Jumat 17 Januari 2020, 14:19 WIB

Dua Kerajaan Baru di Jateng Berbeda Tujuan dan Karakter

Akhmad Safuan | Nusantara
Dua Kerajaan Baru di Jateng Berbeda Tujuan dan Karakter

MI/Akhmad Safuan
Salah satu bangunan di Kerajaan Jipang, Cepu, Blora

 

FENOMENA munculnya kerajaan menarik perhatian akhir-akhir ini. Setelah dihebohkan kemunculan Kerajaan Agung Sejagat (KAS) di Kabupaten Purworejo, publik kembali dibangkitkan ingatannya dengan Kerajaan Jipang di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Dua kerajaan di Jawa Tengah (KAS dan Jipang) ini masih menjadi sorotan publik, namun ternyata keduanya berbeda karakteristik, orientasi dan tujuan dalam pendirian kerajaan tersebut.

Kerajaan Agung Sejagat yang berdiri di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo, dengan raja Sinuhun Toto Santoso Hadiningrat dan Permsisuri Kanjeng Ratu Dyah Gitarja (Fanni Aminadia), kini harus berurusan dengan penegak hukum.

Kedua pucuk pimpinan KAS yang mengangkat 13 menteri itu ditangkap dan ditahan kepolisian karena dugaan pelanggaran hukum atas berdirinya kerajaan dengan 450 pengikut. Proses hukum terhadap raja dan ratu tersebut kini sedang berjalan.

Kepala Polda Jawa Tengah Irjen Rycko Amelza Dahniel mengungkapkan Totok Santoso dan Dyah Gitarja alias Fanni Aminadia dikenai Pasal 378 KUHP tentang Penipuan serta Pasal 14 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang berita Bohong yang Berimbas pada Keonaran dan membuat keresahan warga.

Hal berbeda dengan Kerajaan Jipang di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, yang sudah berdiri sejak 2014. Kerajaan dengan Raja Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Surowiyoto tidak terusik hingga kini.

Baca juga:  Heboh Kerajaan Agung Sejagat, Ganjar Minta Diuji secara Ilmiah

Kerajaan Jipang di Jawa memang pernah ada. Dalam sejarah, kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Aryo Penangsang, keturunan Raden Patah.

Raja Jipang PRA Barik Barliyan Surowiyoto mengatakan orientasi dan tujuan pendirian tidak lebih dari memelihara dan melestarikan kebudayaan peninggalan leluhur, berupa kearifan lokal, tradisi dan budaya yang ada di masyarakat Cepu.

"Berdirinya kembali Keraton Jipang bukan untuk membuat sistem pemerintahan baru atau merugikan masyarakat seperti di Purworejo," kata Barik Berlian Surowijoto.

Kerajaan Jipang yang sempat melakukan kirab budaya pada tahun 2016, lanjut Barik, mendapat dukungan dari Pemkab Blora karena tidak memiliki tujuan politik tetapi lebih pada kebudayaan untuk pariwisata.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku sudah melakukan penyelidikan, namun kedua kerajaan yang berdiri tersebut berbeda orientasi, tujuan dan karakternya.

Kerajaan Jipang di Blora, kata Ganjar, lebih pada kebudayaan dan untuk tujuan pariwisata, tetapi KAS tujuannya lebih pada unsur penipuan.

"Kalau KAS cukup menakutkan dan penipuan, maka harus berhadapan dengan hukum," ungkap Ganjar.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More