai mengikuti pelatihan, 30 usaha mikro ini akan dinyatakan lulus pelatihan untuk selanjutnya mendapat kesempatan belajar terkait citra...
Ilustrasi

Media Berperan Penting Membentuk Karakter Pemuda

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 14:53 WIB
‘’Penting sekali peran media membentuk karakter pemuda,’’ kata CEO Media Group Mirdal Akib dalam webinar daring...
Antara

Momen Sumpah Pemuda : Media Diajak Turut Akhiri Kelaparan Balita

👤Eni Kartinah 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 14:52 WIB
Survei FOI (Foodbank of Indonesia) yang dilaksanakan pada Agustus 2020 di 14 kota mengungkapkan bahwa  27% balita ke sekolah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya